Candi Sukuh

Kalau Borobudur punya kemegahan, Candi Sukuh punya
keindahan.

Candi Sukuh adalah candi yang berada di lereng Gunung Lawu. Ia berdiri di halaman teras yang bersusun berundak-undak. Pada ujung bagian paling belakang kompleks, terletak bangunan utama. Bentuknya mirip piramida di Amerika. Yang menarik, candi ini memiliki banyak relief dan arca yang menonjolkan lingga.

Jika kita berjalan dari halaman depan, mestinya kita masuk melalui Gapura Muka. Di atasnya, menggantung kepala Buta. Mungkin sosok itu adalah gambaran Kala. Sang Waktu yang menjadi saksi atas segala kejadian yang berlangsung di jagad raya.

Kalau kita perhatikan, di lantai bawah Gapura Muka ada relief naturalis. Tampilannya indah, yang tak perlu diterka itu yoni atau lingga. Keduanya saling berhadapan, seolah mewartakan awal kelahiran. Manusia yang tiada harus malu, mau disaksikan Kala, bersiap dalam sanggama. Fase yang amat jarang ditampilkan dalam bangunan candi pada umumnya. Ini jelas. Bukan stiliran.

Penulis Suluk Tambangraras (Serat Centhini) mungkin pernah berkunjung ke sini. Merenunginya. Entah, mungkin juga melakoninya. Atau, malah membandingkan panjang miliknya. Satu genggaman atau dua genggaman.

Bangunan candi utama pada Candi Sukuh memang terlihat berbeda dari candi-candi di Jawa. Bangunan ini mungkin terinspirasi dari piramida terpancung pada bangunan suku pedalaman di Benua Amerika. Dalam pelayaran Samudra, beberapa pelaut boleh jadi ada yang singgah di nusantara karena tertarik oleh perdagangan di Wilwatikta (Majapahit). Oleh karena itu, ketika mereka berjumpa dengan para arsitek candi, mereka bersama-sama mewujudkan bangunan yang seperti ini. Arca-arca penyu di sana barangkali menggambarkan mereka-mereka yang pernah mengarungi Samudra.

Relief pada Candi Sukuh kabarnya mengisahkan cerita Sudamala dan Garudeya. Dalam bahasa Jawa masa kini sudamala bisa dimaknai menghilangkan keburukan. Kisah Sudamala bertutur tentang Sadewa yang meruwat Durga. Sementara Garudeya bercerita tentang pencarian Garuda dalam rangka menemukan amerta.

Lalu apa kaitan kisah-kisah di atas dengan penonjolan lingga? Adakah kisah-kisah Kamajaya mengajarkan sastra kepada Ratih atau keduanya bergelut mencipta kama-sastra. Namun, sastra bisa jadi sulit dipahami oleh mereka yang buta aksara. Karena itu, Candi Sukuh bisa juga untuk jujugan bagi mereka yang ingin tahu “rahasia” tanpa harus belajar sastra. Bisa jadi cocok untuk muda-mudi yang sedang kasmaran, meski bukan ajang untuk kemesuman, melainkan pendidikan yang berkait dengan asmaragama dan cinta.

Pada bulan-bulan ini konon para kawi mulai mempersiapkan kakawin. Sementara kini, masa orang melangsungkan pernikahan. Jadi, bolehlah mampir ke sana sambil berbulan madu. Menghayati cinta, mempelajari asmaragama.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: