Ngrenehan

Terpesona oleh foto dengan warna lautnya yang biru yang diunggah oleh seorang rekan di jejaring media sosial, saya tergerak untuk pergi dan membuktikannya.

Ngrenehan adalah pantai di Gunung Kidul dengan teluk kecil yang indah. Di sini kita dapat menjumpai kapal-kapal nelayan. Ada tempat pelelangan ikan juga. Hari itu saya tiba, menghirup udara laut yang tercampur amis ikan, lalu mengambil foto dengan kamera. Salah satu pengunjung di belakang saya yang baru turun dari mobil bertanya kepada rekannya, “Mana pasir putihnya?”

Pantai ini memang terkesan sempit. Pasir putihnya tertutup kapal-kapal nelayan. Namun ceruk di bibir bukit menyediakan tempat yang nyaman untuk duduk-duduk atau berfoto-foto. Saat saya asyik mengamati bidikan kamera saya, tiba-tiba dari belakang muncul beberapa bule manca. Mereka menghampiri tempat saya berdiri dekat ceruk itu. Rupanya mereka datang hendak berenang. Mereka memilih tempat untuk menaruh ransel-ransel mereka, mengeluarkan perlengkapan, mengoleskan tabir surya, bersiap dengan pakaian renang.

Mereka laksana para kesatria. Camar putih datang tatkala empat perempuan melangkah ke air. Tadi tiga laki-laki dari rombongan itu sudah mendahului. Ketiganya berenang beriringan ke tengah menuju ke karang di sisi timur, kemudian memanjat karang di sebelah sana. Ingin rasanya saya turut serta.

Saya bergeser, berjalan ke arah barat. Memutari kapal-kapal yang sedang parkir di pantai. Tampak di sebelah timur beberapa orang memanjat bukit. Saya tertarik dan kembali ke tempat semula, menduga-duga jalan mendaki di sisi bukit. Namun, niat itu saya tunda. Saya tertarik kepada orang-orang yang berenang tadi. Dari sisi utara dekat kamar mandi, ada tempat duduk. Saya mengamati mereka dari sana. Orang-orang itu sungguh luar biasa. Saya ikut tertawa ketika melihat betapa riangnya mereka berenang menuju ombak dan berteriak menyambut seperti orang bertemu kawan lama.

Ombak berdentum menerjang batu karang. Membuat suara gema di antara ceruk-ceruk bukit yang menggua. Dari kejauhan saya lihat empat perempuan itu di mulut teluk. Tiap-tiap kali ombak datang mereka meneriakkan penyambutan. Sungguh perenang-perenang tangguh! Tiga laki-laki yang tadi memanjat karang, bergabung dengan mereka, berenang dari sisi timur menuju mulut teluk.

Setelah agak lama, mereka pun berenang kembali menuju pantai. Satu laki-laki keluar dari air. Kakinya menginjak sesuatu. Ia berjingkat-jingkat ke daratan. Yang terakhir, dua perempuan berdiri di air mengobrol tentang sesuatu. Saya berdecak kagum dalam hati.

Yang menonton bukan hanya saya saja. Ada nelayan setempat dan pengunjung lain yang menyaksikannya. Mereka pun kagum seperti saya.

Karena seorang nelayan dekat tempat saya duduk kemudian bangkit dan bersih-bersih menyapu sampah, saya beringsut pindah dari situ. Berjalan memutar dan teringat untuk mendaki bukit. Dari salah satu penunggu warung, saya mendapat keterangan bahwa jalan naiknya ada di belakang rumah di sebelah utara. Saya masuk di sebuah gang kecil. Di belakang bangunan, ada arca durga mahisa sura mardini yang menjadi penanda tangga naik. Sampai agak di tengah, saya sepertinya menemui jalan setapak menjadi tidak jelas. Jalan itu sepertinya menghilang di ladang penduduk. Saya memutuskan turun setelah memotret pantai dari atas sana. Namun, saat menuruni bukit, saya berpapasan dengan seorang pengunjung. Ia menyapa saya, saya pun tersenyum.

Katanya, “Ada pantai di sisi bukit.”

“Ada? Saya tadi hanya menjumpai sawah penduduk desa…”

“Tidak. Memang ada pantai. Ayo ditengok. Kawan saya masih di sana.”

“Jauh?”

Saya enggan kalau jauh. Namun, saya putuskan untuk mengikutinya. Setelah mendaki sedikit, berputar ke kanan, ternyata memang ada jalan setapak di samping ladang-ladang yang berwarna cokelat kemerahan. Tak berapa lama, ternyata benar memang ada pantai. Tempat itu indah. Eksotik. Pantainya lebih bersih, berpasir putih. Pecahan-pecahan kerang masih kasar, tetapi di tepi dekat daratan halus berbutir-butir.

Di sini tidak atau mungkin belum banyak pengunjung yang mengetahui. Mungkin lantaran sedikit tersembunyi, pantainya lebih bersih. Nyaris tidak ada sampah.

Kawan orang yang mengajak saya memang ada di sana. Berendam di tepian. Mereka mengajak saya ikut merasakan laut.

Saya mau. Saya melepaskan jaket, kaos, dan celana panjang saya. Tinggal celana dalam saja. Saya turut membasahi diri dengan air laut. Dingin di kaki. Hangat sinar matahari. Airnya asin. Sebetulnya, kalaupun saya telanjang, apa perlu saya pedulikan? Saya toh sedang merasakan alam.

*

Saya berharap masih bertemu dengan bule-bule tadi. Dan memang. Saya sewarung dengan mereka waktu makan siang. Akan tetapi, sayang. Saya hanya berdiam diri saja. Saya membiarkan kata-kata bergelut dalam benak saja. Sok hebat barangkali saya. (Kalau berkata dalam hati, apa mereka mengetahui? Atau mungkin kelak bakal bertemu karena memang ada perjumpaan lagi?)

Sesudah makan, saya meminta ikan yang lebih untuk dibungkus dan dibawa pulang. Saya mengakhiri kunjungan di Ngrenehan, kemudian melanjutkan mampir ke Pantai Nguyahan dan Pantai Ngobaran.

**

Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon. (Kejadian 49:13, TB-LAI)

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: