Candi Banyunibo

Sebetulnya apakah salah satu tugas manusia di Bumi? Apakah memang untuk kawin–dikawini-atau-mengawini. Bukankah banyak pesan sepertinya mengarah ke hal-hal itu? Lingga dan yoni. Angkasa dan Bumi. Pria dan Wanita.

Perintah pada masa sesudah Banjir Besar malah gamblang dan sederhana: Ia mengawalinya dengan Sabda, “Beranakcuculah….”

Dalam buku Purusadasanta, Sutasoma yang berhati lembut pada akhirnya juga mengambil istri. Ia kawin. Konon demikian juga dewa-dewa.

Sastra memang memiliki banyak ragamnya. Masing-masing memiliki kupasannya sendiri. Ada dharmasastra (ilmu keagamaan), arthasastra (ilmu pemerintahan), tetapi juga kamasastra (ilmu percintaan). Para Kawi yang Agung kabarnya mencipta kakawin karena menggeluti ketiga hal itu. Menghayati kupasannya dan mereguk kepuasannya.

**

Saya membayangkan, Candi Banyunibo adalah tempat peneguhan perkawinan. Banyunibo dapat berarti air menetes.

Namun, mungkin juga candi ini dahulu menjadi tempat peneguhan para raja di masa lalu.

Candi Banyunibo terletak di Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.  Letaknya berada di dataran yang menjadi lembah perbukitan di selatan Kraton Boko.

 

Kalau memasuki pintu candi utama (Candi Banyunibo menghadap ke arah Barat), kita dapat mengamati relief wanita yang dikerumuni anak-anak. Konon relief itu menggambarkan Dewi Hariti. Tokoh yang melambangkan kesuburan. Sayangnya, tampilannya tidak lengkap. Seandainya lengkap mungkin akan mirip dengan relief yang ada di Candi Mendut, Magelang.

Saya berandai-andai: pada masa silam tempat ini mungkin adalah tempat penyelenggaraan pesta. Hamparan sawah terbentang luas di depan. Anak-anak bermain kejar-kejaran, muda-mudi bertemu pandang, para tetua tertawa merenungi kehidupan.

Tetapi sekarang candi ini sunyi. Meski dahulu mungkin juga sepi. (Oh, bukan sepi yang tidak ramai begitu.) Lebih tepat: Hening. Dalam bahasa Sanskrit, padanannya barangkali adalah: Sunyata. Saya masih bisa mendengar desau angin dan suara-suara manusia.

Saya melangkahkan kaki mengelilingi candi. Dua sejoli asik berpacaran di tenggara di atas reruntuhan candi perwara. Sepasang muda-mudi lain duduk bercengkrama di birai candi.

Di atas bukit sebelah sana para Bangsawan Tinggi mungkin pernah berdiam dahulu kala. Para rajanya barangkali  mendapat pengukuhannya di sini dari pemuka agama. Lalu pesta digelar dan jamuan makan dihidangkan. Batu-batu candi perwara itu mungkin adalah saksi tentang mereka. Pada masa itu barangkali ada bangunan-bangunan dari kayu, barangkali pada candi-candi perwara itu.

Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Candi Banyunibo ditemukan kembali pada bulan November 1940. Hasil penelitian sampai tahun 1942 berhasil menyusun kembali bagian atap dan pintu candi. Kini kita dapat menyaksikan sosok candi induk yang sudah dipugar. Tidak ada arca di dalamnya, meski di luar ada patung lembu Nandi. Ia, mendekam diam, menghayati keheningan.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: