Serius, Saya Nyampah!

Belakangan ini ternyata saya banyak membuat catatan-catatan kecil. Pokoknya, saya “nyampah”. Habis, catatan itu saya buat di sebarang kertas, kertas-kertas, yang sebagian adalah gratisan, sebab saya peroleh dari beberapa pertemuan. Biasanya, (sekarang, beda dengan dulu) kalau datang ke sebuah pertemuan, saya memperoleh buku/notes. Nah, di situ notes-notes itu saya koleksi, menumpuk kayak gudang kertas/notes. Namun belakangan saya akhirnya mengeluarkan koleksi-koleksi saya itu, saya pakai untuk membuat catatan-catatan. Sering (atau kadang) saya merasa catatan itu penting. Namun, seberapa pentingkah, toh saya hanya mengonggokkan. Maka, “dari gudang” notes koleksi itu telah saya isi dengan beragam coretan. (Apakah coretan itu sampah? Ataukah notesnya yang sampah? Kalaupun saya buang, toh isinya hanya tulisan?)

Namun, ada juga notes, yang nasibnya benar-benar saya buat jadi sampah. Pernah saya menengok, melihat lagi catatan-catatan yang saya buat di dalamnya. Namun, saya malah itu hanya mengisi lagi otak saya, mengangkat lagi kenangan dari masa lalu, dan ketika saya bandingkan dengan masa kini, ternyata kenyataan atau isinya jauh berbeda, maka akhirnya, notes-notes itu saya buang ke keranjang sampah. Isinya? Ah, nonsense! Omong kosong.

Notes, dan catatan-catatan tangan itu, sepertinya kelihatan begitu tradisional sekali ya? Mungkin Anda bakal berkata nyinyir. Ini orang, gaptek betul. Bikin catatan masih menggunakan notes. Ah, saya juga bisa sepakat, tetapi bisa juga tidak sepakat. Penggunaan notes memang amat tradisional, apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Ada banyak gawai, pilihan perangkat elektronik, yang nyaris sudah terasa sulit lepas dengan keseharian saya, atau mungkin keseharian Anda juga. Dulu, saya jarang sekali menenteng ponsel, ehm… maksud saya, saya dulu termasuk penganut paham konservatif. Dosen-dosen saya mengenalkan “istilah” ini. Konservatif.

Pertama, seingat saya dosen yang berkata itu bercerita tentang dosennya. Dosen yang bercerita ini sekolah di Inggris, sedangkan dosen yang ia gunjingkan bersekolah di Amerika, atau Kanada, entah. Ia menyebut, bahwa dosen yang ia sebutkan, konservatif, sebab, ia tidak meneteng ponsel. Waktu itu, ponsel belum menjamur seperti di sini, hanya orang tertentu saja yang memiliki.

Bagaimanakah seorang dosen, tanpa menggunakan ponsel, mengajar di depan mahasiswanya? Apakah, gengsinya tidak turun? Mungkin ini bedanya pendidikan yang ada di perguruan tinggi yang kebetelulan saya kuliah, atau berkesempatan mengenyam pendidikan di situ. Nyaris, gawai-gawai, atau perangkat lunak, pengolah data secara elektronik, perlu kami pelajari secara mandiri. Matakuliah, “teknologi ***” misalnya, tidaklah mempelajari teknologi-nya. Barang-barang seperti itu, mungkin hanya dapat diperoleh dengan mengimpor. Membeli dari vendor. Riset, atau penelitian saya, juga relatif jauh dari teknologi, atau bersentuhan dengan teknologi. Mungkin, hanya saat membuat laporan saja, saya bersinggungan dengan teknologi. Akibatnya, riset atau penelitian itu mungkin juga sekadar teronggok saja di perpustakaan, tak terlalu dilirik pabrik, vendor, atau untuk pengembangan teknologi kita sendiri.

Kalaupun saya perlu berancang-ancang melakukan penelitian, memang paling murah adalah menulis buku. Menulis, sekarang hanya membutuhkan biaya pulsa, atau kalau perlu mencetak, hanya butuh kertas, dan sekali lagi, kalau tidak laku, maka sekali lagi, saya “nyampah”.

Namun, dari menyampah itu, ada kepuasan tersendiri juga. Karena saya menyadari bahwa omong kosong, atau nonsense, dapat kita pelajari, dari hal-hal kecil, ketika saya membuat catatan, atau tulisan-tulisan pendek. Tulisan, yang barangkali tidak ada nilai ilmiahnya, dan akhirnya, kertas yang kita coret-coret itu kemudian kita robek, remas, genggam sampai jadi bola-bola kertas, dan kita lempar ke keranjang sampah.

Saya, rupanya, merasa juga bukan hanya sekadar tulisan saya, yang sampah, saya amati ada buku bacaan saya, saya pikir juga tidak terlalu berguna, karena isinya, saya timbang-timbang, juga penuh dengan sampah: omong kosong. Itu pun, saya buang saja ke keranjang sampah!

Dan ketika saya sadar, ternyata saya cukup banyak, atau terlalu banyak menulis atau bekerja dengan komputer, dan ternyata, begitu saya timbang-timbang lagi, apa yang saya lakukan, atau saya kerjakan, atau saya tulis, atau yang saya biarkan tersimpan, file-file, foto, dokumen, ataupun paparan, di perangkat keras penyimpan di komputer saya ternyata juga sekadar omong kosong, nonsense, maka betapa menyenangkannya, ketika semua file itu kita lenyapkan. Format the disk? Yes.

Saya, apakah menurut Anda sedang nyampah? Ah, salah Anda saja mengapa membaca tulisan sampah saya. Sepertinya, saya tidak lagi menjadi penganut konservatisme, sebab mungkin, seperti Anda, saya kini kerap meneteng ponsel, gawai kecil nancanggih, dan bergelut dengan gelontoran meme-meme dalam jejaring dunia maya ini.

Sampah? Ah, dasar omong kosong!

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: