Kota Lama

“Masukkan pelan-pelan, lalu keluarkan.” Begitulah kira-kira mereka mengajari saya. Semuanya memang sudah menikah. Saya saja yang belum. Tapi, jangan buru-buru mengasosiasikan kalimat awal tadi dengan intercourse. Kali ini mereka lagi berbagi cerita tentang pengalaman mereka tidur di hotel, yang membuka pintunya musti dengan kartu elektronik.

**

Tempat ini punya nama yang bagus. Orang bisa memaknainya sebagai tempat pertemuan dari lima arah. Namun, bisa juga memaknainya sebagai tempat untuk memilih arah. Simpang Lima.

Pertama kali saya tiba di sana, turun dari kendaraan yang membawa saya. Saya terperangah dengan trotoarnya yang lebar. Di tengah sana ada lapangan rumput yang cukup luas. Ada jalur jalan yang mengelilingi yang diperuntukkan pejalan kaki. Suatu pagi saya mencobanya. Memutari. Berjalan tanpa alas kaki di jalur yang dipasangi batu-batu. Denyutnya di telapak kaki sempat terasa ketika saya duduk di suatu siang hari. (Kalau Anda ingin mencoba ke sana, saya anjurkan Anda datang pagi-pagi. Sebab, saya amati, semakin terang hari, lalu lintasnya semakin ramai. Ini berarti, kita yang ingin menyeberang, harus ekstra hati-hati.)

Dari Simpang Lima, saya bertanya kepada seorang Penjual Duku. Ke manakah arah ke Stasiun Tawang. Dengan ramah penjual itu menjawab bahwa untuk ke sana dengan kendaraan umum, saya bisa mempergunakan angkot yang ada di sisi sana. Saya berterima kasih atas petunjuk itu.

Bersama saya di angkot, seorang ibu berpakaian olahraga duduk di samping pengemudi. Katanya, dia hendak turun di Kauman. Tempat tinggalnya di sana. Saya bertanya kepadanya apakah tempat turun saya nanti dekat dengan Gereja Blendhug. Tujuan saya kali ini adalah ke sana. Saya ingin memastikan. Tadi, Pak Sopir Angkot sebetulnya sudah menyampaikan bahwa kendaraannya nanti lewat dekat tempat itu. Pak Sopir Angkot itu berkata sambil berkelakar bahwa jauhnya hanya kira-kira lima langkah. (Dia sepertinya ingin menyampaikan kata “dekat”, tetapi lebih suka memilih kata-kata “lima langkah”. Ah, itu gara-gara saya bertanya berapa meter jauhnya dari tempat perhentiannya nanti.)

Gereja Blendhug sudah kelihatan dari kejauhan. Tempatnya berada di kawasan Kota Lama. Saya berjalan kaki setelah turun dari angkot. Ada jembatan pendek. Kalinya penuh. Mungkin ciri khas kawasan yang dekat dengan pantai. Saya dengar dari seorang kawan, banjir rob memang kadang-kadang melanda daerah utara. Apakah itu sisa-sisa rob, saya tidak tahu.

Berjalan di Kota Lama, tidak seperti di Simpang Lima. Di sini tidak ada trotoar yang lebar. Halaman bangunan bahkan seperti menyatu dengan jalan.

Pertama kali menyaksikan bangunan-bangunan di Kota Lama, tiba-tiba saya teringat dengan bangunan-bangunan lama di kota saya. Hampir mirip.

Lalu muncul perenungan. Peninggalan masa lampau itu sesungguhnya adalah saksi bisu perjumpaan orang-orang di masa lalu. Orang Jawa dengan bukan-Jawa. Bangsa dengan bangsa.

Perdagangan zaman dahulu tentu bisa dibilang maju. Buktinya, orang mampu membangun gedung-gedung itu. Yang masih bertahan melewati beberapa waktu.

Transkripsi Wirama 83 dari Kakawin Dēśawarņna oleh I Ketut Riana sepertinya bisa menunjukkan lebih jauh perjumpaan nenek moyang kita dengan bangsa-bangsa lain pada masa lampau yang berlangsung sekitar era Majapahit.

Hētunyānantarā sarwwa jana teka sakēnganya dēsa prakirņna,

Nang jambu dwipa kamboja cina yawana lēn cempa karņnāțakādi,

Godha mwang syangka tang sangkanika makahawan potra milwing waņik sök,

Bhikṣu mwang wipra mukyān hana teka sinungan bhoga tuṣțan panganti.

Maka dalam waktu singkat berduyun-duyun orang asing datang mengunjungi desa-desa,

Dari Jambu Dwipa, Kamboja, Cina, Yawana, Campa, juga Karnataka,

Goda, Siangka (Siam) datang menumpang kapal-kapal mengarungi samudera bersama para pedagang,

Biksu pendeta sebagai pemuka berkunjung disuguhi santapan hingga menetap dengan senang hati.

(hlm. 397)

Saya singgah sebentar di taman di samping gereja. Duduk-duduk menikmati pemandangannya dan mengambil beberapa gambar. Apakah sebetulnya saya menapak tilas para musafir di masa lalu, saya bertanya dalam hati. Saya tidak tahu. Dorongan saya ke sini mungkin hanyalah sekadar mampir untuk mengumpulkan bahan cerita. Supaya ketika nanti pulang, saya juga bisa berbagi cerita seperti kawan-kawan saya yang bercerita tentang pintu kamar hotel mereka.

**

Tuhan, kasihanilah kami.

Kyrie Eleison.

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. (Lukas 24:13–14, TB-LAI)

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: