Jeda

Tempo hari saya berhenti di dekat sebuah warung kelontong kecil. Warung itu mengambil salah satu bilik di sisi rumah. Rumahnya bagus. Bertembok, bercat, berkeramik; baru selesai dibangun. Beberapa kemasan ukuran saset tampak bergelantungan di atas kotak etalase, menyemarakkan ruangan dengan beragam barang dagangan.

Seorang pembeli datang. Warga setempat. Datang dengan berjalan, beralas kaki sandal.

Ia berkata kepada penjaga warung. Mau membeli ini-itu. Penjaga warung keluar, membawakan gunting, lalu memotongkan satu dua kemasan saset yang bergelantungan.

“Adakah lagi yang kaupinta?”

“Cukuplah ini-itu dahulu. Kurasa aku sudah membeli apa-apa yang perlu.”

Pembeli itu menerima benda yang dipesannya. Berbincang sebentar dengan si penjual, mengulurkan uang, dan mungkin mengingatkan. “Kemarin aku masih punya sisa uang di tempatmu,” atau mungkin, “aku habis ini mau mencuci baju”.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mzm 90:12, LAI, TB)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: