Sadhèng

Dermaga-Pelabuhan-Sadeng

Nama Sadhèng muncul di dalam Nagarakrtagama. Saya cari dalam kamus bahasa Jawa, sadhèng dapat berarti semacam pohon palem.

Meski nama Sadhèng pernah disebut-sebut dalam karya Prapanca, saya tidak tahu persis apakah nama Pelabuhan Sadhèng punya kaitan dengan karya sastra kuno tersebut. Saya tertarik berkunjung ke Pelabuhan Perikanan Sadhèng karena dalam suatu obrolan dengan seorang kawan, ia  (berbasa-basi?) mengundang saya ke sana. Memang ada pohon kelapa di sana, yang barangkali serumpun dengan tumbuhan sadhèng. Tetapi saya tidak tahu persis, apakah pohon kelapa memang serumpun dengan sadhèng. Saya juga tidak tahu persis, apakah tumbuhan sadhèng memang pernah dijumpai di sana dan kemudian nama tersebut dipakai untuk menandai tempat ini.

Pelabuhan Perikanan Sadhèng terletak hampir di ujung tenggara Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski cukup jauh dari kota Yogyakarta (sekitar 100 km), akses jalan menuju lokasi pelabuhan di wilayah Kabupaten Gunungkidul ini termasuk bagus. Mungkin Anda, pengunjung yang berasal dari Jawa Tengah, juga bisa mengambil jalan yang dari arah Surakarta-Wonogiri, atau Klaten-Semin untuk menuju tempat ini tanpa melalui kota Yogyakarta terlebih dahulu.

Jika Anda mengambil jalan darat dan melalui jalan aspal di sekitar Desa Jerukwudel, Anda akan dapat merasakan tujuan sudah dekat. Perhatikanlah rambu petunjuk yang ada. Pada salah satu titik di sisi kiri tanjakan terdapat petunjuk untuk mengganti perseneling. Sesudah titik itu, jalan akan terasa menurun cukup tajam. Di situlah sebetulnya pemandangan alam begitu menakjubkan. Kita seolah dibawa terjun dari ketinggian menuju ke dasar lembah yang paling dalam. Konon, di lembah itulah dahulu Bengawan Purba sempat mengalir menuju muara di Pantai Samudera.

Pelabuhan Perikanan Sadhèng menjadi tempat berlabuh untuk kapal-kapal penangkap ikan. Di tempat ini terdapat juga tempat pelelangan ikan. Waktu itu, saya sempat mengamati ada kapal bergerak dari arah laut, masuk ke jalur pelabuhan melalui jalur di antara dua suar menuju dermaga. Kapal itu menurunkan sauh (?), melemparkan tali-tali untuk kemudian bergerak merapat ke dermaga. Kapal tersebut membawa muatan tangkapan ikan. Jumlahnya cukup banyak. Diturunkan di sana, untuk kemudian dilelang di situ.

Dari keterangan yang saya peroleh dan saya lihat, ikan-ikan yang dibawa itu antara lain berupa ikan tuna, ikan cakalang, dan ada juga tangkapan satu ekor ikan hiu. Dari kapal, muatan diturunkan, lalu diusung oleh petugas angkut-angkut dengan ember-ember besar, kemudian dibawa kepada petugas timbang untuk ditimbang di pendapa pelelangan. Sesudah ditimbang, ikan-ikan itu dijèrèng di lantai, lalu petugas lelang dengan megafon, memulai acara pelelangan. Lima, sepuluh, tiga puluh, … , begitu kira-kira kata petugas lelang. Persisnya tentang bagaimana hitungan lelang selesai atau berapa selisih angka naiknya, saya tidak mengorek keterangan lebih jauh.

Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. (Mazmur 107:30, TB-LAI)

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: