Exodus

Sudahkah Anda menonton film Exodus? Atau mungkin sudah membaca resensinya?

Banyak hal menarik dalam film ini. Misalkan saja tentang interpretasi sang sutradara terhadap naskah rujukan. Memang, saya kemudian memfokuskan perhatian kepada hal ini karena sebelumnya telah membaca resensi film tersebut dari harian umum surat kabar nasional.

Exodus merupakan film yang menceritakan Kisah Musa. Dalam makna harfiah, Exodus berarti Keluaran. Disebut “Keluaran” karena kisah ini menuturkan peristiwa pembebasan orang-orang Israel dari tanah perbudakan di Negeri Mesir.

Ada sudut pandang cerita yang menarik ketika Musa berhasil memimpin bangsanya dari negeri Mesir. Ketika di gunung dan menuliskan hukum, ia bercakap-cakap dengan sosok anak-anak. Anak-anak itu berkata kepada Musa, dengan menulis hukum itu, itu berarti ia tak akan dibutuhkan lagi.

Dalam konteks masa kini, pesan tersebut memiliki makna yang mendalam terkait dengan kepemimpinan. Pada masa itu tergambarkan bahwa figur seorang pemimpin melekat erat kepada sosok pribadi. Sosok ini diperlukan sebagai seorang yang kata-katanya didengarkan, diikuti, dan diperlukan. Ucapan seorang pemimpin adalah hukum yang dituruti oleh segenap bangsa yang dipimpinnya. Hal ini juga tampak dalam gambaran Firaun Mesir yang dikelilingi oleh orang-orang cerdik cendekia. Mereka ini duduk semeja dengan para pembesar dan menyampaikan pandangan-pandangan mengenai bermacam-macam hal yang perlu menjadi pertimbangan raja.

Musa yang tampil sebagai pemimpin Israel, awalnya digambarkan sebagai seorang jenderal yang tumbuh dan besar dari pendidikan bangsa Mesir. Ia juga duduk dalam bagian dewan penasihat istana. Sebagai bagian dari anggota dewan pertimbangan, ia juga dapat berbeda pendapat dengan penasihat spiritual istana. Keberadaannya sebagai seorang Ibrani itulah yang tampaknya mendasari perbedaan dirinya dengan pembesar-pembesar Mesir lainnya, termasuk terhadap anak Firaun yang berkuasa pada waktu itu. Cara pandangnya lebih merdeka, toleran kepada tradisi, tetapi tidak meninggalkan semangat modernnya di tengah tumbuh berkembangnya negara Mesir.

Pertemuannya dengan Nun, mendekatkannya kembali kepada akar bangsanya. Darah Ibrani yang mengalir di tubuhnya, terbukti sebagai warisan yang mengikat kuat di tengah-tengah dilema harus hidup sebagai orang asing. Ia dan bangsa Israel lainnya merupakan bangsa asing di negeri Mesir. Keberuntungan yang ia peroleh, belakangan digugat oleh teman dekatnya sendiri, yang adalah juga anak firaun yang berkuasa. Ia mengalami dibuang, bahkan diburu untuk dihukum mati hanya karena alasan dia seorang Ibrani.

Memimpin bangsa Israel menjadi tantangan tersendiri. Ia yang mengenyam pendidikan tinggi di Mesir, ternyata masih tidak mudah untuk mengurus bangsanya. Secara struktur sosial, jika dibandingkan dengan bangsa Mesir, bangsa Israel relatif terbelakang. Latar belakang Musa yang berpendidikan tinggi dan biasa bergaul dengan bangsa Mesir, sepertinya malah menjadi batu sandungan ketika harus bergaul dengan bangsa Israel. Setidaknya ini tergambar di dalam film ini ketika bagaimana mereka harus berjuang mati-matian dalam mengupayakan kemerdekaan dari perbudakan. “Jubah jenderal” yang semula sudah tidak ia kenakan di tempatnya mengungsi, terpaksa digunakan kembali. Ia juga harus berteriak dan membentak-bentak manakala mengatur barisan orang-orang sipil yang keluar dari negeri Mesir.

Karena itulah “Tuhan” yang tampil dalam wujud semacam suara murni anak-anak, berkata kepada Musa, “Hukum yang kamu tulis itu mungkin akan meniadakan dirimu. Mereka mungkin tidak akan lagi membutuhkanmu. Kau mungkin harus siap-siap memilih: antara pensiun dini atau siap-siap sakit hati selamanya.” Suara murni anak-anak mewakili jeritan pedih Musa yang letih dan kesal, sebab, kala ia sendirian berkontemplasi  dan berefleksi di puncak gunung untuk memikirkan arah dan perkembangan bangsa Israel kelak di kemudian hari, teman-teman dan kawan seperjuangannya justru menggelar pesta pora dan dansa bersama patung lembu emas jauh di bawah sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: