Old Custom

Bentoel

Ganyong senthe suweg kleresedhe, merupakan beberapa kata yang muncul dalam percakapan kami. Tahu artinya? Saya? Maaf, itu sudah punah dari peradaban saya. Mengenai tanaman-tanaman tersebut, saya mungkin tidak akan mampu bila harus ditugasi mengidentifikasinya. Meskipun begitu, saya akan mencoba menelusuri jejak-jejak dari nama-nama tumbuhan yang nyaris punah itu. Tentu, punah dalam pengertian, hilang dari pengenalan kami, sebab peradaban kami sudah banyak berubah dan berbeda dengan para pinisepuh adisepuh itu, yang mengenal makanan-makanan penyintas, dalam melintas jaman, perang, perjuangan, dan kemerdekaan. Kalau kini, realitas perang dalam bentuk perdagangan dengan penetrasi pasokan barang, yang pengaruhnya begitu kuat. Hal ini sungguh berimbas dalam bentuk “punahnya” pengenalan peradaban makanan diversifikasi pangan itu. Kini yang kami kenal sudah barang tentu bukan umbi, tumbuhan, atau gelaran makanan penyintas itu, melainkan justru berbagai varian jenis mie instan, dari segi mewah, kemasan, merek, dan pangsa pasarnya yang menembus pelosok-pelosok desa sampai yang terpencil sekalipun.

Ganyong dalam kamus bausastra jawa merupakan bentuk kata dengan penjelasan “sebangsa” tanaman seperti garut, midra, puspanyidra. Maaf, penjelasan ini pun tidak lebih mampu memberi pemahaman. Namun, mungkin dengan nama latin Canna edulis, nanti saya akan dapat merunut lebih jauh.

Sekarang senthe. Fonemnya dapat saya tulis sebagai /sénthé/. Masih dari kamus yang sama, sénthé adalah jenis tumbuhan kimpul. Secara khusus, Bausastra Jawa menyebutkan bahwa daun atau gagang daunnya dapat menyebabkan gatal-gatal.

Suweg, yaitu araning tetuwuhan sing bendholané oyod énak dipangan; bangsa pala kependhem. Memang sayang sekali, kamus ini tidak menampilkan gambar tumbuhan yang dimaksud. Namun begitu, kita bisa memahami bahwa suweg merupakan tanaman sejenis umbi-umbian.

Bagaimana dengan kleresedhe? Konon, ini banyak dipakai sebagai tanaman untuk pakan ternak. Fonem atau bunyi ucapan nya adalah /klérésédhé/. Beberapa orang membandingkan tanaman ini dengan manding, lamtoro, tetapi juga bukan mandhing atau lamtoro. Itu menurut penuturan para sesepuh itu, kita mengandaikan memang bahwa penuturan ini menyiratkan mereka bisa membedakan kleresedhe dengan manding, atau mandhing dengan lamtoro. Hanya sayang, kok saya tidak menemukan kata kleresedhe ini di kamus. Mandhing, juga rupa-rupanya tidak dicatat dalam lema. Agak aneh ini.

Mungkin, kleresedhe boleh jadi, sama dengan lamtoro. Semacam versi lokal, dengan versi nasional.

Lamtoro, lema ini rupa-rupanya cukup dikenal sehingga masuk dalam Kamus besar bahasa Indonesia, (mungkin karena pada masa kepemimpinan Soeharto, lamtoro menjadi strategi pertanian pada zamannya). Lamtoro menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pohon perdu yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau dan pelindung berbagai tanaman, seperti kopi, cokelat, vanili. Lamtoro dikenal juga sebagai petai cina. Petai cina sepertinya istilah cukup galib. Bukan petai, tetapi semacam petai, berarti perdu yang memiliki buah dalam kelompok polong-polongan. Lamtoro, dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, memilik nama latin, Leucaena glauca.

Hal yang hampir serupa adalah lenyapnya penggunaan istilah penginapan, losmen, atau inn. Meski ada satu-dua penginapan yang bertahan dengan nama inn atau losmen, tampaknya orang berlomba-lomba untuk memilih menggunakan istilah hotel. Pemilihan kata “hotel” tampaknya merupakan kecenderungan orang dewasa ini, tentu dengan maksud untuk meningkatkan prestis, tetapi juga untuk menarik minat orang, bahwa itu adalah tempat inap, penginapan. Kata “hotel” lebih populer, ketimbang istilah losmen. Istilah hotel juga memberi kesan eksklusif, meski sebetulnya, istilah yang tepat, barangkali justru losmen. Sebab, losmen lebih merujuk sebagai tempat bermalam, berteduh, atau tempat inap sementara, barang satu-dua, atau lima hari. Karena toh, fasilitas losmen terbatas, tidak sekelas hotel. Namun, orang memilih istilah hotel sebagai tujuan menguatkan brand, bahwa ia berkelas, padahal kelas itu merujuk kepada pelayanan. Pelayanan yang baik, berujung kepada kriteria kelas.

Kemudian ada pula istilah wisma. Pertama kali saya teringat kepada wisma tamu, sebuah tempat bermalam untuk para pejabat atau tamu di sekolah asrama kami pada masa sekolah dahulu. Wisma, yang kami maksud ini, setara dengan sebuah homestay. Sebuah kamar dengan ruang istirahat yang longgar, relatif leluasa, halaman bertaman, dan ada hall, ruang pertemuan yang juga cukup luas.

Homestay ini sebetulnya dapat diterapkan dalam lingkungan kampus. (Wisma tamu, itu juga dalam lingkunagan kampus, sekolah berasrama.)

Losmen atau kamar kos, setara wisma tamu, saya jumpai ketika saya studi di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada. Waktu itu, saya ditampung oleh seorang warga negara Amerika, ia memiliki kediaman di daerah Sleman, tempat saya dapat menyelesaikan tigas akhir saya, menjelang kelulusan, yang pada waktu itu sudah di-deadline oleh ketua jurusan/rektor. Sebuah kamar dengan banyak jendela, dan menghadap ke arah taman. Dengan ruang tamu, mengarah ke kamar-kamar, serta pencahayaan alami yang baik, dengan kayu-kayu, yang menunjang kenyamanan, serta ada sebuah kolam berikut ikan-ikan.

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: