Vernakular

6 Oktober 2016

Mengikuti seminar arsitektur, mengenalkan saya kepada sejumlah peristilahan baru. Satu di antaranya adalah arsitektur vernakular. Apa itu? Jika Anda menyimak pencarian google, wikipedia memberikan keterangan sebagai berikut.

Vernacular architecture is an architectural style that is designed based on local needs, availability of construction materials and reflecting local traditions. (Arsitektur vernakular adalah suatu langgam arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan setempat, ketersediaan bahan bangunan dan pencerminan tradisi lokal.)

img_20160928_102719Salah satu rumah warga di Desa Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar

 

Yang “Mahatahu”

10 September 2016

Seperti apa sebetulnya luas dan dalamnya pengetahuan Anda?
Saya terkejut. Rupa-rupanya, dalam suatu percakapan maya, dalam keterhubungan sesorang dengan jaringan Internet ini, nyaris siapa saja, orang besar orang kecil, siapa pun Anda, dapat menjadi Yang “Mahatahu”.
Betapa tidak. Jika seseorang bertanya kepada Anda tentang sesuatu, yang ia tidak tahu, dan itu ia tuliskan kepada Anda melalui sms, sementara Anda menerima sms itu melalui ponsel pintar Anda, maka Anda bisa membantu menjawab dengan mencari hasilnya melalui fasilitas mesin pencari macam Google Search.
Dan, Anda menjadi Yang Mahatahu.
Benarkah Anda menjadi Yang mahatahu? ataukah anda pun sejatinya tidak tahu, tetapi Anda mencari tahu dari Yang Mahatahu?
Ah, renungkan sendiri.

Kebebasan

11 Juni 2016

Uf.

Membayangkan jaringan di dunia maya ibarat membayangkan dunia tanpa batas. Jika kita mengandaikan sekian miliar penduduk Bumi terhubung dalam jaringan internet ini, saya ngeri membayangkan sekian miliar imajinasi.

Dari blog seorang kawan, kabarnya pernah muncul suatu tulisan, dan diimajinasi sebagai suatu bentuk ujaran. Dari situ ujaran diterjemahkan sebagai bentuk gagasan, dan gagasan itu dianggap bertentangan dari kebiasaan.

Ada pula seorang penulis di sebuah wordpress memajang sebaris pernyataan gagasan, menyiratkan keluhan dalam bentuk tulisan, seakan syok menerima beragam tanggapan karena ekspresinya di jagat jaringan. Dalam jagat jaringan orang dapat membaca, baik sekonyong-konyong mampir, menyelonong membaca, tertarik pada kata-kata, memperoleh gagasan, mengirimkan pendapat, mengajukan surat elektronik, dan berprasangka: Apakah Saudara menebar hasutan?

Kebebasan.

Sebagaimana di awal betapa ngeri saya membayangkan sekian miliar imajinasi di atas, betapa nisbi juga makna kebebasan, dengan pengandaian ketakberwatasan imajinasi. Itu setidaknya melintas dalam imajinasi, angan-angan, benak manusia.

Perangkat Elektronik

16 Mei 2016

Sekelebat saya berusaha mencerna kembali penggunaan internet dan gadget saya.

Pada waktu lalu, ketika internet bukan sesuatu yang melekat, dalam arti, gadget belum marak di mana-mana dan orang belum ngeh tentang internet dan semacamnya, tetapi perusahaan/kantor/instansi banyak beraktivitas dengan komputer dan jaringan, lalu apakah atas nama produktivitas, perusahaan/kantor/instansi akan melarang atau membatasi akses informasi dengan misal: pengambilan kebijakan “meng-off-kan” aktivitas media sosial, koneksi Wireless, Inter-net? Namun, bagaimanakah ini bisa dipraktikkan?

Jika dahulu ponsel hanya sebatas untuk pengiriman pesan singkat atau bertelepon, kini ponsel dapat untuk beraktivitas berjejaring, memainkan game, dan sebagainya.

Dalam hal ini, apakah karyawan kemudian harus mematikan ponsel-nya saat bekerja, menitipkannya di ruang penjagaan, komputer dibatasi kepada jaringan email saja, dan pengetatan-pengetatan yang lain?

Atau, adakah alternatif yang lain?

Serius, Saya Nyampah!

1 Maret 2016

Belakangan ini ternyata saya banyak membuat catatan-catatan kecil. Pokoknya, saya “nyampah”. Habis, catatan itu saya buat di sebarang kertas, kertas-kertas, yang sebagian adalah gratisan, sebab saya peroleh dari beberapa pertemuan. Biasanya, (sekarang, beda dengan dulu) kalau datang ke sebuah pertemuan, saya memperoleh buku/notes. Nah, di situ notes-notes itu saya koleksi, menumpuk kayak gudang kertas/notes. Namun belakangan saya akhirnya mengeluarkan koleksi-koleksi saya itu, saya pakai untuk membuat catatan-catatan. Sering (atau kadang) saya merasa catatan itu penting. Namun, seberapa pentingkah, toh saya hanya mengonggokkan. Maka, “dari gudang” notes koleksi itu telah saya isi dengan beragam coretan. (Apakah coretan itu sampah? Ataukah notesnya yang sampah? Kalaupun saya buang, toh isinya hanya tulisan?)

Namun, ada juga notes, yang nasibnya benar-benar saya buat jadi sampah. Pernah saya menengok, melihat lagi catatan-catatan yang saya buat di dalamnya. Namun, saya malah itu hanya mengisi lagi otak saya, mengangkat lagi kenangan dari masa lalu, dan ketika saya bandingkan dengan masa kini, ternyata kenyataan atau isinya jauh berbeda, maka akhirnya, notes-notes itu saya buang ke keranjang sampah. Isinya? Ah, nonsense! Omong kosong.

Notes, dan catatan-catatan tangan itu, sepertinya kelihatan begitu tradisional sekali ya? Mungkin Anda bakal berkata nyinyir. Ini orang, gaptek betul. Bikin catatan masih menggunakan notes. Ah, saya juga bisa sepakat, tetapi bisa juga tidak sepakat. Penggunaan notes memang amat tradisional, apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Ada banyak gawai, pilihan perangkat elektronik, yang nyaris sudah terasa sulit lepas dengan keseharian saya, atau mungkin keseharian Anda juga. Dulu, saya jarang sekali menenteng ponsel, ehm… maksud saya, saya dulu termasuk penganut paham konservatif. Dosen-dosen saya mengenalkan “istilah” ini. Konservatif.

Pertama, seingat saya dosen yang berkata itu bercerita tentang dosennya. Dosen yang bercerita ini sekolah di Inggris, sedangkan dosen yang ia gunjingkan bersekolah di Amerika, atau Kanada, entah. Ia menyebut, bahwa dosen yang ia sebutkan, konservatif, sebab, ia tidak meneteng ponsel. Waktu itu, ponsel belum menjamur seperti di sini, hanya orang tertentu saja yang memiliki.

Bagaimanakah seorang dosen, tanpa menggunakan ponsel, mengajar di depan mahasiswanya? Apakah, gengsinya tidak turun? Mungkin ini bedanya pendidikan yang ada di perguruan tinggi yang kebetelulan saya kuliah, atau berkesempatan mengenyam pendidikan di situ. Nyaris, gawai-gawai, atau perangkat lunak, pengolah data secara elektronik, perlu kami pelajari secara mandiri. Matakuliah, “teknologi ***” misalnya, tidaklah mempelajari teknologi-nya. Barang-barang seperti itu, mungkin hanya dapat diperoleh dengan mengimpor. Membeli dari vendor. Riset, atau penelitian saya, juga relatif jauh dari teknologi, atau bersentuhan dengan teknologi. Mungkin, hanya saat membuat laporan saja, saya bersinggungan dengan teknologi. Akibatnya, riset atau penelitian itu mungkin juga sekadar teronggok saja di perpustakaan, tak terlalu dilirik pabrik, vendor, atau untuk pengembangan teknologi kita sendiri.

Kalaupun saya perlu berancang-ancang melakukan penelitian, memang paling murah adalah menulis buku. Menulis, sekarang hanya membutuhkan biaya pulsa, atau kalau perlu mencetak, hanya butuh kertas, dan sekali lagi, kalau tidak laku, maka sekali lagi, saya “nyampah”.

Namun, dari menyampah itu, ada kepuasan tersendiri juga. Karena saya menyadari bahwa omong kosong, atau nonsense, dapat kita pelajari, dari hal-hal kecil, ketika saya membuat catatan, atau tulisan-tulisan pendek. Tulisan, yang barangkali tidak ada nilai ilmiahnya, dan akhirnya, kertas yang kita coret-coret itu kemudian kita robek, remas, genggam sampai jadi bola-bola kertas, dan kita lempar ke keranjang sampah.

Saya, rupanya, merasa juga bukan hanya sekadar tulisan saya, yang sampah, saya amati ada buku bacaan saya, saya pikir juga tidak terlalu berguna, karena isinya, saya timbang-timbang, juga penuh dengan sampah: omong kosong. Itu pun, saya buang saja ke keranjang sampah!

Dan ketika saya sadar, ternyata saya cukup banyak, atau terlalu banyak menulis atau bekerja dengan komputer, dan ternyata, begitu saya timbang-timbang lagi, apa yang saya lakukan, atau saya kerjakan, atau saya tulis, atau yang saya biarkan tersimpan, file-file, foto, dokumen, ataupun paparan, di perangkat keras penyimpan di komputer saya ternyata juga sekadar omong kosong, nonsense, maka betapa menyenangkannya, ketika semua file itu kita lenyapkan. Format the disk? Yes.

Saya, apakah menurut Anda sedang nyampah? Ah, salah Anda saja mengapa membaca tulisan sampah saya. Sepertinya, saya tidak lagi menjadi penganut konservatisme, sebab mungkin, seperti Anda, saya kini kerap meneteng ponsel, gawai kecil nancanggih, dan bergelut dengan gelontoran meme-meme dalam jejaring dunia maya ini.

Sampah? Ah, dasar omong kosong!

Januari

31 Januari 2016

Ada perubahan dalam tampilan wordpress. Tentu, itu buah keahlian para perancang, yang tak berhenti berinovasi.

Media sosial dengan adanya internet, memang memberikan keragaman dalam bermacam pilihan, baik itu informasi, infotainment, maupun entertainment itu sendiri.

WordPress, adalah pilihan blog, selain “blog” itu sendiri yang sempat melintas dalam kelindan perinternetan yang saya temui. Seperti halnya, perkakas-perkakas lain yang belakang muncul dijumpai di jalur maya ini, weblog relatif mudah dipergunakan di saat kemudahan diperlukan untuk memperoleh tayangan web, yang bisa: tidak saja menyajikan teks, tetapi juga gambar, bahkan video!

Mengenai wordpress ini, tempat saya mengunggah sejumlah tulisan, media ini menjadi semacam peluncuran pers, media publik, sehingga beberapa kawan, teman, sahabat, dapat turut membaca (apabila berkenan), tentu saya perlu menuliskan sesuatu yang pada hemat saya “bermutu”. Namun, pada kesempatan lain, karena seperti halnya blog, atau weblog, yang sifatnya lebih personal (apabila tidak dikatakan privat atau pribadi), maka saya mohon maaf sekiranya tidak semua muatan tulisan saya yang saya unggah bersifat umum.

Ada beberapa pergeseran, baik tema maupun frekuensi kepenulisan saya, di blog ini. Tema dengan visi ideal (atau idealis?) dengan alamat url “kisahbangsa”, semacam tutur atau kisah, dengan bangsa adalah ikatan komunal, meski dalam perjalanannya tidak sedemikian barangkali.

Sejauh ini, kawan atau teman, mungkin berbaik hati, atau sudah berbaik hati, menyimak dengan kelapangan dada, sebab toh, yang nyata di luar yang maya ini kurang lebih menjelma dalam rekaman tulisan saya. Karena dari situ, ada semacam tekad justru muncul agar saya tetap juga aktif menuliskan sesuatu, atau mengisi blog ini setiap bulannya.  Namun sekali lagi, bukanlah untuk selalu menyediakan bacaan yang selalu sejalan dengan pencarian Anda, barangkali, karena toh, ini adalah blog, dengan segala konsekuensi opini, dan mungkin bersifat pribadi.

(Melanjutkan kepenulisan dalam blog semacam ini, memang dapat membawa kita kepada kesadaran tentang “waktu”. Seorang teman, pernah berujar “ia menyukai model pengarsipannya”, tempat ia bisa mengecek, apakah bulan ini atau suatu waktu ia mengunggah tulisannya. Namun, bagi saya, kesadaran waktu juga menggelisahkan saya, umur, tua, kehidupan sosial, … , dan kadang itu menyedihkan, membawa kemurungan, iri hati, dan semacamnya.

Meski begitu, menulis juga menghibur diri. Menghibur dalam arti bahwa saya menyemangati diri, sambil kadang merasa bangga menyimak statistik wordpress: pencari yang kesasar ke blog saya atau sengaja menyisir mesin pencari, sengaja hendak mencari seluk-beluk tentang saya atau tulisan saya.

Ah, sudahlah.😉

Salam.

 

IT dalam Gelagat Sosial (Media)

29 Desember 2015

Menonton gelaran pameran komputer bulan ini[1] di Jogja Expo Center melambungkan ketakjuban saya dengan perkembangan teknologi informasi. Sungguh saya ternganga dengan dahsyatnya manusia, dalam membuat aneka perangkat informasi. Smartphone? Oh, bukan. Saya tidak sedang berdecak kagum pada smartphone, ‘telepon pintar’.

Smartphone dalam pandangan saya belakangan ini hanya mengesankan sebagai penampung software saja. Ia tidak menawarkan kedalaman manusia dalam berkreasi, meski saya akui software smartphone berkembang juga luar biasa, bahkan bisa diperoleh “Cuma-Cuma”. Cuma-Cuma memang mengkhawatirkan, dari salah satu perspektif pandang.

Namun begitu, saya kaget dengan inovasi scanner, atau alat pemindai. Salah satu kemajuan teknologi informasi yang setengah dahsyat (atau mahadahsyat?). Betapa tidak, yang menarik hati saya adalah re-inventing mesin faksimile (berbentuk seperti keranjang printer), tetapi ia mampu bermetamorfosis menjadi pemindai naskah, setara scanner-scanner yang bentuknya model flat-bed. Aduh, siapa sangka? Menurut saya, ini inovasi (re-inventing?) jenius.

Bayangkan, saya bisa mengkopi naskah hanya dengan memasukkan ke keranjang printer itu lembar demi lembar, lalu hasil dibaca oleh pemindai dan diterima serta diolah komputer dengan software pengkonversi ke pengolah kata. Sungguh, saya mungkin bakal bangkrut, bila buku-buku saya dibajak, dan dikonversi ke file-file berbasis pengolah kata ini. (Itu jika saya adalah penerbit atau jika saya seorang penulis.) Ada kemudahan bagi orang membajak karya-karya orang, atau karya-karya saya, atau karya-karya buku dari penulis siapa saja. Andai, orang membajak, lalu mengirimkannya ke koleganya, mengunggah di jejaring sosial, duh…

Google translate juga kemajuan luar biasa. Begitu Anda berhasil mengalihkan naskah-naskah dalam hardcopy suatu naskah, sehingga tampil dalam format softcopy perangkat lunak pengolah kata. Copy-paste-kan ke google translate, lalu pilih bahasa Indonesia, jika teks dalam bahasa Inggris, dan Anda pengen menerjemahkannya. Selesai sudah. Profesi saya sebagai penulis, bakal melambung dengan metode ini, copy-paste-translate, pokoknya, klik-klik dan klik, eureka! Saya berhasil jadi kondang dengan profesi baru: penerjemah buku, P. Atau Anda pengin tahu, bagaimana menjadi penipu, atau mengubah salinan naskah, memalsukan, atau beritikad menyebar gonjang-ganjing, atau entah berita palsu, rasanya, semua itu bisa Anda lakukan dalam aksi di tangan Anda.

Tabik.

 

[1] Frasa bulan ini tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada bulan Desember ini.

Bali

28 November 2015

IMG_20151121_092640

Ada spam masuk ke kotak surel saya.Hanya saja saya tidak dapat mengunggahnya di sini. Saya lupa, pernah muncul di mana. Namun begitu, isinya menyinggung sedikit tentang konteks pakaian adat jawa. Sementara ini, tidak banyak kegiatan yang mempertemukan saya dengan pakaian jawa, tetapi nyaris di “pertemuan” yang saya ikuti, makanan bertebaran di sana.

Jadi, kita unggah saja foto di atas.

Jika Anda pernah berjumpa dengan makanan kecil nogosari, maka itu adalah sejenis nogosari. Di jawa mungkin dikenal dengan istilah “tetel”. Tetapi tetel yang pernah dibuat di dapur kami lebih kepada melumatkan pisang dalam balutan gandum.

Nogosari di atas, juga bukan nogosari seperti di jawa. Itu adalah pisang isi untuk gandum dalam balutan daun kelapa muda. Rasanya, khas. Seingat saya, ada semacam rasa asin, pada pisangnya.

Kueh itu kami makan pada suatu acara seminar di sebuah gedung pertemuan di pulau bali.

Rawon

31 Oktober 2015

Sejauh ini kita sampai pada penghujung bulan. Penduduk di negara di belahan lain Bumi, barangkali merayakan Hellowen (atau Halloween?), tetapi di sini, kami mendapat info ada pentas kelompok musik dengan nama itu.

Lupakan sebentar tentang Helloween, kembali kepada wordpress ini, saya merasa naskah pada “blog” dengan domain ‘rilis tulisan’ wordpress ini mulai memperoleh sejumlah perhatian (merujuk kepada hitungan rekapitulasi pencarian data yang ada), khususnya berkait dengan pakaian adat jawa. Sayangnya, untuk naskah tersebut saya sekadar menulis sebagai ingatan saja, tanpa bermaksud menyajikannya sebagai suatu kajian ataupun pendalaman. Namun begitu, dari sisi yang lain, pendekatan menulis yang saya lakukan tersebut dalam hemat saya dapat disejajarkan juga sebagai metode penyajian data dari sumber primer (lepas dari kajian literatur sebagai patron baku dari buku primbon atau petuah-petuah pada era silam). Artinya, bahwa pada orang jawa pada masa kini, perhatian tentang seni atau tradisi mengenakan pakaian adat, mengalami perubahan-perubahan, terutama karena minimnya pembelajaran dari sumber bakunya. Biasanya, orang jawa melakukan adaptasi-adaptasi sebagaimana tersirat dari tulisan tentang pakaian adat jawa. (Lihat Catatan tentang busana adat jawa)

Sungguhpun ada banyak adaptasi, sepertinya ada banyak pula lainnya  yang menaruh perhatian kepada atau menyimak patron aslinya. Gejala ini setidaknya dapat kita amati dari berbagai unggahan di media Internet seperti youtube. (Silakan melakukan pencarian dengan Google Search dengan kata kunci seperti “cara mengenakan jarik”, dsb.)

Nah, perihal makanan tradisional, sepertinya tidak banyak yang merujuk kepada wordpress ini. Mungkin tidak populer. Namun begitu, perlu juga saya tulis di sini sebagai catatan.

Bulan ini saya mampir ke sebuah warung, lumayan, (desainnya mendekati semi-resto, masih dalam tahap konstruksi), yang menawarkan menu rawon. Apa itu rawon?

Rawon merupakan menu lauk berkuah, dengan isian potongan daging sapi dan kecambah. Namun, berbeda pada resto ini, potongan daging sapinya disajikan terpisah dalam bentuk “empal”. Mengenai racikan bumbunya, mungkin lain kali saya akan mencari tahu.

Salam.

September

30 September 2015

Minggu-minggu ini adalah musim induk ayam tetangga menggembalakan anak-anaknya. Tanah kami dibuat porak-poranda.

Kejadian ini berulang. Dulu, tanaman saya jungkir balik akibat diacak-acak ayam, dan sekarang tanah di depan rumah. Kami mengeluh. Menanam itu kami berpeluh. Pernah, kami memprotes, kenapa empunya induk ayam justru lepas dari teguran. Sementara kami, dicari-cari celah kesalahan. Entah pohon-pohon kami yang katanya, terlalu rimbun-rindang. Entah …

Pernah kami memprotes, mengapa air cucian motor tetangga, mengalir ke selatan, membuat pandangan tak sedap, melintas jalan. Namun, mereka tetap saja tak merasa ada pelanggaran estetika.

Keluh kami tidak digubris. Protes kami karena mereka mencaci-maki. Intimidasi menyerang harga diri.