Candi Ijo

Ketika saya mendaki perbukitan Ratu Boko dari arah utara, saya berjumpa dengan Pak Tua Penggembala. Saya bertanya kepadanya di manakah letak Candi Ijo. Jawabannya, “Oh, itu di sisi bukit yang di sebelah selatan sana. Jalannya lebih menanjak.”

 

Di lain hari saya menyempatkan diri untuk mencari. Lokasi candi ini memang berada di perbukitan di selatan bukit Ratu Boko. Konon bangunan candi ini adalah satu-satunya situs candi di Yogyakarta yang berada pada ketinggian yang tertinggi.

Menurut informasi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Candi Ijo pertama kali ditemukan tanpa sengaja oleh seorang administratur pabrik gula Sorogedug. Nama administratur pabrik gula itu adalah H.E. Doorepaal. Waktu itu ia sedang mencari lahan untuk penanaman tebu. Selang tiada lama C.A. Rosemeler juga mengunjungi Candi Ijo dan menemukan tiga buah arca batu. Tahun 1887, Dr. J. Groneman melakukan penggalian arkeologis di sumuran candi induk. Dari penggalian tersebut ia memperoleh lembaran emas bertulis, cincin emas, serta beberapa jenis biji-bijian.

Pemilihan puncak bukit kapur sebagai tempat pendirian candi memang berkesan tidak sejalan dengan naskah kuno mengenai pemilihan tanah untuk pendirian bangunan suci. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala mengemukakan pendapat seperti tersebut dalam poster yang dipajang di sana bahwa mengenai hal ini belum ada kepastian interprestasi. Katanya, justru inilah yang membuat Candi Ijo menarik dan unik.

Karena pernyataan tersebut, saya tergelitik untuk menanggapi. Kompleks percandian ini mungkin dahulu adalah sebuah makam. Mencermati tulisan Smita Gupta dari Arizona State University dengan artikelnya yang berjudul Vastu Shilpa Shastra: The Ancient Indian, Bioclimatically Responsive Science of Building, pendirian suatu bangunan perlu mempertimbangkan lima unsur, yaitu angkasa (langit), bayu (udara), agni (api), jala (air), dan bumi (tanah). Pembangunan akan menjadi lebih baik jika arsiteknya memahami kelima unsur tersebut. Kompleks candi ini sepertinya “kurang” mengindahkan pola tersebut. Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, lokasi candi ini jauh dari sumber air dan tanahnya tergolong batuan kapur.

Areal kompleks Candi Ijo terhitung cukup luas. Sejumlah situs tersebar dalam beberapa teras. Teras teratas adalah lokasi Candi Ijo berada. Secara umum kompleks ini menghadap ke Barat. Ini berarti untuk menuju “pintu candi” yang ada di puncak, kita mesti melangkah ke arah Timur melewati “susunan berundak”. Apakah ini menyiratkan “pola punden berundak” ataukah penghormatan kepada Timur tempat Surya terbit? Atau malah sebaliknya. Pendirian bangunan Candi Ijo di teras teratas barangkali justru menjadi ikon untuk mengingatkan pengunjungnya tentang keberadaan Barat, tempat Surya di masa senja atau mungkin juga tentang Alam Baka.

Di dalam Candi Induk terdapat yoni besar dan lingga. Keberadaan kedua benda ini menunjukkan bahwa bangunan yang menaunginya adalah untuk menghormati Siwa. Menurut poster yang terpajang di dekat situ, konon di teras bawah pernah ditemukan arca Siwa Mahadewa. Sementara itu, temuan lain adalah arca Wisnutriwikrama dan awatara Wisnu: Narasimha. Keberadaan arca-arca tersebut sepertinya bisa menjawab penafsiran bahwa kompleks Candi Ijo adalah kompleks pemakaman. Kalau boleh saya bebas menafsirkan: baik Siwa sebagai Mahadewa, maupun Wisnu Sang Pemelihara dalam wujudnya Wisnutriwikrama ataupun awatara Narasimha, mereka pun berkuasa tidak saja atas Alam Raya, tetapi juga Alam Baka.

Tag: ,

Satu Tanggapan to “Candi Ijo”

  1. Candi Ijo (Lagi!) | Kisah Bangsa Says:

    […] Beberapa waktu lalu saya kembali ke Candi Ijo bersama rombongan keluarga. Tulisan tentang candi ini pernah saya unggah sebelumnya. Silakan simak dalam artikel berjudul Candi Ijo. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: