Rute 1

Prapanca dalam buku Negarakertagama meliput perjalanan Hayam Wuruk di Jawa Timur. Sebuah kenangan tentang perjalanan raja di wilayahnya.

Perjalanan kemarin bagi saya mungkin merupakan perjalanan yang terpanjang dengan berkendara kuda. Dan mungkin adalah suatu kebetulan, perjalanan itu juga menjadi perjalanan mengelilingi Gunung Merapi. Gunung yang menjadi pusat perhatian raja yang duduk di singgasana di istana Jogja.

Saya berangkat dari rumah untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan di sebuah kota bernama Ungaran. Beberapa waktu silam, saya sudah pernah mencapai Muntilan. Dan Minggu itu mungkin saya akan meneruskannya, melampaui Magelang, dan naik ke arah Secang.

Namun, satu hari sebelumnya, sore-sore saya ragu. Mungkinkah saya akan tetap berangkat ke tujuan? Ada banyak pikiran yang kemudian melintas, tentang beberapa hal.

Tapi kemudian, saya pun membulatkan hati untuk tetap berangkat.

Pagi itu Bethara Surya sudah naik sepenggalah. Kira-kira pada pukul itulah saya kemudian melaju ke barat. Melewati jalan-jalan kampung yang masih wilayah Kalasan, lalu berbelok ke utara ke arah Bromonilan, lewat pohon beringin, terus ke utara dan sampai ke Ngemplak (?). Saya mencari-cari jalan ke barat ke arah Besi, tapi persimpangan itu sempat saya lewati karena saya keterusan memacu tunggangan ke utara.

Sepanjang perjalanan ke utara Bumi Utara Jogja itu, di sebelah kiri jalan tampak ada proyek pembuatan selokan. Sebagaimana jalan utama dekat kampung saya sebelah barat, proyek yang sama, sepertinya baru akan dimulai di daerah tersebut. Saluran irigasi memang diperlukan untuk mengairi sawah-sawah petani. Tetapi selain itu, proyek pembangunan ini setidaknya juga dapat membantu penduduk memperoleh pekerjaan. Para tukang-tukang batu dan mereka yang pekerjaannya di sektor ini.

Ujung jalan di Besi adalah jalan menuju Kaliurang. Jalan ini mungkin adalah jalan dahulu yang pernah saya lalui dengan berjalan kaki. Mungkin dahulu belum seramai ini, belum banyak toko-toko, tempat jualan di kiri kanan jalan.

Saya terus naik ke utara, melewati sebuah Pawiyatan Luhur di sisi kiri saya. Di sisi kanan ada Yakkum, dan ketika mendekati pasar di wilayah Pakem, sebuah rumah sakit bernama Panti Nugroho berdiri.

Saya akhirnya mencapai ujung jalan, persimpangan tempat saya ingin berbelok ke barat. Saya agak bingung dengan rambu di sekitar sini. Lampu lalu lintas ada di sisi kanan, tetapi kalau terus tidak memakai lampu itu.

Saya berbelok ke kiri, ke arah Turi. Di sisi selatan jalan di sana ada tempat makanan kuda. Di situlah saya berhenti, membeli cadangan asupan kuda dengan petugas mengucapkan, “Saking nol njih Pak. Sedasa.” Dan saya tersenyum dalam hati.

Di daerah Turi banyak tanaman salak. Yang terkenal di Sleman adalah salak pondoh. Salak ini konon memiliki rasa yang berbeda dengan salak bali.

Jalan alternatif ke Magelang melewati Turi berbelok-belok. Kadang saya merasa berada terlalu di sisi utara, atau malah terlalu ke selatan untuk bisa segera masuk daerah Tempel. Meskipun begitu, jalan di daerah ini terbilang bagus dan halus. Hanya tatkala mendekati ujung, ketika hendak memasuki Tempel, ada rambu lalu lintas yang meminta perhatian untuk mengambil jalan ke selatan, karena di jalan utama kabarnya tidak bisa dilalui karena ada proyek jembatan.

Tempel menjadi perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Ada jembatan raksasa di sana. Tempatnya begitu tinggi, demikianlah gambaran saya, mungkin laksana bangunan pada masa Raja-Raja Persia dan Media. Melewati jembatan itu, saya masuk ke wilayah Magelang.

Kota kecil di wilayah Magelang yang cukup terkenal adalah Muntilan. Dari sisi timur kota ini tampak sepi-sepi saja. Satu dua toko mulai terlihat. Tetapi ketika masuk terus, mulailah terasa keramaiannya sebagai pusat kota: ada pasar di sana, dan ada terminal bus di dekat ujung sebelah barat. Ada suatu kesan yang aneh, tentang manusia. Dari sepi yang seperti tidak ada kehidupan, berubah menjadi ramai dengan segala keragaman.

Magelang dari selatan juga mulai menampakkan perubahan. Meski ada beberapa yang perubahan tidak terlalu tampak, sebagaimana keramaian di dekat pabrik kertas. Kalau tidak salah, saya menyangka sudah sampai di tujuan dan turun di sekitar daerah ini pada masa yang sudah silam. Pasar hewan Minggu itu yang ada di sisi timur tampak ramai. Namun, saya tidak terlalu memperhatikan. Dahulu, ketika saya lewat, pasar sapi itu biasa sepi, mungkin tutup karena memang bukan hari pasarnya.

Saat tahun lalu saya melintas ke arah Magelang, saya agak terkejut dengan bangunan besar dekat seminari menengah. Bangunan baru yang terasa begitu asing. Dahulu sepertinya belum ada bangunan itu. Tahun lalu saya turun di depan New Armada. Masih pagi, sekitar jam 6. Jalan sudah cukup ramai. Saya mampir di sebuah warung di sekitar depannya, dan beli soto. Saya lapar, belum makan.

Magelang memang indah. Saya menyukainya.

Magelang ke utara, keramaiannya juga mirip Muntilan. Namun sebagai kota, Magelang memang terasa lebih besar daripada Muntilan. Kota yang menjadi tempat penangkapan Diponegoro ini, masih terasa sejuk meski terbatas pada daerah-daerah tertentu yang memiliki pepohonan seperti Bukit Tidar, atau daerah Magelang ke utara yang ke arah Secang.

**

Dengan revisi seperlunya tulisan ini dipublikasikan guna menyambung ke Rute 2. (3 Agustus 2009)

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: