Sophia

Sophia, Ibu Kebijaksanaan
Pemahaman Gender dalam Konteks Kristiani

Noveldastan“Tapi tahukah kau, lima belas ribu tahun—bahkan mungkin dua puluh lima atau tiga puluh ribu tahun sebelum Yahweh tersebut dalam Injil, Tuhan adalah seorang wanita. Sang Dewi Agung pada masa itu bukan sekadar bagian dari sekte pemuja kesuburan atau totem animistik. Ia diakui sebagai pencipta alam semesta dan pemberi napas kehidupan. Ini diakui di seluruh dunia.”
Demikianlah pendapat Thalia Yastrubinetsky, tokoh rekaan Lewis Perdue dalam novel Daughter of God yang diterbitkan oleh Dastan Books (Jakarta: 2006).

Lewis Perdue mengawali bukunya dengan sebuah epigraf yang diambilnya dari salah satu ayat dalam Kitab Mazmur. “Ajarkan kami menghitung hari-hari kami, agar kami mampu menjadikannya sebuah kebijaksanaan.” Mazmur 90:12. Tepat di bawahnya, ia menambahkan sebuah catatan. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia.

Sebagai seorang yang terbiasa dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, saya agak kurang sreg dengan terjemahan yang tercantum dalam novel itu. Rasa-rasanya ayat tersebut harusnya tidak berbunyi seperti itu. Saya merasa yakin sebab saya nyaris hafal dengan baik. Dan setelah saya mengecek kembali kepada Alkitab, buku yang terdiri atas sejumlah kitab dengan Kitab Mazmur yang turut ada juga di dalamnya, saya menemukan versi terjemahan yang seperti berikut (yang saya anggap benar): “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ternyata memang di antara keduanya ada perbedaan terjemahan. Namun, dari situlah kemudian ada hal yang bagi saya menarik. Bukan saja hal itu karena adanya tawaran fiksi Lewis Perdue yang mampu memancing orang untuk memikirkan ulang teks-teks kitab suci seiring dengan kita membaca novel ini, melainkan juga karena munculnya pemahaman baru dengan konteks pemaknaan ayat kitab suci itu sendiri.

Ahli Kitab dan Sophia
Suatu kali dalam kesempatan mencari makna kata melalui kamus bahasa Indonesia, saya menemukan suatu istilah “ahli kitab”. Istilah ini konon merujuk kepada umat Kristiani dan Yahudi yang mewarisi kitab-kitab dari para nabi. Kata “ahli” sendiri dalam makna yang umum pada masa sekarang merupakan suatu jabatan “tinggi”. Kedudukan yang sama artinya dengan “pakar”. Oleh karena itu, kalau kita kemudian iseng-iseng merangkaikan kata “ahli” dengan kata “kitab”, makna “ahli kitab” secara harfiah dapat menjadi “pakar kitab”. Sebuah arti yang istimewa. Meskipun begitu, di balik keistimewaan itu sebenarnya terdapat amanat dan tanggung jawab. Karena dengan berdalih menjabat sebagai “ahli kitab” seseorang pun bisa terpeleset menjadi “penyeleweng kitab”.

Berbekal dasar itu, saya lalu memberanikan diri untuk menerima untuk sementara waktu usulan terjemahan dari novel terbitan Dastan ini meskipun sebetulnya saya ingin mengatakan “terjemahan itu salah”. Akan tetapi, jika demikian, mungkin saya agak kesulitan dalam memahami alur kisah yang ada di dalamnya. Bukankah ada suatu sindiran mengenai suatu perbedaan antara orang bebal dengan orang bijaksana: orang bebal tidak mau menerima nasihat dari orang bijaksana; sebaliknya, orang bijaksana mau menerima nasihat sekalipun nasihat itu datangnya dari orang bebal?

Saya mengawali “penerimaan” saya dengan menduga-duga catatan di bawah epigraf itu. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia. Sebetulnya, siapakah Sophia itu? Mengapa penulis atau penerjemah novel mesti mencantumkan catatan ini dan perlu menyebut kata “Sophia”?

Dalam bagian akhir novelnya, Lewis Perdue memberikan catatannya tentang Sophia. Menurutnya, “Sampai hari ini, gereja Katolik dan kepercayaan lainnya—terutama gereja Kristen Yunani dan Ortodoks Rusia—masih kontradiktif tentang dongeng Sophia. Beberapa, terutama mereka yang mengikuti aliran Gnostik, menyatakan bahwa ia adalah ciptaan utama di seluruh jagat. Yang lain percaya padanya sebagai bagian dari sisi kewanitaan Tuhan. Dan masih ada yang meyakininya sebagai penjelmaan Kebijaksanaan atau bahkan Logos dari Trinitas Kristen sebelum mengalami maskulinitas. Tidak diragukan lagi bahwa bagi sebagian besar umat manusia, Tuhan dipandang sebagai perempuan.” (hlm.625)

Penjelasan yang diajukan Lewis Perdue ini tentu terasa menegangkan. Bagaimana Tuhan bisa dipandang sebagai sosok Sophia atau bergender perempuan?

Thalia Yastrubinetsky, salah satu tokoh yang muncul dalam karangan Lewis Perdue ini —yang boleh jadi juga merupakan representasi pikiran sang pengarangnya sendiri sebagaimana saya tampilkan di awal tulisan—secara terang-terangan menyebutkan bahwa Tuhan adalah seorang wanita!

Sudah tentu kita bisa berburuk sangka dan mengatakan bahwa di sini telah terjadi pelanggaran akidah. Namun, marilah kita tenang sebentar dan memberi kesempatan kepada hati untuk merenungkan. Jika kita mau bertanya untuk menelisik lebih jauh, sebetulnya siapakah yang mampu memahami Tuhan dengan sebenarnya? Apakah manusia yang adalah ciptaan dapat memandang dengan sempurna kepada Dia yang menciptakan? Kembali, Lewis Perdue menyampaikan alasannya, “Gereja Katolik tidak sendirian di antara agama-agama modern dalam ketakutan hinanya terhadap perempuan dan penolakan mereka menempatkan perempuan dalam peran-peran spiritual atau dominan.” (hlm.625)

Surah Amsal Nabi Sulaiman
Sophia dalam novel Daughter of God memang diakui oleh penulisnya sebagai rekaan. Namun maknanya sebagai “kebijaksanaan” rasanya memang dapat kita telusuri dalam tulisan-tulisan kitab suci. Sekali lagi Lewis Perdue berkata, “Baca saja Surah Amsal Nabi Sulaiman, di mana kebijaksanaan memang diakui sebagai milik kaum wanita.” (hlm.624)

Di sinilah saya tertantang untuk mencoba memahami “penerimaan” saya sendiri. Sebagai dasar dalam menyelidiki bahan-bahan yang berasal dari teks kitab suci, makna “ahli kitab” saya rasa boleh saya pakai. Saya mengawalinya dari Kitab Amsal 3:19 yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS). Di sana tertulis, “Dengan hikmat, TUHAN menciptakan bumi; dengan akal budi-Nya Ia membentangkan langit di tempat-Nya.”

Kata “hikmat” dalam bahasa Indonesia berpadanan dengan kata “kebijaksanaan”. Sampai sejauh itu, kita belum bisa menduga apakah “hikmat” atau “kebijaksanaan” itu bergender laki-laki atau perempuan. Namun, marilah kita menyimak Alkitab berbahasa Inggris—dalam perkara ini kita mendudukkan diri kita sebagai “ahli kitab”—kita akan menjumpai bahwa kata “hikmat” atau “kebijaksanaan” yang dalam bahasa Inggrisnya wisdom, ternyata memliki gender dan gender yang dipakai adalah perempuan!

Secara lebih jelas Alkitab versi Revised Standard (RSV) memberikan terjemahan Amsal Sulaiman dalam bahasa Inggris, Proverbs 3:13-15, sebagai berikut. “Happy is the man who finds wisdom, and the man who gets understanding, for the gain from it is better than gain from silver and its profit better than gold. She is more precious than jewels, and nothing you desire can compare with her.”

Tampak dalam kutipan di atas, kata “hikmat” (wisdom) secara jelas ditunjukkan dengan kata ganti she ‘dia perempuan’. Jadi, tak heranlah jika penulis novel Daughter of God itu memandang Tuhan Sang Pencipta sebagai Sang Dewi Agung.

Wacana ini sesungguhnya menyodorkan kepada kita suatu pendapat bahwasanya Tuhan (“kebijaksanaan” yang dimiliki Tuhan) semestinya bisa juga dihayati dari sisi “keperempuanan” (femininitas). Sekalipun begitu, dalam dunia keseharian kita rasanya kita acapkali lebih sering memandang Tuhan dari sisi “kelakian” (maskulinitas). Bahasa kita bahasa Indonesia memang sulit menguraikan hal ini. Namun di sisi lain—barangkali suatu kebetulan—bahasa Indonesia justru telah menampilkan kelebihannya dengan tidak membedakan Sophia (hikmat atau kebijaksanaan atau wisdom) itu dalam sekat-sekat gender. Suatu kebetulan yang mestinya dapat pula kita hayati bahwa bangsa Indonesia tidak membeda-bedakan gender. Jika kita menggali lebih dalam, tersiratlah juga bahwa bangsa Indonesia ternyata mengakui kesetaraan antara kelakian (maskulinitas) dan keperempuanan (femininitas) dalam kedudukan yang sama.

Dalam penggambaran dunia tentang kesatuan dan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan barangkali yang paling mendekati itu adalah konsep tentang pernikahan. Seorang Pengkhotbah merenungkannya seperti berikut. “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya. Pada malam yang dingin, dua orang yang tidur berdampingan dapat saling menghangatkan, tetapi bagaimana orang bisa menjadi hangat kalau sendirian?” (Pengkhotbah 4:9-11, BIS)

Demikian juga jika kita membaca ulang Amsal 3:13-15 berdasarkan versi bahasa Inggris itu, bukankah tulisan tersebut seolah tampak sebagai metafora kehidupan yang terlihat dalam konsep pernikahan? Seorang laki-laki (the man) memang sungguh berbahagia jika mendapatkan “wisdom” (kebijaksanan ‘dia sang perempuan’). Metafora itu sepertinya juga dijelaskan lagi dalam Amsal 31:10 (lanjutan “Surah Amsal” itu) untuk menjawab suatu pertanyaan tentang siapakah yang lebih berharga daripada permata. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.”

Kitab Amsal memberi petunjuk bahwa kebijaksanaan (Sophia) tidak bisa lepas dari sosok perempuan. Sayangnya, kita juga jarang menyadari hal itu karena semakin pudarnya pemahaman tentang kebijaksanaan. Mungkin, tanpa Sophia, “Ibu” Kebijaksanaan, kita hanya akan melangkah di tengah kegelapan.

J. Widiyatmoko

Naskah ditulis dalam rangka Lomba “Amazing Moms” di milis sekolah kehidupan

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: