Benarkah Begitu Bu?

Suatu kali seorang ibu baru saja pulang menjemput anak-anak dari sekolah dengan mengendarai BMW. Ibu itu menjadi sopirnya, anak yang bungsu yang baru masuk TK duduk di sebelahnya, sementara sang kakak duduk di bangku belakang. Tiba-tiba ketika sampai di sebuah traffic light dan lampunya merah, anak yang paling kecil berbicara kepadanya.
“Ibu, kenapa anak-anak itu tidak sekolah?”
Dari belakang stir, si Ibu melihat kepada sekerumunan anak yang tengah meminta-minta yang ditunjukkan oleh anak di sampingnya.
“Karena mereka tidak punya uang buat sekolah, anakku.”
“Kasihan sekali. Tapi kenapa orang tuanya sampai hati?”
“Karena mereka tidak punya harta,” celutuk kakaknya dari bangku belakang. “Bukankah ada tertulis di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Karena mereka tidak punya harta, ya mereka pun tidak punya hati.”

”Benarkah begitu Ibu?”

Si Ibu tertawa. ”Nanti kita tanya kepada ayah kalian. Ayah kalian tidak punya harta waktu menikahi Ibu….”

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. (Amsal 31:25, 26; TB LAI)
Catatan 3 dan 4: 2 Juli 2007, dua paragraf terakhir ditambahkan 20 Agustus 2008

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: