Rawon

Sejauh ini kita sampai pada penghujung bulan. Penduduk di negara di belahan lain Bumi, barangkali merayakan Hellowen (atau Halloween?), tetapi di sini, kami mendapat info ada pentas kelompok musik dengan nama itu.

Lupakan sebentar tentang Helloween, kembali kepada wordpress ini, saya merasa naskah pada “blog” dengan domain ‘rilis tulisan’ wordpress ini mulai memperoleh sejumlah perhatian (merujuk kepada hitungan rekapitulasi pencarian data yang ada), khususnya berkait dengan pakaian adat jawa. Sayangnya, untuk naskah tersebut saya sekadar menulis sebagai ingatan saja, tanpa bermaksud menyajikannya sebagai suatu kajian ataupun pendalaman. Namun begitu, dari sisi yang lain, pendekatan menulis yang saya lakukan tersebut dalam hemat saya dapat disejajarkan juga sebagai metode penyajian data dari sumber primer (lepas dari kajian literatur sebagai patron baku dari buku primbon atau petuah-petuah pada era silam). Artinya, bahwa pada orang jawa pada masa kini, perhatian tentang seni atau tradisi mengenakan pakaian adat, mengalami perubahan-perubahan, terutama karena minimnya pembelajaran dari sumber bakunya. Biasanya, orang jawa melakukan adaptasi-adaptasi sebagaimana tersirat dari tulisan tentang pakaian adat jawa. (Lihat Catatan tentang busana adat jawa)

Sungguhpun ada banyak adaptasi, sepertinya ada banyak pula lainnya  yang menaruh perhatian kepada atau menyimak patron aslinya. Gejala ini setidaknya dapat kita amati dari berbagai unggahan di media Internet seperti youtube. (Silakan melakukan pencarian dengan Google Search dengan kata kunci seperti “cara mengenakan jarik”, dsb.)

Nah, perihal makanan tradisional, sepertinya tidak banyak yang merujuk kepada wordpress ini. Mungkin tidak populer. Namun begitu, perlu juga saya tulis di sini sebagai catatan.

Bulan ini saya mampir ke sebuah warung, lumayan, (desainnya mendekati semi-resto, masih dalam tahap konstruksi), yang menawarkan menu rawon. Apa itu rawon?

Rawon merupakan menu lauk berkuah, dengan isian potongan daging sapi dan kecambah. Namun, berbeda pada resto ini, potongan daging sapinya disajikan terpisah dalam bentuk “empal”. Mengenai racikan bumbunya, mungkin lain kali saya akan mencari tahu.

Salam.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: