Sabda

Langit-dan-Gunung

supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

(Yohanes 14 : 13, TB – LAI)

Hari Sabtu, awal bulan ini.

Saya bertemu dengan seseorang yang sepertinya wajahnya saya kenal. Saya menyapanya dengan menyebut tempatnya bekerja. Saya terkejut karena sepertinya kata-kata saya sungguh mengena. Dia sejenak terdiam. Mungkin, semestinya saya tidak menanyakannya. Namun ia menjawab juga. Meski sepertinya terasa enggan menyampaikan, ia menerangkan, ya, ia bekerja di sana. Dan ia mengetahui nama saya. Ini yang saya kaget. Ada orang yang tahu nama saya.

Lisan dan tulisan.

Pikiran orang dapat dituangkan dengan cara lisan maupun tulisan. Misal seseorang yang tengah mencari berita, melakukan wawancara dengan narasumber. Hal-hal yang diucapkan oleh narasumber tersebut tentu saja berupa hal lisan. Tetapi oleh orang yang mencari berita tersebut, hal yang lisan itu dialihkan menjadi tulisan.

Bisa ada perbedaan antara yang lisan dengan yang tulisan. Dalam suatu bahasa lisan, bisa saja yang dimaksud adalah sindiran. Kadang hal ini sulit dituangkan dalam suatu bahasa tulisan. Tetapi orang yang bercakap dengan sumber lisan, bisa saja menangkapnya sebagai sesuatu menurut persepsinya. Mungkin ia menangkap nada emosi, marah, sedih, datar, menyindir, mengejek, bergurau, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan yang disampaikan oleh narasumber.

Sabda, dalam pengertian yang biasa, dapat berarti ucapan lisan. Tetapi dalam pengertian yang tidak biasa, sabda dapat juga berarti: ucapan yang mempunyai makna. Pengertian yang demikian timbul karena konotasi kata sabda itu sendiri yang jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya, kalau digunakan dalam suatu kalimat, kata sabda disandingkan dengan kedudukan raja atau penguasa. Sebagai contoh, Baginda menyampaikan sabda. Bahkan dalam literatur Kristiani, kata sabda dipakai untuk padanan kata Logos. (Coba simak Injil Yohanes 1 dalam bahasa Indonesia sehari-hari.)

Dalam bahasa Jawa ataupun bahasa Sanskerta, sabda dapat berarti suara. Suara berarti bunyi. Bunyi dapat berarti pesan lisan yang kemudian ditangkap indera pendengar. Tetapi pesan lisan ini tidak berhenti di situ saja. Ia kemudian direkam atau ditulis dalam benak si pendengar. Dalam tahap ini, yang lisan itu pun berwujud pula dalam bentuk yang tulisan.

Sabda sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita, dan kita sudah melihat keagungan-Nya. Keagungan itu diterima-Nya sebagai Anak tunggal Bapa. Melalui Dia kita melihat Allah dan kasih-Nya kepada kita.

(Yohanes 1:14, LAI – Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: