Dara Pêthak dan Dara Jingga

Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu.

(Yohanes 3:29, TB-LAI)

Dara dalam bahasa Indonesia memiliki sejumlah makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia sampai menyajikannya dalam tiga lema karena tulisan dan ucapannya yang sama. Lema yang pertama, dara berarti anak perempuan yang belum kawin atau gadis atau perawan. Lema yang kedua, merujuk kepada istilah peternakan, dara berarti ternak betina yang berumur lebih dari satu tahun dan belum beranak. Sedangkan lema yang ketiga, dara berarti merpati–Columba domestica.

Dari kisah pada masa lalu, ternyata ada juga orang yang menyandang “nama” dengan kata dara, yakni Dara Pêthak dan Dara Jingga. Sebutan ini muncul barangkali karena orang yang memanggilnya belum sempat berkenalan dengan mereka. Sudah tahu wajahnya, sosoknya, tetapi tidak berani menyapa untuk mengetahui namanya. Mungkin orang-orang juga hanya bisa melihatnya dari kejauhan karena mereka yang empunya nama duduk di dekat orang-orang berkuasa. Rakyat lalu berbisik dari yang satu kepada yang lain, “Itu dara pêthak duduk dekat dara jingga.”

“Maaf, yang mana dara pêthak?”

“Itu…, yang duduk dekat dara jingga.”

Namun bisa jadi juga tidak begitu. Bisa saja, sudah ada orang yang menyapanya dan bertanya-tanya tentang nama kedua gadis muda. Lalu si gadis tampak menjawab sesuatu dan si gadis lainnya juga mengungkapkan sesuatu. Sayang, gara-gara bahasa si penanya tidak sama dengan bahasa yang ditanya, tidak berhasillah jalannya kata-kata. Maka untuk mudahnya, si penanya mengakukan saja nama kedua gadis muda itu (jika suatu saat dirinya ditanya) bahwa mereka, para gadis muda itu, masing-masing menyandang nama: dara pêthak dan dara jingga.

Pêthak dan jingga adalah nama-nama warna. Akan tetapi, apakah ini dimaksudkan untuk menunjukkan warna-warna rambut mereka?  Tampaknya tidak. Karena rambut dara kedua gadis muda, sepertinya tidak pêthak ataupun jingga.

Konon, dara pethak itu kemudian bersanding dengan nrêpa krêta rājasa jaya warddhana nrêpati. Sosoknya disebut-sebut sama dengan Sri Indreswari.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: