Serat Darmawirayat

Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh seorang sahabat saya, “Apakah perlu kita berpuasa?” Bulan itu kalau tidak salah sudah masuk bulan Ruwah. Dalam kalender Jawa, terutama dalam masyarakat yang menganut agama Islam, bulan itu menjadi istimewa karena mengawali bulan puasa, bulan Ramadan yang sungguh dinantikan. Saya sebetulnya tidak bisa menjawab. Saya tidak memiliki pemahaman yang bisa saya utarakan. Dalam beberapa waktu berselang ini tampaknya saya tidak sedang dalam kondisi baik.

Sayangnya kemudian saya menjawab. Menjawab yang menurut saya menjawab dengan asal-asalan. Saya tidak menjawab ya atau tidak. Saya rasa itu sungguh memalukan.

Beberapa hari kemudian, masih dalam bulan Ruwah, saya membuka-buka sejumlah file yang ternyata file tersebut memuat suatu naskah penelitian dari suatu karya sastra pada masa lampau. Karya yang berasal dari sebuah kraton termuda di Yogyakarta, Pakualaman. Karya itu bernama Serat Darmawirayat.

Ada bagian yang menarik yang perlu saya sampaikan berkait dengan karya sastra tersebut Dalam hal ini sang peneliti, Dr. Alex Sudewa, membuat abstraksi yang salah satu bagiannya berisi kalimat-kalimat berikut. “Bertapa pada zaman sekarang berbeda dengan bertapa pada zaman dahulu. Dahulu hanya sekadar berbakti kepada dewa, sekarang bertapa melalui kerajinan bersekolah, membaca buku, dan melatih budi nurani.”

Kalimat-kalimat itu dengan inti yang sama pernah saya dengar dari Bapak saya. Saya kira, saya setuju dan melakoni itu. Di abstraksi penelitian oleh Alex Sudewa itu, saya menjumpai istilah dalam bahasa Jawa yang terdengar begitu indah untuk menggambarkan gaya bertapa dengan adanya perubahan zaman: tapa sajroning praja (bertapa di alam masyarakat ramai).

Demikianlah saya berusaha untuk merenungkan semuanya itu. Saya kagum bagaimana sahabat saya masih mengingat bulan Desember dan turunnya hujan kala saya selesai membuka sebuah karya dari negeri seberang yang disodorkannya, Jepang.

Pertanyaan itu seakan mengingatkan saya bagaimana saya telah berjalan menyimpang dan karena itu saya paham mengapa saya saat itu menjawab asal-asalan. Selama itu, terutama sebelum dan pada saat saya dihadapkan oleh pertanyaan di atas, juga beberapa waktu lalu sesudahnya yaitu sebelum saya menuliskan ini, saya sadari bahwa saya memang tengah bermain-main di tepi jurang.

Bacaan Serat Darmawirayat menghibur saya, lebih tepatnya mengingatkan saya. Kalau boleh, karya itu dapat saya maknai sebagai wejangan tentang darma. Paku Alam III yang adalah penciptanya, sebagaimana tertera dalam abstraksi Alex Sudewa, menuturkan lagi wejangan itu dan saya membaca terjemahan dalam bahasa Indonesianya dan saya merasakan sebagai terang yang bersinar.

Saya terharu. Saya tahu bahwa sekarang saya sendirian untuk melakukan berbagai pertimbangan. Menuruti hati nurani itulah panduan yang mengasah, yang menyodorkan pertimbangan dalam memberikan keputusan. Dahulu saya biasa bertanya kepada Bapak saya, tetapi sekarang tidak bisa lagi dalam bahasa yang terucapkan. Meskipun sejatinya saya sangat rindu ditemani. Saya tahu betapa menakutkan jurang itu karena menyadari berdiri di tepiannya pun sungguh sudah mengerikan.

Saya kira perlu di sini saya kutipkan, salah satu bait yang tertoreh dalam Serat Darmawirayat itu, bait 56. Saya berusaha memakai “terjemahan” sendiri (meski transliterasi tetap dari Pak Alex).

Nadyan tholé sira bisa nulis (Sekalipun engkau dapat menulis, Ananda)

Jawa Arab Mlayu sasaminya (Bahasa Jawa, Arab, Melayu, dan sebagainya)

gambar ngukur étung êntèk (Menguasai ilmu menggambar, teknik, dan berhitung)

lamun nalarmu cubluk (Namun, pemahamanmu sempit)

jalaran wit kurang nastiti (karena kurangnya perhatian)

nitèni layang-layang (mencermati tulisan-tulisan)

sadalêming buku (yang terdapat dalam buku)

êndi srat kang wus dipacak (tentang tulisan yang sudah dicetak)

wus tartamtu surasané maédahi (sudah tentu isinya mengandung manfaat)

tur gampang sinaonan (bahkan gampang dipelajari)

Dua bait Serat Darmawirayat selanjutnya berhubungan dalam pemilihan, mana yang baik dan mana yang buruk. Jika baik, dipakai; jika tidak baik, tak usahlah dipakai.

Akhirnya, apa hubungannya dengan pertanyaan sahabat saya itu? Perlukah kita berpuasa? Saya sekarang mantap menjawab, “Ya.”

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: