Luna Lovegood: Mereka Menyebutku Gila

“Katresnan iku nutupi samubarang, ngandel ing samubarang, ngarep-arep samubarang, nyabari samubarang.”

(1 Korintus 13:7; Kitab Suci, LAI 2006)

Pada buku ke kelima Harry Potter and the Order of the Phoenix (karya J.K. Rowling) yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Harry Potter dan Orde Phoenix (GPU: 2004), kita akan berkenalan dengan tokoh baru, siswa dari asrama Ravenclaw, Luna Lovegood. Seorang gadis nyentrik berambut pirang, kotor, terjurai sampai ke pinggang dengan alis pucat dan mata menonjol, yang mengesankannya sebagai gadis kurang waras.

Apakah yang menarik dalam diri Luna selain penampilannya yang eksentrik? Dia adalah anak seorang penyihir yang menjadi editor majalah The Quibbler. Ibunya meninggal ketika ia berumur sembilan tahun karena mantra eksperimen yang keliru. Luna Lovegood adalah siswa yang menghibur Harry saat Harry dikejutkan oleh keberadaan makhluk Threstal. Harry dapat melihat makhluk-makhluk aneh itu, sementara Ron Weasley, sahabatnya, tidak dapat melihat mereka.

“Aku sudah bisa melihat mereka sejak hari pertamaku di sini. Mereka selalu menarik kereta-kereta itu. Jangan khawatir. Kau sama warasnya seperti aku,” (hlm. 282) kata Luna.

Threstal adalah makhluk tidak kasat mata yang menarik kereta-kereta menuju kastil sekolah Hogwarts. Mereka yang pernah melihat kematianlah yang bisa melihat wujud makhluk-makhluk itu (hlm. 618).

**

J.K. Rowling memang menampilkan sosok Luna sebagai seorang gadis dengan cara berpikir yang berbeda dari kawan-kawan sebayanya. Suatu kali di akhir tahun ajaran, Harry Potter memergoki Luna Lovegood tengah menempelkan semacam pengumuman. Luna agaknya sedang kehilangan barang-barangnya. Luna yakin, kawan-kawannyalah yang sudah menjahilinya. Oleh karena itu, ia menempelkan pengumuman itu supaya mereka mau mengembalikan.

“Kurasa mereka mengganggapku aneh, kau tahu. Beberapa anak malah memanggilku ‘Loony’ Lovegood.” Jawabnya kepada Harry tentang alasan kawan-kawannya menyembunyikan barang-barangnya. Loony memang berarti “gila” atau dapat juga “idiot”. Jadi, Luna tahu, ia memperoleh olok-olokan sebagai gadis gila. Namun, Luna tidak ambil pusing. Luna berkata, “Barang-barangku akan kembali, selalu begitu pada akhirnya.” Dan ia menolak Harry yang menawarkan bantuan untuk mencari barang-barangnya itu.

**

Dalam buku kelima dari seri novel-novel Harry Potter terakhir, J.K. Rowling memang mulai memunculkan tema cerita yang berat, dan mungkin juga kelam. Salah satunya adalah mengenai kematian dan kehilangan orang-orang yang tercinta. Lewat sosok Luna, Rowling ingin berbagi beberapa pandangannya.

Luna Lovegood masih kecil ketika ibunya meninggal. Namun gadis yang mulai beranjak belasan tahun ini kini tumbuh dengan perspektif baru. Luna memang sedih kehilangan ibunya, tetapi ia juga percaya bahwa kelak dia akan bertemu kembali (hlm. 1191).

“Ya, kami terpukul sekali waktu itu,” kata Luna. “Aku masih merasa sangat sedih memikirkannya, kadang-kadang. Tapi aku masih punya Dad. Lagi pula, aku toh masih akan ketemu Mum lagi, kan?”

“Eh—memangnya bisa?” tanya Harry bimbang.

Luna menggeleng tak percaya.

“Oh, masa kau tak tahu. Kau mendengar mereka, di balik selubung, kan?”

“Maksudmu…”

“Di ruang dengan atap lengkung itu. Mereka bersembunyi sehingga tak bisa dilihat, hanya itu. Kau mendengar mereka.”

**

Pustaka

Rowling, J.K. 2004. Harry Potter dan Orde Phoenix. Alih bahasa oleh Listiana Srisanti. “Harry Potter and the Order of the Phoenix”. 2003. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Gambar:

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: