Hobbit

Ah, sepertinya ini adalah tulisan saya yang kedua yang mengupas tentang Hobbit. Kalau dalam tulisan saya yang pertama, saya mengulas bukunya, sekarang saya ingin berbagi kepada Anda tentang filmnya. Tentang alurnya, tentang kisahnya.

Memang, sudah banyak pemerhati film yang berkomentar di media sosial, baik itu fans Tolkien yang membaca bukunya maupun para penggemar film pada umumnya. Sekali peristiwa saya membaca salah satunya (hanya entah di media sosial apa saya lupa). Namun begitu, izinkanlah saya ikut berkomentar, nimbrung bicara. Tentu dalam bahasa saya bahasa Indonesia (toh itu adalah bahasa yang ada di negeri saya). Tidak dalam bahasa Kaum Elves, atau bahasa Para Penggembala Pohon, Ent dan Entwives, atau bahasa kaum Rohan atau Rohirim. Ini adalah bahasa kami: bahasa yang muncul belakangan yang secara tak sengaja menyebar dalam bahasa perdagangan. Perkenalkan, negeri kami adalah sebuah negeri kepulauan di seberang lautan.

Pertama, izinkanlah saya bercerita: saya mengenal buku Hobbit dari sebuah perpustakaan di kota saya. Mestinya, itu adalah buku terjemahan dari Buku Merah Bilbo. Namun buku itu memang tidak bersampul merah, buku itu bersampul hijau dengan gambar ilustrasi naga Smaug meringkuk di segunung harta di istana kurcaci.

Buku itu menarik minat saya. Pertama, mungkin karena buku itu bercerita tentang kisah-kisah petualangan, kurcaci, peri, penyihir, dan hobbit. Ah, apa itu hobbit, … rabbit …, mungkin iya. Tetapi, ini hobbit. Hobbit, spesies baru yang kelak saya ketahui dikupas panjang dalam buku “Bilbo” berikutnya yang direvisi “Frodo Baggins” dalam buku merah.

Tolkien yang awalnya hendak menyajikan Hobbit sebagai bentuk bacaan anak, tetapi malah mengembangkannya menjadi buku bacaan dewasa. Mungkin tidak sengaja. Meski saya membacanya sebagai kisah yang dapat dicerna beragam pembaca. Saya menyukainya.

Memang jika dibadingkan dengan buku “The Lord of The Rings”, Hobbit tidak memperdalam nama-nama tokohnya dengan sebutan yang rumit, cukup Bilbo, Gandalf, Thorin, Gimli, Oin, dan seterusnya. Mudah didengar, terkesan jenaka, tetapi menjadi kisah yang melegenda.

Saya tertarik membaca nama-nama detailnya dalam buku trilogi berikutnya, Gandalf The Grey tetapi yang juga disebut Mithrandir, Legolas yang seingat saya belum muncul di Hobbit, tetapi Elrond-lah yang tampil sebagai pemilik “rumah singgah” Rumah Ramah yang Terakhir, tetapi juga Rumah Ramah yang Pertama.

Membicarakan tentang filmnya, peri agung di Mirkwood memiliki nama, yang dalam buku Hobbit tidak dimunculkan. Mungkin karena pertemuan itu kurang menyenangkan bagi Bilbo, sehingga ia sengaja tidak mencantumkannya. Bukankah mereka, rombongan kurcaci diperlakukan sebagai tawanan di istana penguasa Mirkwood itu? Barangkali itu juga, alasan-alasan Thorin menyebut bahwa perjanjian mereka telah dilanggar, persekutuan mereka dikhianati. Rasanya pantas, raja Mirkwood itu tidak disebutkan namanya.

Kisah The Lord of The Rings, yang terlebih dulu difilmkan tampaknya membawa pengaruh kepada film Hobbit. Film ini “terpaksa” harus menerangkan awal, siapa-mengapa, kenapa-bagaimana, untuk menghubungkan kisah Hobbit dengan kisah the Lord of The Rings.

Tolkien sebagaimana dalam rujukan-rujukan tulisannya sepertinya juga mengalami langkah yang sama. Meski berbeda alur pengerjaannya, Tolkien menulis Hobbit baru kemudian berpikir mengembangkannya menjadi suatu trilogi, si pembuat film malah menampilkan dari arah yang berbeda, ia memfilmkan the Lord of the Rings lebih dulu baru menyusul belakangan film the Hobbit.

Jika dari sisi kualitas dan kisahnya, saya melihat film Hobbit jauh lebih bagus dan matang dalam penyajian. Setidaknya, karena film ini diketengahkan dalam tiga babak, tiga sekuel, An Unexpected Journey, The Desolation of Smaug, dan The Battle of Five Armies. Dengan mengacu kepada satu buku, dan menjadikannya sekuel, maka tontonan film ini menjadi semakin kental dalam bercerita, tidak seperti film The Lord of The Rings yang alur waktunya serasa begitu cepat.

Kalau dalam film The Lord of The Rings, ada bagian-bagian buku yang justru tidak tampil, maka sebaliknya dalam the Hobbit, ada penokohan tambahan yang muncul, kisah Legolas atau Tauriel, kisah ini menarik. Justru dari sudut pandang ini malah menjadi jeli tentang pandangan kaum Elf sendiri, mereka juga bertutur mengenai sejarah yang mereka alami. Bukan hanya hobbit, Pergi dan Kembali, yang ditulis oleh Bilbo Baggins sebagai referensi, tetapi juga ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan kaum Elf diketengahkan sebagai referensi.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: