Hari Ketujuh

Saya teringat kembali kepada tulisan-tulisan saya yang terdahulu.

Dahulu, saya pernah menulis dalam wordpress ini tentang kisah “Dia Sudah Punya Anak” adalah periode tulisan ketika saya bekerja sebagai editor buku di penerbit buku di Yogyakarta. Tulisan itu berkisah tentang percakapan saya dengan seorang perempuan yang bekerja sebagai sekretaris editor di divisi buku rohani. Mengenai dia, saya sempat menaruh hati. Mungkin karena dia cukup cantik dalam pandangan saya. Meski, belakangan kemudian menurut teman saya yang satu divisi, ia kemudian menikah, dan tidak bekerja lagi di penerbit buku tersebut. Saya memang tidak berjumpa lagi dengannya, atau melihatnya ketika acara-acara pagi mendengarkan pembacaan nats Kitab Suci (Alkitab) yang menjadi renungan pagi sebelum kami mengawali aktivitas kami dalam bekerja.

“Dia Sudah Punya Anak” menggambarkan kisah tentang teman dari divisi itu yang menikah sekitar bulan Oktober tahun itu. Saya dan sekretaris editor buku rohani itu bertemu ketika mencuci sendok makan siang. (Kami pada saat itu punya kebiasaan makan bersama di ruang besar tengah, tetapi berbekal sendok masing-masing. Jadi, selesai makan, yang kami cuci adalah sendok, sedangkan piring dan perabot makan lainnya diambil kembali oleh petugas dapur.) Makan bersama saat itu, memang dikelompokkan sendiri-sendiri, divisi buku umum dalam kelompok sendiri, divisi buku rohani dalam kelompok sendiri, dan seterusnya. Nah, sekretaris itu cukup mencolok (barangkali) karena dia keturunan Cina. (Maaf, menyampaikan ini.) Saya memberanikan diri membuka percakapan dengannya kala kami bertemu dalam acara “mencuci sendok”.

Acara berlanjut, saya lalu menyempatkan diri dalam jam istirahat menemuinya di ruang kerja editor buku rohani tersebut. Alasannya, pinjam buku lah…. Dengan begitu, saya bisa berjumpa dan bercakap-cakap dengannya. Orang lain saya rasa tahu juga maksud saya (hahaha). Sayangnya kadang saya kerap diinterupsi oleh rekan saya yang lain (yang jadi tema tulisan “Dia Sudah Punya Anak” itu). Jadi, obrolan saya dengan si cewek jadi tertangguhkan.

Beberapa waktu berselang, ada perekrutan karyawan baru. Ia mengisi sebagai editor juga di divisi yang sama. Maka, mulailah hati saya gundah gulana (mungkin begitulah gambarannya menurut sahibul hikayat). Saya merasa tersaingi. Pertama, saya beda ruangan, sementara dia masih dalam ruangan yang sama. Dia juga tampan. Saya mengakuinya. Dan dia … bisa dikatakan “sastrawan”. Maka, sekitar waktu itu saya “bersaing”. Dia memiliki blog di situs internet yang kabarnya dia isi dengan tulisan/buah karyanya setiap sebulan sekali. Saya pun terdorong untuk aktif membuat tulisan. Saya kemudian melahirkan beberapa karya antara lain berjudul “Adam dan Hawa”. Saya rasa ini adalah karya saya yang terindah dari hasil perenungan saya kala itu. Memang, ini menjadi terkesan berbeda dari kisah Kitab Suci yang ada dalam Alkitab, mungkin dapat disebut saya berusaha “mengkontekstualisasikan” dan bukan maksud saya mengubah cerita yang ada, tetapi berusaha melihat kisah dari sudut-sudut pandang yang lain. Saya toh manusia.

Dalam kisah itu ada perenungan tentang “tangga surga”, yaitu tempat Yakub bermimpi bertemu dengan malaikat yang naik-turun ke Surga, dalam perjalanannya menuju rumah pamannya, Laban, tempat ia bertemu dengan Rahel. Juga, soal pedang dan memanah, yang muncul barangkali dari perenungan tentang Esau, kakak Yakub yang dalam kisah Alkitab, suka berburu.

Lalu bagaimana tentang kisah si cowok yang menjadi “saingan” saya itu? Ia juga muncul dalam karya tulis saya yang berjudul “The Lord of The Ring”. Waktu itu, saya selesai makan siang, duduk-duduk melamun, dan ia melintas di depan saya. “Ia berjalan kembali melalui jalan yang sama. Mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap bibirnya yang merah darah. Sekilas, suatu pantulan cahaya kuning keemasan memantul dari sela-sela jarinya.” Rupanya, ia kemudian bertunangan dengan rekan dari divisi pemasaran, yang kemudian hari mereka menikah. Cincin itu adalah cincin pertunangannya, yang saya lihat memantul karena terterpa cahaya saat ia mengusap bibirnya dengan sapu tangan. Mengenai nama tunangannya, atau yang sekarang istrinya, juga sempat mengisi cerita dalam tulisan saya yang berjudul “Solstis” baru-baru ini. Nama itu pun pernah muncul dalam karya saya yang berjudul “Renungan” yang terbit pada 1 Juni 2012. Nama bulan yang menjadi namanya, barangkali juga terserap dari tanggal lahir rekan saya yang juga editor buku umum yang pernah seruang kerja dengan saya.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (Kejadian 1:31, TB-LAI)

Catatan: Judul “Hari Ketujuh diambilkan dari tanggal penulisan, yaitu 7 Februari 2014” menurut waktu di Indonesia.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: