Awal Mei

Hari Jumat.

Kami mengobrol tentang pekerjaan. Tetapi ia kemudian bercerita tentang dirinya, tentang keluarganya, dan tentang masa kini yang ia sudah memiliki cucu.

Waktu, dalam pandangannya, berlalu demikian cepat. Dulu ia pernah muda, bekerja selepas lulus SMA. Memiliki rumah di tengah kota, menikah, punya anak, pindah rumah, melanjutkan sekolah, memperoleh gelar sarjana muda, memasuki masa pensiun, dan bekerja lagi.

“Kecil harus disyukuri, besar apalagi,” begitu katanya menasihati. “Dulu saya naik sepeda, sekarang naik sepeda motor.”

Saya tersenyum dalam hati. Terutama ketika mendengar dulu naik sepeda, sekarang naik sepeda motor. Lalu saya menimpali, “Bukankah dalam bekerja kita mengharapkan yang besar?”

**

Pada malam Minggu saya menghadiri acara syukuran teman atas pembaptisan putra pertama mereka. Mereka adalah keluarga Katolik. Undangan menyebut acara doa dimulai pukul 19.00 WIB, tetapi pada jam tersebut saya baru berangkat dari rumah. Ternyata saya memang terlambat. Saya memarkirkan sepeda motor di halaman. Derunya membuat tuan rumah dan tamu-tamu di teras menengok ke arah saya.

Saya melepas jaket dan menaruhnya di setang motor, kemudian melangkah masuk mencari orang yang bisa disalami. Dua orang tampak di gerbang depan. Saya menyambangi dan menyapa mereka, sambil berharap semoga mereka mengenal saya. Dan mereka menyambut jabat tangan saya. Saya memperlihatkan isyarat akan duduk-duduk bersama mereka di luar sebagai basa-basi, tetapi satu orang bangkit — seingat saya, ia adalah kakak teman saya itu — mempersilakan saya untuk masuk, dan mengantar saya mencarikan tempat duduk di teras rumah.

Para tamu sedang mendaraskan doa rosario saat saya menyalami mereka. Setelah sejenak duduk, doa-doa masih berlanjut dan tiba giliran kepada hadirin yang duduk di teras. Yang dari dalam, menyerahkan gilirannya kepada yang duduk di luar. Karena tidak terbiasa dalam tradisi doa itu, saya mempersilakan yang lain saat gambar Maria secara estafet hendak diulurkan kepada saya.

Meski tidak pada saat itu, saya jadi teringat kembali petikan Mazmur berikut: Semoga anak-anak lelaki kita di masa mudanya seperti tanaman yang menjadi besar. Semoga anak-anak perempuan kita seperti tiang jelita, yang menghias penjuru-penjuru istana. (Mazmur 144: 12, LAI-BIS)

*

 

 

 

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: