Sekali Lagi tentang Pascabayar

8 Juni 2017

Saya tiba-tiba teringat mengenai pelayanan telepon di salah satu penyedia layanan ketika seorang petugas rumah sakit menanyai identitas saya di suatu loket pendaftaran pasien.

 

Apa hubungannya layanan rumah sakit dengan layanan operator telepon? Pada suatu kesempatan di depan loket pendaftaran pasien di sebuah rumah sakit ketika hendak mendaftar berobat, saya tidak mengantongi kartu pasien. Petugas pun menanyai identitas saya sambil mencocokkannya dengan hasil pencarian dari database yang ia (rumah sakit) miliki. Dan salah satu yang ia lakukan dalam mengkonfirmasi identitas saya adalah menanyakan nomor telepon saya.

Di rumah sakit tersebut informasi nomor telepon yang tersimpan adalah nomor telepon saya yang lawas, yang sudah “divonis” hangus oleh penyedia layanan telepon. Memang, ada perasaan kecewa atau sedih mengenang peristiwa hangusnya nomor telepon saya. Seingat saya, pernah ada pesan masuk berupa pemberitahuan bahwa kartu telepon saya berada pada masa tenggang. Namun agaknya saya luput memperkirakan batas masa tenggangnya. Hingga selang beberapa waktu setelah itu, pesawat telepon nirkabel saya tidak memperlihatkan tanda-tanda sinyal masuk.

Saya menghibur diri bahwa pasti ada harapan. Benak saya merancang-rancang kemungkinan bahwa saya akan mengadukan kepemilikan nomor itu melalui layanan konsumen di gerai operator (penyedia layanan) telepon. Setidaknya, rancangan demikian timbul mengingat dahulu saya pernah menyampaikan laporan kehilangan ponsel (termasuk kartu telepon di dalamnya). Seorang petugas yang bersimpati memberikan pelayanan dengan ramah kepada saya. Ia menyampaikan bahwa klaim saya diterima. Saya tidak dipersulit atau mengalami banyak kesulitan (apalagi harus menyertakan sepuluh nomor telepon yang terakhir saya hubungi atau menyampaikan salinan berita laporan kehilangan dari kepolisian). Kemujuran ini rupanya karena saya dapat menunjukkan bungkus yang memperlihatkan nomor telepon itu.

Dalam hubungan konsumen dengan penyedia layanan, “bungkus” kartu telepon rupanya dapat menjadi bukti tertulis mengenai perjanjian yang saya buat dengan penyedia layanan (meski sejatinya, saya tidak pernah berikhtiar mengikat perjanjian dengan penyedia layanan). Pengalaman ini melatarbelakangi saya untuk mengajukan kembali klaim serupa. Namun berbeda dengan pengalaman yang silam, kali ini saya tidak menyertakan alasan “kehilangan ponsel dan kartu telepon”. Sebab, memang bukan ponsel dan kartu telepon saya yang hilang, melainkan sinyal teleponnya yang hilang.

Sayang, kepolosan saya kali ini tidak berbuah apa-apa. Petugas yang menjumpai saya mengecek sebentar pada perangkatnya. Lalu ia menyampaikan bahwa kartu yang saya gunakan sudah melewati masa tenggang. Si petugas layanan berujar bahwa nomor tersebut tidak dapat diaktifkan (meskipun begitu, ia memberikan kesempatan kepada saya untuk mengajukan klaim kepemilikan nomor tersebut melalui cara pengalihan sistem, yakni dari sistem prabayar menjadi pascabayar). Saya menolak.

Pada waktu itu ada rasa dongkol di hati saya. Namun, penolakan itu saya sadari juga berlandaskan pertimbangan. Apa pertimbangannya? Saat saya ke layanan operator tersebut, nama dan identitas saya diminta. Artinya, database yang menghubungkan kepemilikan nomor telepon dan identitas saya mestinya sudah dipegang oleh gerai yang saya datangi. Kalaupun saya bersikukuh memilih model prabayar, bukankah itu juga hak saya?

Namun entah. Berbeda barangkali dengan listrik prabayar yang tidak berakhir dengan penyegelan jika Anda gagal membayar tiga bulan berturut-turut (?). Tidak demikian halnya dengan layanan telepon nirkabel ini. Jika Anda sudah melampaui masa tenggang, artinya Anda (baik setuju atau tidak setuju) membatalkan perjanjian penggunaan layanan. Masa tenggang ini tampaknya berbeda-beda antara satu operator dengan operator lain, dan barangkali menjadi salah satu parameter dasar yang diyakini tiap-tiap penyedia layanan dalam memperhitungkan kelayakan bisnis ini di tengah persaingan memperebutkan pangsa pasar telekomunikasi.

Demikianlah penjelasan atas kaitan layanan di rumah sakit dengan layanan di sebuah operator/penyedia layanan telepon yang saya sebut di awal.

 

 

INTEROPERABILITAS

21 Mei 2017

Akan ke manakah perkembangan teknologi sambung-menyambung (internet) ini nantinya? Apakah akan berujung kepada suatu pesawat televisi/pesawat radio dua-arah?

Ketika pertama kali pesawat radio ditemukan (meski kisah tepatnya saya tidak tahu), orang bersorak gembira menangkap sinyalnya dari suatu daratan yang dipisahkan Samudra. Suatu sinyal morse untuk pertama kalinya berhasil dikirimkan dari Eropa ke Amerika melintasi Samudra Atlantik, yang rentang panjangnya pada waktu itu hanya dapat dijembatani manusia dengan kapal-kapal Samudra.

Berapa ongkosnya? Berapa jeda berita itu bisa sampai? Orang masa kinilah yang sambung-menyambung menggunakannya: begitu saja.

Di Indonesia perkembangan radio dan pemanfaatannya terbaca dari suatu perkembangan radio amatir. Pada waktu pemancar radio mulai dijual di pasaran, orang mengambil peluang membangun suatu koneksitas (keterhubungan). Satu kelompok, dengan menggunakan suatu gelombang dalam frekuensi radio, berbalas pesan, memecah kesunyian (break), menangkap pesan suara (kopi), bergilir-bicara, dan roger: pesan diterima.

Bagi mereka yang terkesima, itu adalah suatu kehebohan. Orang dapat berkomunikasi dua-arah melalui suatu perangkat elektronik yang terpisah jarak kedudukannya. Dapatkah koneksitas, keterhubungan itu, tidak sekadar kopi-break-roger? Apakah komunikasi itu dapat lebih bernilai? Barangkali itulah awal lahirnya tema-tema komunikasi di kalangan para pecinta radio, amateur radio, mereka yang punya profesi di luar radio, tetapi punya kecintaan pada radio. Itulah cikal berdirinya radio amatir, yang menjadi sarana penyampaian pesan melalui gelombang radio, menyampaikan berita-berita dalam lingkup komunitasnya.

Pesawat telepon adalah suatu gagasan lain. Ia bersaing dengan gelombang radio sebagai manifestasi perebutan pasar komunikasi. Namun, awam juga menangkap gagasan lain, mengenai keuntungan yang dipetik dari suatu persaingan. Awam ini mungkin orang ketiga, keempat, kelima, dan ke-seterusnya. Hingga muncul pada suatu waktu satu pihak yang bercita-cita menyatukan telepon dan radio. Itu artinya, kekayaan baru atau mungkin juga suatu keserakahan baru.

Penyatuan itu perlu waktu. Waktu yang dihabiskan orang dari suatu percobaan ke percobaan lain. Spionase. Jiplak-menjiplak. Bajak-membajak. Juga keinginan atau keserakahan menguasai satu atas yang lain. Suatu nafsu, kerakusan.

Karena gelombang merambat pada suatu media, kekayaan berarti menguasai media. Karena gelombang harus bergerak dengan cara merambat, kekayaan berarti mencegah gelombang itu merambat.

Namun, awam yang lain, entah orang keenam, ketujuh, kedelapan, dan ke-seterusnya, mengambil untung dari persaingan. Mereka minta operabilitas. Media harus bebas dari intervensi. Rambatan gelombang harus dihormati: biarkan ia merambat untuk sampai ke tujuan. Sebab, itulah privasi.

Akhirnya, mereka yang menguasai atau merasa menguasai diminta mengakui, ada suatu awam, entah pihak kesembilan, kesepuluh, kesebelas, dan ke seterusnya, meminta suatu operabilitas atau bahkan inter-operabilitas.

Pesawat telepon bisa saja dibuat oleh B, tetapi diminati oleh C. Namun, D boleh jadi menyukai pesawat telepon keluaran A, dan itu menyebabkan C dan D menghendaki operabilitas atau interoperabilitas.

Silakan bersaing, jiplak-menjiplak, bajak-membajak, tetapi boleh jadi akan muncul awam keduabelas, dan ke-seterusnya, menghendaki pertimbangan lain, dengan hitung-hitungan dan keuntungan yang lain.

 

 

 

 

Prabayar

8 April 2017

Baru-baru ini layanan operator telepon ponsel saya agak gencar mengirimi pesan singkat. Kesannya sangar, meski tampil halus supaya tidak terlihat mengintimidasi, yakni permintaan untuk melakukan registrasi dengan dalih: Pemerintah mewajibkan.

 

Sebelumnya, pesan singkat yang gencar masuk adalah promosi tentang pascabayar. Saya melatih diri untuk kukuh sebagai konsumen yang resisten. Barangkali karena itu, lalu masuklah pesan lain: pengguna prabayar wajib melakukan registrasi, dengan argumen Pemerintah mewajibkan.

Memang sejenak saya berdecak kagum ada operator telepon swasta yang giat dengan layanan kemasyarakatan itu. Betapa loyal sepertinya operator layanan seluler ini menyampaikan kampanye Pemerintah. Meski begitu, saya juga harus menerangkan bahwa ongkos prabayar saya, lunas di muka!

Jika Anda mau membaca tulisan saya sebelumnya berjudul Telepon, saya sempat menyinggung sedikit tentang telepon umum. Konsep prabayar sebetulnya secara praktik telah muncul pada telepon umum. Pada saat Anda memasukkan koin-koin sebelum mengengkol nomor tujuan, atau memencet angka-angka yang menunjuk nomor yang hendak Anda hubungi, Anda membayar di muka. Jika sambungan Anda lama sehingga tidak sebanding dengan koin yang Anda sisipkan, sambungan terputus. Sebaliknya, jika koin berlebih sementara sambungan semestinya masih panjang, tetapi Anda mencukupkan percakapan telepon, koin Anda tidaklah selalu kembali. Meski pada kasuistik lain, boleh jadi koin-koin bergemerincing jatuh dari boks telepon saat gagang telepon diletakkan. Namun toh, itu juga bukan disebut kembalian atas sisa kuota percakapan telepon itu.

Ketika warung telepon marak, sebagai alternatif layanan telepon umum, pada dasarnya “warung telepon” itu mengambil selisih prabayar untuk pengelolaan wartelnya. Artinya, saya atau Anda pada saat membayar sesudah melakukan sambungan percakapan melalui telepon, itu pun prabayar. Anda membayarkan di muka kepada pengelola atau pemilik wartel atas pengelolaan telepon yang dimiliki si pemilik usaha. Memang, dari sisi si pemilik ia membayarkan paska atau pasca. Namun, ia mensiasati abonemen dengan menyewakan perangkat dan sambungannya untuk mempertahankan pesawat telepon dan sambungan teleponnya.

Dalam pandangan saya, pasca atau paska-bayar diperlukan oleh operator telepon untuk memastikan jumlah nyata pelanggannya. Sebelum ada sejumlah operator telepon di luar telkom seperti sekarang, sambungan tetap dengan nomor-nomor tercatat dan pembagian nomor tertentu mengikuti area tertentu itu berdatabase lengkap. Bahkan operator layanan telepon dengan bangga menerbitkan Halaman Kuning (yellow pages) sebagai database yang dipublikasikan kepada pelanggan yang memanfaatkan layanan teleponnya. Nama pemilik, alamat, dan nomor teleponnya jelas tercatat. Namun, kondisi ini sulit terpenuhi ketika nomor telepon prabayar beredar di pasar. Di sisi lain, penjualan kartu prabayar membentuk pasar tersendiri di masyarakat sebab kartu prabayar ini mentransformasikan fungsional warung telepon. Demikian pula, kemunculan kartu prabayar juga berhasil menjadikan dirinya tahapan metamorfosis penjualan pulsa kartu telepon pengganti koin.

 

Telepon

18 Maret 2017

Pada masa ‘saya’ ada suatu peralihan penggunaan teknologi di Indonesia. Dari penggunaan telepon berkabel kepada telepon nirkabel.

Teknologi komunikasi pada masa ‘saya’, saya pelajari dari bangku sekolah. Saya atau kami belajar tentang ‘etiket’ bertelepon. Seingat saya, itu kami pelajari ‘bersama-sama’ ketika kami belajar bahasa, atau berbahasa Indonesia yang baik. Tidak ada ‘telepon beneran’ pada waktu itu. Kami sekadar mensimulasikan. Seperti membuat “drama”. Dengan salah satu penggal atau fragmen ceritanya adalah tentang kami yang sedang bertelepon.

“Halo, selamat pagi,” atau “[menyebut nama suatu kantor/tempat/sekolah], selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” dan seterusnya. Kami memeragakan dalam suatu dialog, atau percakapan dalam sambungan telepon.

Di dekat tempat kami tinggal pada waktu itu ada kantor pos. Dulu, kantor pos ada kaitannya dengan telekomunikasi. Di pojok kantor pos itu kami atau khalayak mulai diperkenalkan dengan telepon umum. Sebuah perangkat komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Karena tidak ada yang jaga, penggunaannya dilakukan dengan cara memasukkan koin atau uang ke kotak telepon. Mungkin karena tidak ada yang “jaga” itu kadang penggunaannya itu “untung-untungan”. Kalau beruntung, begitu kita memasukkan koin, memencet angka-angka yang menunjukkan nomor yang kita tuju, sambungan komunikasi dapat segera diperoleh. Namun, ada kalanya, sambungan tidak diperoleh, tetapi koin tetap tertahan dalam kotak telepon. Dan suatu waktu, mungkin saking alat telepon itu adalah telepon umum (dan tidak ada yang “jaga”) suatu ketika begitu saya meletakkan gagang telepon, justru koin-koin keluar bergemerincing dari pancingan satu koin yang saya masukkan. Jika tidak ada orang yang tahu, mungkin itulah keuntungan saya.

Nah, tidak jauh berselang dari telepon umum itu, tampaknya ada juga orang yang juga punya perhatian dengan keberadaan telepon umum. Sejauh yang saya ingat, siaran radio (maksud saya pemilik stasiun radio) mulai bereksperimen menggabungkan komunikasi dua arah antara penyiar dengan pendengarnya. Caranya, ketika mereka tengah mengudara, pendengar diminta untuk menelepon sembari siaran radio tetap mereka nyalakan dari pesawat radio yang mereka punya. Meski sering atau kadang timbul bunyi berdenging, komunikasi dua arah itu “berhasil”! (Bunyi berdenging konon berasal dari resonansi frekuensi. Orang banyak menyebutnya feedback. Sementara saya menulis “berhasil” dengan tanda petik karena orang-orang lain, bukan kami, yang bertelepon yang berhasil itu.)

Telepon pada masa itu masih melekat dengan asosiasi teknologi maju. Artinya, kepemilikannya masih berpusat kepada orang-orang berpunya. Demikian pula, penggunaannya juga menempatkan penggunanya pada derajat sosial yang lebih tinggi.

Sesudah masa telepon umum itu, sejauh yang saya ingat, di tempat lain yang lokasinya berbeda dari tempat kami tinggal sebelumnya, ada orang (wirausahawan) yang membuat usaha penyewaan telepon. Pada orang atau pemilik usaha ini telepon dapat dipakai oleh umum, dijaga, meski kadang untuk percakapan lokal, kita masih dapat membayar dengan “koin”.

Untuk memberi kesan bahwa percakapan tidak didengar umum (sekalipun telepon itu dapat dipakai oleh umum), pesawat telepon tersebut ditempatkan dalam sebuah bilik, yakni ruangan kecil bersekat kaca dengan jarak bebas orang dewasa berdiri.

Jika mengamati pengaruh dan perkembangan telepon umum dalam strata sosial, pengaruh penyediaan jasa telepon umum tidaklah sehebat pengaruh telepon genggam seperti yang saat ini. Sekalipun begitu, kepemilikan telepon genggam pada masanya juga sempat mencirikan tingkatan sosial seseorang di kemasyarakatan. Artinya, teknologi maju masih identik kepemilikannya kepada sebatas orang.

 

Pelataran

4 Maret 2017

Beberapa waktu ini kami atau lebih tepatnya saya, karena mengamati pelataran yang menjadi tempat kerja kami, jadi sering mengamati beberapa hal yang ada di pelataran. Dalam bingkai pelataran itu terdapat beberapa konsep yang di antaranya menggunakan ide “ramah”; misalnya: ramah alam, ramah manusia, dan sebagainya. Demikian pula, si perancang pelataran itu tampaknya juga mengadopsi gagasan bahwa pelataran itu hendaknya ramah di waktu hujan dan ramah di waktu kemarau.
Ramah di waktu hujan artinya pelataran harus mampu menyerap atau meneruskan air hujan yang turun dari langit. Jangan ia menjadi genangan atau membuat tanah menjadi lumpur. Kemudian, ramah di waktu kemarau artinya pelataran hendaknya cukup rindang dan menjadi tempat berteduh. Oleh karena itu, di pelataran itu dibiarkanlah sejumlah tanaman keras untuk tumbuh.

Pelataran kadang juga dikenal dengan sebutan halaman. Biasanya halaman atau pelataran merupakan tempat untuk bertemu orang. Karena sebagai tempat bertemu orang itu, konsep atau gagasan lain yang muncul adalah ramah lingkungan. Ramah lingkungan artinya orang di luar si-empunya halaman atau pelataran itu hendaknya dapat merasa nyaman bertemu di situ. Oleh sebab itu, apabila di halaman ada pohon perindang, pohon itu dipangkas sekadar untuk memperlihatkan keindahan. Demikian pula, daun-daun yang gugur dikumpulkan, atau halaman disapu, dan barangkali juga diperkeras dengan semen, batu, atau lantai batu, sekadar agar tidak terlihat becek pada waktu hujan atau berdebu pada waktu kemarau.

 

Sopan Santun

23 Januari 2017

Seberapa dalamkah teknologi informasi dan komunikasi mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda? Apakah teknologi informasi dan komunikasi pun Anda sadari mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda?

Seingat saya, sekitar dua puluh tahun lalu, menerima telepon di kendaraan umum semacam bus kota, bukanlah sesuatu yang wajar, dan dari sisi saya, juga kurang sopan. Tahu-tahu sesuatu berdering, atau di tengah “kesunyian” orang duduk berkendaraan umum, seseorang “berbicara sendiri”.

Pada sekitar dua puluh tahun lalu itu, telepon yang dibawa orang dengan memasukkannya ke dalam saku terhitung sebagai telepon “dungu” dibandingkan telepon masa-masa ini.

Lima tahun lalu –kurang lebih– seorang teman mengajak saya duduk di sebuah restoran, dan ia dan seorang yang lain mentraktir saya. Saya makan dengan rakus.

Ia atau seorang yang lain itu, memperlihatkan telepon yang “pintar”, dengan layar lebar, dan visual peta terbaru versi google-map. Saya ternganga. Saya tidaklah tertinggal amat dalam “pengetahuan” teknologi itu. Namun saya menyimpannya. Saya tidak “meneteng” sebuah telepon pintar sebagai pengganti laptop atau koneksi jaringan internet yang perlu saya bawa ke mana-mana.

Sekitar seminggu yang lalu, saya bersua dengan seorang kawan yang lain dan saya merenungkan dalam tulisan ini. Di tengah percakapan, obrolan yang ke-sana-ke-mari itu, saya terkejut, bahwa ia dan kawan yang lain menyela obrolan itu dengan suatu bentuk “percakapan teks”!

Sejauh nilai-nilai yang saya anut, saya laksana berada dalam arus zaman dan peradaban yang berseliweran di depan mata. Sengaja, saya menyimpan ponsel “pintar” saya di saku. Dan, saya benar-benar begitu goblok. Dungu. Mereka, yang mengobrol di depan saya itu, dapat juga mengobrol sekaligus dengan mungkin dua-tiga orang yang lain, yang “tidak” saya lihat!

Dahulu, sopan-santun, setidaknya jika itu yang disebut “nilai-nilai” itu adalah sopan-santun, menghendaki agar orang berkata, “maaf, permisi. ada telepon masuk, saya akan menjawab telepon dahulu.” Dan seterusnya.

Namun, entah. Karena saya pun kadang sengaja meneteng ponsel pintar saya, pura-pura menggeser-geser layar, mengklik sesuatu, karena saya memang tidak sedang ingin berbincang dengan seseorang.

 

 

Vernakular

6 Oktober 2016

Mengikuti seminar arsitektur, mengenalkan saya kepada sejumlah peristilahan baru. Satu di antaranya adalah arsitektur vernakular. Apa itu? Jika Anda menyimak pencarian google, wikipedia memberikan keterangan sebagai berikut.

Vernacular architecture is an architectural style that is designed based on local needs, availability of construction materials and reflecting local traditions. (Arsitektur vernakular adalah suatu langgam arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan setempat, ketersediaan bahan bangunan dan pencerminan tradisi lokal.)

img_20160928_102719Salah satu rumah warga di Desa Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar

 

Yang “Mahatahu”

10 September 2016

Seperti apa sebetulnya luas dan dalamnya pengetahuan Anda?
Saya terkejut. Rupa-rupanya, dalam suatu percakapan maya, dalam keterhubungan sesorang dengan jaringan Internet ini, nyaris siapa saja, orang besar orang kecil, siapa pun Anda, dapat menjadi Yang “Mahatahu”.
Betapa tidak. Jika seseorang bertanya kepada Anda tentang sesuatu, yang ia tidak tahu, dan itu ia tuliskan kepada Anda melalui sms, sementara Anda menerima sms itu melalui ponsel pintar Anda, maka Anda bisa membantu menjawab dengan mencari hasilnya melalui fasilitas mesin pencari macam Google Search.
Dan, Anda menjadi Yang Mahatahu.
Benarkah Anda menjadi Yang mahatahu? ataukah anda pun sejatinya tidak tahu, tetapi Anda mencari tahu dari Yang Mahatahu?
Ah, renungkan sendiri.

Kebebasan

11 Juni 2016

Uf.

Membayangkan jaringan di dunia maya ibarat membayangkan dunia tanpa batas. Jika kita mengandaikan sekian miliar penduduk Bumi terhubung dalam jaringan internet ini, saya ngeri membayangkan sekian miliar imajinasi.

Dari blog seorang kawan, kabarnya pernah muncul suatu tulisan, dan diimajinasi sebagai suatu bentuk ujaran. Dari situ ujaran diterjemahkan sebagai bentuk gagasan, dan gagasan itu dianggap bertentangan dari kebiasaan.

Ada pula seorang penulis di sebuah wordpress memajang sebaris pernyataan gagasan, menyiratkan keluhan dalam bentuk tulisan, seakan syok menerima beragam tanggapan karena ekspresinya di jagat jaringan. Dalam jagat jaringan orang dapat membaca, baik sekonyong-konyong mampir, menyelonong membaca, tertarik pada kata-kata, memperoleh gagasan, mengirimkan pendapat, mengajukan surat elektronik, dan berprasangka: Apakah Saudara menebar hasutan?

Kebebasan.

Sebagaimana di awal betapa ngeri saya membayangkan sekian miliar imajinasi di atas, betapa nisbi juga makna kebebasan, dengan pengandaian ketakberwatasan imajinasi. Itu setidaknya melintas dalam imajinasi, angan-angan, benak manusia.

Perangkat Elektronik

16 Mei 2016

Sekelebat saya berusaha mencerna kembali penggunaan internet dan gadget saya.

Pada waktu lalu, ketika internet bukan sesuatu yang melekat, dalam arti, gadget belum marak di mana-mana dan orang belum ngeh tentang internet dan semacamnya, tetapi perusahaan/kantor/instansi banyak beraktivitas dengan komputer dan jaringan, lalu apakah atas nama produktivitas, perusahaan/kantor/instansi akan melarang atau membatasi akses informasi dengan misal: pengambilan kebijakan “meng-off-kan” aktivitas media sosial, koneksi Wireless, Inter-net? Namun, bagaimanakah ini bisa dipraktikkan?

Jika dahulu ponsel hanya sebatas untuk pengiriman pesan singkat atau bertelepon, kini ponsel dapat untuk beraktivitas berjejaring, memainkan game, dan sebagainya.

Dalam hal ini, apakah karyawan kemudian harus mematikan ponsel-nya saat bekerja, menitipkannya di ruang penjagaan, komputer dibatasi kepada jaringan email saja, dan pengetatan-pengetatan yang lain?

Atau, adakah alternatif yang lain?