The Hobbit

Gambar

Oh, Elbereth Gilthoniël!

The Hobbit: An Unexpected Journey. Film yang menarik menurut saya. Meski ada komentar bahwa adaptasi film ini menjadi lebih luas dari versi bukunya dan terkesan menjadi penjelas bagi film trilogi “The Lord of The Rings”, saya menyukai pewujudan olahan imajinasinya.

Bagaimanapun, untuk merangkaikan awal kisah film The Hobbit dengan kisah yang terdapat dalam film The Lord of The Rings tidaklah mudah. Sebab, itu berarti si sutradara harus membaca dan mendalami buku-buku karya Tolkien terlebih dahulu. Konon, The Hobbit mulanya ditulis sebagai dongeng anak-anak. Karenanya, alur, nama tokoh, ataupun nama tempat, belum serumit seperti yang ada di dalam The Lord of The Rings: Rivendell masih disebut dalam bahasa Umum Rivendell dan tidak dengan nama kunonya, Imladris. Gandalf juga masih disebut Gandalf dan tidak dengan nama panggilannya dalam bahasa peri: Mithrandir. Para kurcaci pun disebut dengan nama-nama pendek yang gampang diingat: Dwalin, Balin, Kili, Fili, Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Bifur, Bofur, Bombur, serta Thorin.

Nah, mungkin karena film The Lord of The Rings sudah tayang lebih dahulu, maka film The Hobbit: An Unexpected Journey merasa perlu menyajikan prolog yang berkaitan dengan kisah yang ada di film-film sebelumnya. Memang terdapat beberapa bagian yang berbeda antara isi buku dengan isi film. Misalnya saja, kehadiran Galadriel dan Saruman yang merujuk kepada Dewan Penasihat Putih seperti tertuang pada bagian Appendiks dari Buku The Return of The King. (Dalam Buku The Hobbit, Bilbo Baggins tampaknya hanya menyinggung sedikit tentang Dewan Penasihat Putih. Oleh karena itu, Frodo atau Samwise Gamgee di kemudian hari sepertinya menambahkan sejumlah catatan atas tulisan-tulisan Bilbo itu.) Demikian juga, soal ketidakharmonisan kaum peri dan kurcaci yang digambarkan disebabkan oleh kaum peri yang berdiam diri melihat kerajaan kurcaci diserang Smaug.

Meski muncul perbedaan antara versi film dengan versi buku, keceriaan kurcaci dan keriangan hobbit serta keindahan kaum peri cukup mampu diwujudkan oleh Peter Jackson dalam beberapa adegan di filmnya. Hanya saja, mengenai gambaran Rivendell tampaknya belum mampu memenuhi perwujudan imajinasi saya tatkala saya membaca buku The Hobbit. Rumah Ramah Terakhir, Kediaman Elrond dan yang kelak juga bisa disebut Rumah Ramah Pertama dalam perjalanan Bilbo itu, sebetulnya amatlah mengesankan. Namun begitu, saya rasa saya perlu mengacungi jempol untuk filmnya, untuk nuansa epik-nya, juga untuk paduan musik pengiring yang dinyanyikan para kurcaci dan yang juga menjadi penutup film ini. Itu juga indah untuk dihayati.

Karena kebaikan-Mu, setiap tahun Kausediakan panenan; di mana Engkau datang, ada kelimpahan. Padang gurun penuh kambing domba, semua bukitnya bersukaria. Padang-padang rumput berselimutkan domba, lembah-lembah penuh dengan gandum. Semua bersorak dan menyanyi dengan gembira.

(Mazmur 65: 12-14, Alkitab dalam bahasa Indonesia Sehari-hari)

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: