Pengujung Tahun

Sampailah kita di pengujung tahun. Penghujung ataukah pengujung?

Izinkan saya untuk tidak membuka kamus, dan tidak berusaha mencarinya. Izinkan saya untuk menulis. Ini akhir tahun, akhir yang melelahkan, dan mungkin akhir semangat melakukan pencarian. Banyak yang berubah selama perjalanan di tahun ini, tetapi secara pribadi, ini merupakan tahun yang menyusahkan, penuh dengan intrik.

Penuh dengan intrik? Izinkan saya untuk menuliskannya demikian. Bagaimanapun ini blog saya, yang secara pribadi memang saya khususkan bersifat pribadi.

Akhir tahun ini, saya membaca ringkasan laporan blog saya dari wordpress. Saya menyimak kilasan karya-karya saya. Wujudnya indah, berupa kembang api yang meluncur ke udara untuk setiap satu karya saya yang saya publikasikan.

Ada ringkasan bahwa ada bagian blog saya yang katakanlah paling banyak dibaca, atau paling banyak diklik, begitulah setidaknya. Temanya tentang budaya. Ya, budaya. Saya memang awalnya tidak memfokuskan blog ini pada satu tema tertentu. Awalnya adalah saya tertarik menuls. Itu sudah. Menuangkan gagasan, menarik orang membaca, dan seterusnya. Awalnya, mau menulis tentang teknologi atau sains atau matematika atau semacamnya, tetapi kayaknya orang susah baca yang begini-beginian. Temanya terlalu berat. Namun, kalau menulis budaya, kayaknya hampir semua orang bisa bercerita.

Blog ini awalnya juga ambisi. Ambisi bersaing dengan blog tetangga di BlogSpot. Yang penulisnya, dulu adalah kawan saya, setidaknya begitu dulu; tetapi juga pesaing saya. Dan sepertinya ia sudah sukses, karena belakangan saya intip, sudah jarang tulisannya tayang. Mungkin itu artinya, karyanya telah berharga. Artinya: tulisannya dimuat dalam karya-karya yang sejajar penulis-penulis dunia, masyhur tercetak dalam eksemplar-eksemplar kertas yang mampir di toko-toko buku. Begitu prediksi saya. Tetapi mungkin juga ia sudah sibuk mengasuh keluarganya yang sesungguhnya. Keluarga asli, yang tidak virtual, yang maya di dunia laman-laman internet, yang sekarang tampaknya saya justru terjerembab di dalamnya. (sedih :/)

Akhir tahun. Mungkin itulah kenapa saya sebut ini akhir tahun yang melelahkan, penuh satir. (Ah, satir itu apa artinya sih?)

Saya, beranjak tua. Beranjak tidak beranjak dari pijakan atau lompatan yang saya lakukan. Mungkin hilang, tetapi hanya tinggal tulisan ini saja yang bakalan tinggal. Tinggal, selama masih bisa dibaca orang, tinggal selama masih ada yang mencarinya. Tinggal, selama google atau wordpress tidak menutupnya. Tinggal sebelum tenggelam ditelan oleh orang-orang yang lebih muda, yang punya semangat baru, yang punya gagasan-gagasan baru, ide-ide segar, keberanian, kekuatan, dan kehebatan-kehebatan lain lagi. TUa dan sendirian, itu … menakutkan. (Bah!)

Saya mau menulis budaya? Hmm… mungkin. Tetapi, saya tidak hendak menjadikan blog ini publish publicly. Mungkin, dari mulut ke mulut tersiarnya, barangkali ya. Karena memang ada satu-dua orang bertanya kepada saya: apakah saya mempunyai blog? Yaaa, saya musti bilang apa. Saya memang punya blog dan terpaksa saya tunjukkan padanya tulisan-tulisan saya. Pamer …. (begitulah).

Menyimak ada yang “mencari” itu suatu kepuasan tersendiri. Setidaknya, saya menjadi merasa ada orang lain yang butuh saya.

Namun, blog ini awalnya sifatnya kan pribadi. Anonim. Dalam arti, saya menyebut diri dengan suatu nama pena. Saya tidak menyampaikan terang-terangan. Yah, karena awalnya kami bersaing dengan orang yang saya sebut kawan saya itu. Tetapi sepertinya dengan kekalahan saya dalam persaingan itu, blog ini kehilang ruh-nya.

Di awal-awal lahirnya blog ini, tulisan-tulisan saya adalah karya-karya simbolik yang metaforik. Haha… itu orang ketika jatuh cinta biasanya kayaknya bakal jadi begitu: Saya menjadi sastrawan. Itu adalah tema persaingan merak yang mencoba memikat pasangannya.

Tetapi dari situ saya juga memang berkenalan dengan roman-roman sastra. Saya jadi melahap tetralogy buru, membaca karya Pram, dan jatuh hati membaca novel. Begitulah, saya kemudian menjadi sosok diam, dengan benak yang suka berangan-angan.

Saya sampai kepada pengujung tahun. Ini tahun yang sedih dan muram. Tahun yang tidak menyenangkan. semoga pada tahun baru mendatang saya menemukan kesenangan atau sebentuk kebahagiaan.

Itu kalau kebahagiaan memang ada. Karena ada kutipan amsal: di dalam tawa orang pun bisa menangis.

Ah, sudahlah. Saya akhiri dengan sedih dan susah hati.

Salam.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: