Keris dalam Kebudayaan Indonesia dan Kekristenan

Judul di atas mungkin terlalu luas dan wah. Namun, itulah beberapa kata kunci yang ingin saya kemukakan dalam uraian tulisan saya ini. Pertama, persoalan keris sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Kedua, pergunjingan yang belakangan marak menyangkut klaim budaya oleh bangsa lain. Ketiga, peran kekristenan dalam pekabaran Injil yang bersangkut paut dengan kebudayaan dan hasil-hasilnya, semisal atas keris.

Keris bagi orang Jawa tentu bukanlah sesuatu yang asing. Benda ini biasanya menjadi pelengkap dalam pakaian adat dan turut dikenakan dalam upacara-upacara tertentu. Mungkin karena perannya dalam masa-masa dahulu, kisah-kisah berbau magis sering mengikuti kisah di belakang beberapa keris tertentu. Barangkali kisah yang paling terkenal adalah kisah tentang keris Mpu Gandring yang direbut oleh Ken Arok.

Kisah keris yang sempat mewarnai sejarah Kerajaan Singosari itu, barangkali bisa kita sepadankan sedikit dengan salah satu tongkat sihir paling hebat yang tampil dalam kisah Harry Potter[1]. Konon Albus Dumbledore, kepala sekolah di Hogwarts, adalah salah satu pemilik tongkat sihir paling masyhur, yang dalam “sejarah sihir” rekaan J.K. Rowling itu adalah tongkat sihir yang paling kondang yang tak terkalahkan. Karena hasrat orang untuk memilikinya supaya menjadi yang paling berkuasa, tongkat itu sering berpindah tangan meski kadang untuk bisa mendapatkannya harus melalui pertempuran.

Kisah-kisah buruk dan gelap jelas merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Meski begitu, Albus Dumbledore tampaknya tidak ingin melanjutkan bahwa tongkat sihirnya itu harus tampil lagi lewat suatu pertikaian. Dia berusaha “memperbaharuinya” dengan memberikan suatu konsep yang baru. Cara yang ditempuhnya ternyata tidaklah dengan menghancurkan tongkat itu, tetapi dengan menghadirkan ke dalamnya suatu “kebijaksanaan”.

Pembaharuan Konsep

Pembaharuan konsep atas karya-karya masa lalu dan memaknainya menurut kebijaksanaan masa kini mungkin adalah jalan keluar yang terbaik untuk menjembatani hilangnya mata rantai masa lalu dengan masa sekarang.

Pembaharuan konsep yang dilakukan oleh Dumbledore dan yang kemudian pelajarannya dipetik oleh Harry Potter perihal tongkat sihir yang hebat itu—yakni dengan tidak menghancurkannya—mungkin dapat disebut sebagai suatu jalan tengah atau toleransi atas kebudayaan masa lalu, semacam penghormatan atas karya agung para pendahulu. Namun, bagaimana jika hal-hal semacam ini kita bayangkan dalam dunia nyata kita dalam, misalnya, pekabaran Injil, pewartaan kabar sukacita?

Alkitab demikian luas berisi uraian kisah para nabi, raja, rasul, ataupun gembala yang dapat menjadi rujukan kita dalam kita bersikap atas kebudayaan dan hasil-hasilnya. Ada bagian di mana kita bisa melihat patung berhala dihancurkan, sebagaimana tampak pada kisah terkenal bangsa Israel dengan patung lembu emasnya. Patung itu adalah hasil budaya manusia, tetapi kemudian dihancurkan karena menyebabkan bangsa Israel berdosa (Kel 32:21).

Elia dan Elisa

Dalam kisah lain pada masa raja-raja Israel, Nabi Elisa yang merupakan penerus pelayanan Nabi Elia, tampaknya memiliki suatu “kebijaksanaan” yang berbeda dari pendahulunya itu. Nabi ini terkesan sebagai nabi yang lebih toleran dan tidak memperlihatkan suatu tindakan yang sekeras Nabi Elia. Kita bisa mengamatinya dengan menyimak percakapan Naaman dan Elisa sebagaimana tercatat dalam II Raja-Raja 5: 17–19. Berikut adalah petikan pembicaraan di antara keduanya.

[Naaman berkata:] “Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN. Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku [junjungan Naaman-red] masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu.”

Maka berkatalah Elisa kepadanya: “Pergilah dengan selamat!”

Jika kita mengingat sedikit urutan sejarah peristiwa di atas, maka semestinya pada masa itu kitab Taurat Musa menjadi dasar hukum bagi hidup beragama bangsa Israel atau setidaknya merupakan hukum yang diperjuangkan Nabi Elia. Oleh karena itu, jika kita menyimak isi pembicaraan yang tertulis di atas, Elisa tampaknya memang menunjukkan langkah-langkah pelayanan yang lebih moderat. Coba saja kita bandingkan dengan perintah dalam Keluaran 20:5 jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya yang besar kemungkinan menjadi dasar hukum yang diperjuangkan Elia kala sebelumnya.

Injil Yesus Kristus

Berabad-abad kemudian sesudah Elisa, pekabaran Injil sebagai warta sukacita di tanah yang sama, yakni Israel, dilakukan oleh Yesus Kristus. Dia yang disebut Imanuel memberikan corak pengajaran yang berbeda lagi. Orang-orang pada masa itu menduga-duga tentang diri-Nya. Ada yang mengatakan Dia adalah Elia, Yohanes Pembaptis, Yeremia[2], atau salah seorang dari para nabi[3]. Namun, manakala Yesus yang menanyakan hal itu kepada murid-murid-Nya, Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Dan Yesus menanggapi, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17)

Pertama-tama penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu di sini tentang jati diri Yesus. Dia adalah Mesias. Kitab Matius menceritakan bahwa Elia dan Musa terlihat bercakap-cakap dengan Yesus dalam suatu penampakan yang dilihat oleh Petrus (Matius 17:3-4). Oleh karena itu, rasanya tepat pula jika dalam konteks ini, kita pun tidak menempatkan atau menyamakan sosok Yesus itu sebagai sosok yang menurut kabar atau kata orang yang mengatakan bahwa Dia itu adalah Elia ataupun Musa. Dasar inilah yang hendak kita pakai untuk melihat bagaimanakah sikap atau tindakan Yesus terhadap kebudayaan dan hasil-hasil budaya manusia pada masa pelayanan-Nya.

Saya tertarik dengan mengawalinya melalui pembahasan atas pertanyaan murid-murid orang Farisi dan Herodian yang tertera dalam Matius 22:15-22. Orang Farisi, menurut kamus kecil Alkitab, adalah suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada Taurat Musa dan pada “adat istiadat nenek moyang”. Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak. Sementara itu, kaum Herodian adalah anggota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki keturunan Herodes Agung memerintah atas mereka dan bukan gubernur Romawi.

Pertanyaan yang diajukan kepada Yesus saat itu sangatlah sederhana, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Sebuah pertanyaan yang saya rasa sangat sepele, tetapi sebetulnya membawa konsekuensi yang sangat besar. Pertanyaan itu kelihatannya bisa diajukan oleh seorang murid secara begitu saja. Namun demikian, saya pikir pertanyaan itu maupun jawaban Yesus selanjutnya pastilah sangat termasyhur dan mengagumkan kita yang sering mendengar kisahnya.

“Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.”

Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?”

Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

(Matius 22:19-21)

Yesus dan Kebudayaan

Menyimak penggalan dialog di atas, tersirat bahwa Yesus juga memperlihatkan sikap-Nya atas kebudayaan. Dia, Sang Mesias, bersedia bertukar pikiran dengan masyarakat banyak. Dia tidak hanya mengungkapkan soal gagasan yang bersifat nalar, tetapi juga menyingkapkan suatu pemahaman. Bila kita berandai-andai Nabi Elia hadir pada waktu itu, mungkinkah nabi agung yang diangkat ke surga dalam kereta berapi itu akan memerintahkan untuk menghancurkan mata uang yang bergambar kaisar tersebut?

Orang Jawa dan kekristenan dengan keris yang jadi agemannya mungkin memiliki sejarah dan kisah yang tidak kalah pelik dengan masa pewartaan Injil dalam masa pelayanan Kristus di Israel. Pertanyaannya, apakah pewartaan kabar sukacita yang kita lakukan (atau oleh para penginjil) sepadan dengan yang dilakukan Kristus ataukah dengan Elia?

Ada sebuah tulisan karya Padmono Sk[4] yang sangat menggelitik. Dia menyebutkan di salah satu bagian tulisannya bahwa “Para penginjil yang berasal dari Barat [pada masa kolonialisme –red] menunjukkan sosoknya dengan berbagai perasaan yang penuh keunggulan (superioritas). Karena sifat penginjilan yang dipahami sebagai proses pengajaran seperti itu, maka tentu saja “yang mengajar” merasa lebih unggul dari “yang diajar”. Dalam penginjilan, konsep yang terkandung di dalamnya adalah penaklukan. Konsep itu memang tidak jauh berbeda dengan kolonialisme. Kalau dalam kolonialisme yang dilakukan adalah penaklukan secara politik, kalau dalam penginjilan yang dilakukan adalah penaklukan jiwa.

Dalam catatan kakinya Padmono juga menambahkan “Konsep penaklukan seperti itu juga masih merasuki sebagian besar umat Kristen bahkan yang terinstitusi dalam jaringan doa. Baca buku jaringan doa nasional yang berisi peta Indonesia lengkap dengan tuduhannya seperti “dalam kegelapan” dst.

Kekristenan dan Kebudayaan Jawa

Menurut Drs. Bambang Subandrijo, M.Th., M.A. dalam makalahnya berjudul Mengembangkan Kesenian Jawa dalam Institusi Kristiani (2006)[5], pada masa yang lalu—disadari atau tidak—para misionaris Barat telah menorehkan luka sejarah atas kehidupan jemaat dengan latar belakang kebudayaan Jawa. Mereka telah mengasingkan jemaat dari kebudayaannya sendiri.

Bagi Emde (pekabar Injil dari Jerman pada 1842), tulis Bambang Subandrijo (2006), baptisan berarti meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam “peradaban Kristen”. Dalam hal ini keberadaan jemaat sebagai orang Jawa dianggapnya sebagai kekafiran, sedangkan yang dimaksud dengan “peradaban Kristen” tidak lain adalah peradabannya sendiri sebagai orang Barat. Setelah dibaptiskan, anggota jemaat haruslah melepaskan dhesthar dan menggantikannya dengan topi; menggantikan bebed dan surjan dengan pantalon putih dan jas hitam; mengenakan sepatu sebagai alas kaki, yang sesungguhnya asing bagi orang Jawa waktu itu.

Bambang Subandrijo (2006) dalam makalahnya itu juga menyebutkan bahwa pekabaran Injil pada masa lalu di Jawa bahkan ada juga yang sampai dengan melengkapi peraturan yang nyaris mirip dengan Dasatitah ‘Sepuluh Perintah’. Peraturan itu tiga di antaranya menyebutkan bahwa orang Kristen Jawa tidak boleh mendengarkan gamelan, tidak boleh melihat pertunjukan wayang kulit, serta ketika dalam gedung gereja harus melepaskan ikat kepala.

Mulat Sarira

Nah, bagaimana dengan kita sekarang? Di awal makalahnya Bambang Subandrijo memang sudah lebih dahulu mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan Jawa dan kebudayaan. Salah satunya pertanyaan itu berbunyi, “Bolehkah umat Kristen menjalankan adat-istiadat dan berbagai bentuk kesenian yang mengiringinya?” Pertanyaan seperti ini barangkali gampang sekali diajukan bahkan mungkin segampang pertanyaan yang dilontarkan murid orang Farisi dan Kaum Herodian dalam Matius 22:19-21. Sekalipun begitu, saya kira kita akan sepakat bahwa jawaban untuk pertanyaan itu tentu membutuhkan pemahaman.

Lalu bagaimana jika kita berandai-andai lagi, yaitu misalkan dalam pewartaan Injil itu suatu “dogma” penginjilan semacam dasatitah di atas berhasil disebarkan bahwa hidup Kristen dalam masyarakat Jawa berarti tidak mendengarkan gamelan, tidak boleh menonton wayang kulit, dan menolak adanya keris, kira-kira apa jadinya?

Saya kira cukuplah itu sebagai berandai-andai saja. Sebab jika demikian halnya, mungkin itu artinya kita tidak harus peduli terhadap wayang, gamelan, dan keris yang menjadi buah karya para leluhur kita. Jika pada saat belakangan ini atau mungkin kelak di kemudian hari, hasil-hasil budaya itu diaku-aku oleh bangsa lain, mungkin orang Kristen dengan dogma penginjilan yang digambarkan seperti di ataslah yang pertama-tama terbebaskan dari perlu-tidaknya berkomentar soal kebudayaan. Namun, apakah itu adalah benar-benar langkah yang benar? Apakah tidak sebaliknya, kitalah yang justru harus mengoreksi diri (mulat sarira) dalam hal pekabaran Injil, kabar sukacita yang kita lakukan selama ini?


[1] Harry Potter Seri Ketujuh

[2] Lihat Lihat Matius 16:14

[3] Lihat Markus 8:27–28

[4] Dikutip dari salah satu tulisan dalam makalah berjudul “Mengembangkan Seni (Budaya–Jawa) dalam Peribadatan” oleh Padmono Sk. Disampaikan pada seminar budaya Jawa dalam rangka HUT GKJ ke 75 di Purworejo, 12 Mei 2006

[5] Makalah Drs. Bambang Subandrijo, M.Th., M.A. berjudul Mengembangkan Kesenian Jawa dalam Institusi Kristiani. Disampaikan dalam Seminar “Geliat Budaya Jawa antara yang Dipilah dan Dipilih”, diselenggarakan oleh Sinode GKJ dalam rangka Ulang Tahun ke-75 Sinode GKJ, Purworejo 12 Mei 2006

Tag: ,

3 Tanggapan to “Keris dalam Kebudayaan Indonesia dan Kekristenan”

  1. feri Says:

    kami,bangasa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaa .hal hal yang mengenai pe

    • kisahbangsa Says:

      komentar ini masuk sudah lama sekali. entah dari mana atau dari siapa. tetapi penulis komentar mengaku bernama feri. alamat emailnya mungkin tidak aktif. setelah mempertimbangkan kembali, saya tampilkan saja komentarnya. Mungkin, ia hendak menyampaikan sesuatu waktu itu. pada waktu itu, saya biasa mengakses internet melalui warung internet. namun sekarang, internet bisa pula diakses dari gadget di genggaman tangan.

  2. upay Says:

    kaya cerita apa ya great nice gan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: