Rujak

IMG_20150720_150238

Tahu bedanya rujak dengan lutis?

Saya sering tidak pikir, not to have deep concern in this, … sayangnya saat berwisata kuliner itu, terpaksa saya mencoba tahu definisinya. “Riset seharga sekian ribu”.

Pada waktu itu saya lelah, kehausan, dan lapar. Lapar barangkali tidak terlalu saya rasakan. Saya lama-lama biasa mengabaikan rasa lapar. Buntut dari “ahimsa”.

Pertunjukan berlangsung lewat tengah hari. Sebelumnya saya sudah ketinggalan pertunjukan yang berlangsung pada jam yang lebih pagi. Terpaksa, saya menunggu sembari berjalan berkeliling di taman agung kompleks bukit jimbaran itu.

Bunyi tetabuhan mengundang kembali untuk mendekat ke gedung pertunjukan. Saya rupanya telat lagi. Syukurnya ada es krim di tangan yang sempat saya sambar. Biar telat, saya makan saja es krimnya. Tapi ini bukan hal bijaksana. Jika Anda ingin nonton pertunjukan, menurut saya, ya nonton saja. Jangan sekali-sekali sambil makan atau minum. Ingat, yang ingin Anda nikmati adalah pertunjukannya. Tontonannya. Jadi, nikmati saja tontonannya.

Abadikanlah semua yang Anda cerap itu. Tidak usah memotret. Anda tidak menikmati tontonan jika Anda memotret.

Jadi, saya duduk manis. Kelelahan dan membiarkan alunan tetabuhan menghipnotis saya. Monggo, silakan. You are allowed to bring the spirit by your music.

Laku yang saya lakukan ini membuahkan hasil. Lapar bisa saya lupakan. Dan kenangan tertinggal dalam ingatan. Foto? Ah, syukurlah di akhir acara, pembawa acara memberi kesempatan audiens untuk mengambil foto usai pertunjukan. Saya memilih selfie. Tanpa tongkat narsis (tongsis), bidikan objeknya kurang tercakup semua. Itu juga gara-gara saya memilih sebagai individual traveller. Foto juga individual, ya model selfie itu. Ah, toh itu juga niat saya.

Ada lima tarian. Kesempatan kali ini rupa-rupanya penabuh gamelannya dari kelompok yang berbeda dari penabuh yang sesi pagi. Lakonnya? Hmmm….

Kita akan membicarakan jika Anda menontonnya.

Sekarang, apa beda rujak dengan lutis?

Silakan nikmati foto yang saya pampang di atas. Itu adalah rujak yang saya pesan usai menonton pertunjukan. (Yang di bagian muka adalah nasi timbel.)

Rujak berisi bermacam buah-buahan. Saya pikir, rujak itu semacam minuman. Tetapi rupanya saya keliru. Saat saya pesan nasi timbel dan rujak, dengan bayangan di benak, rujak adalah minuman, ternyata waiter-nya malah menerima pesanan saya itu dengan lanjutan pertanyaan, “Minumnya apa?”

Rujak dapat menggambarkan bentuk sajian makanan anekarasa. Ini adalah seni tradisi kuliner paling nyentrik sebab menyajikan pemaduan rasa makanan asam, manis, pedas, asin, sekaligus tawar!

Lantas, seperti apa lutis? Ah, seingat saya penyajian buah dengan mengerat daging buah dalam bentuk potongan-potongan itu, namanya adalah lutis.

Dulu, kami menguleg gula jawa, mencairkannya dengan belimbing atau menambahkannya dengan sedikit air. Prosesi itu dikenal sebagai lutisan, sebuah acara membuat lutis.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: