Sekolah

Plaosan

Pikirku, “Aku ini telah menjadi orang penting dan arif, jauh lebih arif daripada semua orang yang memerintah di Yerusalem sebelum aku. Aku mengumpulkan banyak pengetahuan dan ilmu.” Maka aku bertekad untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan dan kebodohan, antara kebijaksanaan dan kedunguan. Tetapi ternyata aku ini seperti mengejar angin saja. Sebab semakin banyak hikmat kita, semakin banyak pula kecemasan kita. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin banyak pula kesusahan kita.

 (Pengkhotbah 1:16-18, Alkitab dalam bahasa Indonesia Sehari-hari)

Kami mengobrol di luar, di gang sempit di sebuah bangsal rumah sakit. Ia menceritakan tentang usahanya mencarikan sekolah anaknya yang naik ke SMP. NEM anaknya waktu itu sepertinya kurang memungkinkan untuk bersaing memperebutkan kursi di sekolah negeri. Oleh karena itu, ia pun memilihkan sekolah swasta untuk anaknya.

Salah satu warga gereja yang waktu itu hadir bersama kami, datang mendekat. Ia mengajukan pertanyaan, “Mengapa tidak memilihkan sekolah ini saja?” Ia menyebutkan nama sekolahnya.

Tetapi bapak ini yang anaknya naik ke SMP, menjawab, “Wah, saya tidak mau memasukkan ke sana. Soalnya saya mendengar kabar, di sana saat ujian, anak didiknya dibiarkan mencontek. Ujiannya pakai model boleh-buka-buku alias open book. Lalu, mereka yang tidak mengerjakan pe-er, juga tidak dikenai sanksi apa-apa. Anak saya yang sudah ndhugal, bisa-bisa tambah ndhugal nanti.”

Saya memang sedikit terkejut mendengar penuturan ini. Belakangan ini saya nyaris apatis dengan sekolah. Sebetulnya, buat apa sekolah itu? Tetapi, ada orang yang membutuhkan sekolah.

Kata-kata Pengkhotbah (sebagaimana saya kutip di atas) memang tidak lebih menghibur. Itu seperti orang yang akan berkata, “Nah, lho. Apa gua bilang…”

Namun tindakan menyekolahkan anak, memberikan pendidikan yang terbaik, juga dapat dipandang sebagai tindakan yang sewajarnya dilakukan. Yesus mengamati ini dengan berkata, “Di antara kalian apakah ada ayah yang memberikan batu kepada anaknya, kalau ia minta roti? Atau memberikan ular, kalau ia minta ikan?” (Matius 7:9,10)

Tag:

3 Tanggapan to “Sekolah”

  1. ni2ngp Says:

    Reblogged this on Nining Purwaningsih.

  2. Nining Says:

    iya.. trims sblumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: