Rute 2

Sebetulnya sudah beberapa waktu lamanya saya ingin menulis tentang cerita ini. Sebuah cerita perjalanan ke wilayah timur negeri kami. Wilayah “timur-dekat”. Maafkan saya jika saya menyebut daerah tempat tinggal saya sebagai suatu “negeri”. Namun, sepertinya saya menyukai bentukan kata itu. Rasa di telinga sepertinya juga menyenangkan. Dan yang tentu, saya jauh merasa bersemangat dengan menyebutnya sebagai suatu “negeri” karena kisah ini jadi terkesan sebagai suatu kisah kuno, kisah tentang dongeng-dongeng dan legenda-legenda: tentang masa-masa ketika semua bangsa masih merdeka.
**
Saya merenungkan kembali suatu tuturan mengenai kisah perjalanan PandanArang. Bupati Semarang, yang melepaskan kedudukannya dari jabatan tingginya karena ingin mengundurkan diri dari jabatan duniawi. Mereka, yakni PandanArang beserta istri, berjalan ke selatan dan timur melalui kota-kota (atau mungkin lebih tepat disebut desa) dan memaknai perjalanan itu sebagai suatu peziarahan hidup. Betul, gemanya samar-samar memang masih hidup karena saya merenungkannya pada masa ini. Puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun sesudah itu.
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan dirimu sekembaliku dari Ungaran. Aku tahu bahwa aku sedang turun di sebuah persimpangan. Dari utara aku baru saja pulang dari sebuah hajatan. Menyelesaikan tugasku menghadiri sebuah pesta pernikahan. Kini aku hendak pulang ke negeriku di selatan.”
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan istrimu yang sedikit-sedikit menoleh ke belakang. Dia menggandeng dirimu, tetapi dia juga menatap ke arahku. Ah, mungkin aku tampak gagah di atas kuda tungganganku.”
“Duh, PandanArang. Rupanya istrimu tidak sedang mengagumi diriku. Aku membaca rasa cemas terbayang di sorot matanya. Kedua bola mata itu seakan berkata, ‘Haruskah aku mengikut kakanda dan menjadi petapa meninggalkan gemerlapnya harta yang menyediakan kesukaan tiada tara?’”
“Pergilah Yunda.”
Aku turun dari kudaku, memungut sebuah kerikil emas yang aku yakin tercecer dari bekal yang dibawa Nyai PandanArang.
Matahari menggelincir di barat. Aku masih berdiri di samping kudaku. Sosok-sosok yang tadi kulihat itu sudah menghilang. Awan-awan naik ke gunung menyimpan gulungan mendung.
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan dirimu sekembaliku dari Ungaran. Aku tahu bahwa aku sedang turun di sebuah persimpangan. Dari utara aku baru saja pulang dari sebuah hajatan, kini aku hendak pulang ke negeriku di selatan.”
Tiba-tiba emas di tanganku bercahaya.
Aku tersenyum.
Aku naik kembali ke atas kudaku dan berkata lantang kepadanya, “Ayo kita ikuti jejak mereka.”
**
Cerita tentang perjalanan Kyai PandanArang memang melegenda. Penunjukan nama-nama tempat yang menjadi persinggahan mereka memberikan arah kepada para pengelana tentang tujuan yang ingin dilewati, bergerak dari Semarang ke daerah selatan. Gema cerita itu memang samar-samar pada masa kini. Namun, jika orang mengingat kisah itu, nama-nama tempat yang muncul dapat memberi petunjuk ke mana harus melangkah melanjutkan perjalanan. Ungaran, Salatiga, Boyolali, Jatinom, Klaten. Legenda itu membantu orang dan bekerja seumpama peta yang membentangkan nama-nama kota.

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: