Catatan Perjalanan: Bandung

Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion.

(Mzm 134:3, TB-LAI)

Sarana-Olahraga-Saparua-Bandung

Bus berhenti dekat pompa bensin. Pemimpin rombongan meminta singgah sejenak. Ia turun sembari berlari-lari kecil. Katanya, ia sudah menahan kencing sedari tadi. Saya ikut turun. Sebetulnya, sekadar ingin tahu suasana di luar bus, melemaskan otot, tetapi ikut mampir juga ke toilet.

Pompa bensin ini rupanya berbeda dengan pompa bensin yang biasa saya jumpai. Toiletnya tidak dalam bangunan terpisah, tetapi berada dalam sebuah kafe.

“Lho, ini ada dua,” seru salah seorang penumpang. “Bisa juga dipakai. Toh peruntukannya juga sama,” seloroh seorang bapak menunjuk toilet yang di pintunya terpampang ikon orang memakai rok. Maklum, yang antre banyak.

Bandung saat itu mendung. Sekitar pukul dua siang hujan rintik-rintik hingga petang hari. Hujan mungkin terus mengguyur sampai subuh. Esok paginya saya keluar dari tempat bermalam untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan masih basah. Namun udara berasa segar. Di dekat tempat menginap, rupanya masih banyak pohon besar.

Sekitar pukul enam pagi, jalan raya sudah cukup ramai orang berlalu-lalang. Tetapi beberapa blok di depan masih tampak lengang. Saya melangkah ke arah timur. Sembari berjalan saya mengamati bahwa kompleks tempat saya menginap rupanya bersebelahan dengan kompleks kesatuan tentara. Rumah-rumah dinas para petingginya berada di sini.

Saya sampai di perempatan yang di pojoknya ada sebuah kantor pos. Saya mengambil jalan ke kanan dan meneruskan berjalan ke arah selatan. Setidaknya, itulah arah yang saya perkirakan karena matahari pagi yang masih tertutup awan saya perkirakan berada di sisi kiri saya. Di ujung jalan, saya berjumpa percabangan jalan lainnya. Saya memilih untuk mengambil jalan ke kanan.

Kali ini di pinggir rute yang saya lalui ada sejumlah warung tenda. Ada pula penjual bubur atau mungkin penjual nasi beserta lauknya yang menggunakan gerobak dorong. Beberapa sudah ramai dengan pembeli yang ingin menyantap sarapan pagi.

Saya menyeberang karena tampak di sisi selatan terlihat lapangan olahraga dengan trek atletik mengitarinya. Lapangan tersebut merupakan sarana olahraga milik pemerintah daerah setempat. Dua tiga warga berlari keliling, beberapa yang lain berolahraga jalan cepat, dan di tengah ada yang berlatih sepatu roda.

Saya turut mencoba lintasan treknya, berjalan berkeliling. Beberapa warga saling menyapa dan mengobrol dalam bahasa Sunda. Sarana olahraga seperti ini mengasyikkan juga sebagai ruang publik sekaligus tempat beranjangsana.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: