Candi Sojiwan

Oh, Sojiwan. Aku merenungimu tentang masa lalu.

Candi Sojiwan merupakan situs candi yang berada di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Letaknya sekitar 2 kilometer di sebelah selatan Candi Prambanan. Bisa dikatakan tempatnya berada di pinggiran desa, meski dahulu barangkali adalah di pinggiran kota.

Lokasi Sojiwan bisa dipandang strategis. Ia berada di sisi perlintasan antara Prambanan di utara dan Abhaya Giri di selatan. Para petapa, kaum bangsawan, ataupun tua-tua pada masa lalu mungkin pernah mengunjunginya. Sekadar singgah karena hendak meneruskan perjalanan ke bukit sana, menuju Candi Ratu Boko. Atau barangkali sebaliknya, orang-orang dari atas bukit menyempatkan singgah dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan.

Nama Sojiwan konon berasal dari nama seorang tokoh: Rakryan Sanjiwana. Nama tersebut muncul dalam sebuah prasasti yang berangka tahun 829 Saka atau 907 Masehi. Disebutkan dalam prasasti, raja menetapkan Desa Rukam yang masuk wilayah pusat kerajaan sebagai sima. Sima adalah wilayah yang dibebaskan dari pajak. Alasan penetapan sima adalah karena desa itu pernah hancur oleh letusan gunung. Sebagai gantinya, sima berkewajiban memelihara bangunan suci.

Prasasti Rukam ditemukan di Desa Petarongan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung[1]. Desa yang disebutkan pernah hancur tersebut kemungkinan adalah desa yang rusak karena erupsi Gunung Sindoro. Jadi, bukan desa di selatan Gunung Merapi ataupun desa tempat Candi Sojiwan yang tengah saya ceritakan. Munculnya nama Nini Haji Rakryan Sanjiwana memberi petunjuk tentang nama pejabat yang dikenal pada masa itu.

Lalu, mengapa Candi Sojiwan dikaitkan dengan Rakryan Sanjiwana? Tokoh ini menurut pembaca prasasti Rukam adalah neneknda Raja Balitung. Jadi, Candi Sojiwan di selatan Prambanan itu diperkirakan merupakan bangunan suci untuk pendarmaan Sanjiwana.

Dalam pengamatan saya, Candi Sojiwan dalam beberapa bagian memang menampilkan gaya bangunan yang mencirikan langgam untuk perempuan. Relief di kaki candi contohnya, seolah menggambarkan dongeng-dongeng yang biasa dikisahkan oleh seorang perempuan untuk anak atau cucunya.

Candi Sojiwan memiliki bilik yang di dalamnya terdapat tiga singgasana padma. Saya membayangkan bahwa dahulu di tengah-tengahnya duduk arca wanita. Mungkin ia adalah prajnya paramita. Di kanan-kirinya ia diapit oleh pengiring-pengiringnya.

Sanjiwana, seandainya engkau melihat ke Barat, apakah yang kaupandang di sana? Dalam keteduhanmu bersamadi, apakah engkau mengingat kami?

Om Tare Tuttare Ture Soha.

.. Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.

(Yeremia 31:33b, TB-LAI)


[1] Lihat Kompas, Sabtu, 18 Mei 2012, di http://hurahura.wordpress.com/2012/02/23/ekspedisi-cincin-api-letusan-gunung-dalam-prasasti-rukam/

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: