Sate

IMG_20150717_195424

Apa beda sate ayam dengan sate babi? Maaf….

Ini mengenai masakan. Memang, dari segi jamuan dapat berbeda khususnya untuk mereka yang tidak memakan daging babi. Sate secara khusus merupakan bentuk seni memasak dengan menggunakan lidi tusuk kepada sejumlah potongan daging lalu memanggangnya di atas bara. Sate menjadi bentuk sajian makanan daging yang khas Indonesia.

Sebagai bentuk mengolah masakan, sate bisa menggunakan bumbu beragam. Beruntung, saya mencoba turut berwisata kuliner. Saya memesan sate babi.

Sebelumnya, pernah saya mencicipi masakan semacam gulai atau tongseng berbahan daging ini. Seingat saya, kami pernah menerima dari tempat kakak saya dahulu bekerja. Lalu saya juga mencoba belum lama berselang di Jogja. Keluarga batak memasaknya. Memang, bukan sate. Sangsang.

Bumbu merupakan resep yang mungkin menjadi rahasia masakan itu. Setiap rasa mewakili racikan bumbu yang berbeda.

Saat saya mencoba sate babi itu, saya berwisata di Bali. Mas penjual menawarkan dua pilihan: sate babi bumbu luar atau sate babi bumbu dalam. Nah, berhubung ini kuliner yang pertama, saya coba saja bumbu luar. Rupanya, ini bumbu pedas.

Hampir sama dengan yang lain, pedas merupakan rasa dari cabai. Tapi kadar tiap bumbu antarsatu dengan yang lain berbeda. Biasanya, jika masakan itu pedas, saya mandi peluh. Barangkali karena itu, lama saya menghindari masakan pedas. Juga, karena semasa kuliah dulu kerap mengeluh sakit perut. Saran dokter, biasanya, jangan makan lombok, cabai, atau yang pedas-pedas.

Entah, mungkin karena belakangan ada rekan kantor menantang untuk jangan menghindari cabai, maka terpaksalah saya jajal lagi. Berkeringat, ya. Malah, peluh bercucuran. Ya. Menyekanya itu yang saya malu. Karena peluh saya banyak.

Nah, kembali soal apa beda sate babi dengan sate ayam … Hmmm… Sepertinya saya malah tertantang untuk bikin masakan sendiri. Saya belum tahu betul apa bedanya.

Bumbu-lah yang saya pikir membedakannya.

Usai bersantap separuh lebih pesanan sate babi itu, saya mengenang rasa asin di sela-sela pedas yang “keras” itu. Manis, mungkin ada juga. Tapi jangan menganalogikan manis dalam bumbu pedas ini seperti bumbu gudeg.

Sembari menghayati rasa masakan, saya juga merenungkan tentang hidup. Saya melamunkan mengenai penjual sate itu…. Juga mengenai saya. Saya berdoa dalam hati. Untuk mereka, pula berdoa buat diri pribadi. Akankah saya seperti mereka.

Dalam lamunan itu, saya mencium bau lengkuas yang samar-samar menguar…

Oh. Kiranya saya mendapat rahmat-Mu, ya Sang Pencipta.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: