Catatan tentang Gamelan

Selebihnya dari riwayat Yehu dan segala yang dilakukannya dan segala kepahlawanannya, bukankah semuanya itu tertulis dalam kitab sejarah raja-raja Israel?

(II Raja-Raja 10:34, TB-LAI)

*

Beberapa waktu belakangan, saya diundang kawan saya untuk turut dalam latihan gamelan. Gamelan adalah alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok. Dalam alat musik ini ada yang disebut bonang, gendèr, saron, demung, peking, kendang, kenong, kempul, dan gong.

Memainkan saron, pada dasarnya sama dengan mengikuti bunyi notasi yang tertulis dalam lagu gamelan. Saron merupakan instrumen melodi. Saat pertama memainkan, saya merasa, itu relatif mudah. Saya tinggal mengikuti notasi, memukul bilah saron sesuai angka atau not-nya.

Alat musik yang lain, yang juga memainkan melodi, adalah bonang. Menurut urutan permainannya, bonang ditabuh terlebih dahulu. Oleh karena itu, alat musik ini disebut manggala-nya gamelan. Dalam hal ini manggala dapat diartikan sebagai pembuka lagu atau introduksi untuk masuk ke dalam lagu. Dalam permainannya, suara bonang mengisi di antara ketukan melodi saron.

Saya pertama-tama diperkenalkan dengan lagu Lancaran Sambang Dalu. Lancaran adalah suatu bentuk lagu yang dalam satu barisnya terdiri atas 8 ketukan. Perpindahan baris dalam suatu lagu dapat diketahui dari bunyi gong suwukan. Dalam lagu lancaran yang kami pelajari ada empat baris notasi yang harus dimainkan. Untuk baris terakhir, lagu diakhiri dengan suara gong besar.

Dalam permainan gamelan, ketukan-ketukan dalam satu baris pada interval tertentu dapat diketahui dari bunyi-bunyi instrumen kethuk, kenong, atau kempul. Demikianlah, kami membunyikan instrumen-instrumen gamelan, memainkan baris demi baris lagu. Musik biasanya akan terus berlanjut sekalipun baris terakhir dalam suatu lagu sudah ditabuh. Jika notasi baris terakhir selesai dimainkan, maka notasi berikutnya adalah kembali ke notasi dalam baris pertama. Begitu seterusnya, sampai saatnya semua harus berhenti, yaitu ketika ada aba-aba dari bunyi kendang yang menjadi isyarat berhentinya bunyi-bunyian.

**

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: