Desperated

Belakangan ini banyak tekanan mendera. Tentu dari kiri-kanan, tetangga depan belakang. Mengenai berjalan dalam sendirian. Kita dikucilkan, didiamkan, dibiarkan. Hidup menjadi seakan kosong atau entah apa lagi. Kita menjadi tidak bisa menulis atau kebebasan kita menjadi dibatasi.

Tetapi mungkin memang demikian kehidupan ini. Kita berjuang, menentang, menerabas, merebut  kesadaran, menghilangkan orang atau kenangan, sebagai bentuk persaingan kita untuk tetap hidup dan mempertahankan hidup, selama masih bisa di dunia.

Tidak ada janji yang harus kita merasa bersalah untuk digenapi. Hidup harus berjalan apa adanya, biarkan ia menggelinding, menggelincir, baik itu terasa semu, enak, tidak enak, karena toh kita dihadapkan kepada pilihan.

Kita, musti berdamai, dengan apa yang tidak kita suka. Kita tidak tahu mungkin itu adalah dogma yang dipancarkan kepada kita, yang kemudian menyatu dalam diri kita. Kebebasan mungkin adalah semu, karena kita harus meniadakan yang lain-lain agar kita dapat merebut apa yang kita sebut kekuasaan. Kekuasaan untuk menguasai jalan pikiran orang, menggerakkan orang sesuka kita, menjerumuskan, dan mungkin kalau perlu menghancurkan: menikam, dalam bentuk sebuah pengkhianatan. Karena toh, kita ingin mempertahankan hidup: menjaga api, yang kita sadari adalah sebuah bentuk kebenaran yang hanya kita sadari di dalam diri.

Tetapi, apa juga itu kebenaran? Orang-orang lain juga mengklaim dirinya benar. Jumlahnya, katanya lebih banyak. Jadi, merekalah yang benar, kata mereka. Karena itu mereka berpakaian begini, karena merekalah yang menganggap diri paling benar.

Jika demikian, memang perang tidak bisa dihindarkan. Kita harus saling membinasakan untuk mempertahankan apa yang kita percaya paling benar: Inilah persaingan. Persaingan untuk mempertahankan DNA kita di pelosok negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: