Prabayar

8 April 2017

Baru-baru ini layanan operator telepon ponsel saya agak gencar mengirimi pesan singkat. Kesannya sangar, meski tampil halus supaya tidak terlihat mengintimidasi, yakni permintaan untuk melakukan registrasi dengan dalih: Pemerintah mewajibkan.

 

Sebelumnya, pesan singkat yang gencar masuk adalah promosi tentang pascabayar. Saya melatih diri untuk kukuh sebagai konsumen yang resisten. Barangkali karena itu, lalu masuklah pesan lain: pengguna prabayar wajib melakukan registrasi, dengan argumen Pemerintah mewajibkan.

Memang sejenak saya berdecak kagum ada operator telepon swasta yang giat dengan layanan kemasyarakatan itu. Betapa loyal sepertinya operator layanan seluler ini menyampaikan kampanye Pemerintah. Meski begitu, saya juga harus menerangkan bahwa ongkos prabayar saya, lunas di muka!

Jika Anda mau membaca tulisan saya sebelumnya berjudul Telepon, saya sempat menyinggung sedikit tentang telepon umum. Konsep prabayar sebetulnya secara praktik telah muncul pada telepon umum. Pada saat Anda memasukkan koin-koin sebelum mengengkol nomor tujuan, atau memencet angka-angka yang menunjuk nomor yang hendak Anda hubungi, Anda membayar di muka. Jika sambungan Anda lama sehingga tidak sebanding dengan koin yang Anda sisipkan, sambungan terputus. Sebaliknya, jika koin berlebih sementara sambungan semestinya masih panjang, tetapi Anda mencukupkan percakapan telepon, koin Anda tidaklah selalu kembali. Meski pada kasuistik lain, boleh jadi koin-koin bergemerincing jatuh dari boks telepon saat gagang telepon diletakkan. Namun toh, itu juga bukan disebut kembalian atas sisa kuota percakapan telepon itu.

Ketika warung telepon marak, sebagai alternatif layanan telepon umum, pada dasarnya “warung telepon” itu mengambil selisih prabayar untuk pengelolaan wartelnya. Artinya, saya atau Anda pada saat membayar sesudah melakukan sambungan percakapan melalui telepon, itu pun prabayar. Anda membayarkan di muka kepada pengelola atau pemilik wartel atas pengelolaan telepon yang dimiliki si pemilik usaha. Memang, dari sisi si pemilik ia membayarkan paska atau pasca. Namun, ia mensiasati abonemen dengan menyewakan perangkat dan sambungannya untuk mempertahankan pesawat telepon dan sambungan teleponnya.

Dalam pandangan saya, pasca atau paska-bayar diperlukan oleh operator telepon untuk memastikan jumlah nyata pelanggannya. Sebelum ada sejumlah operator telepon di luar telkom seperti sekarang, sambungan tetap dengan nomor-nomor tercatat dan pembagian nomor tertentu mengikuti area tertentu itu berdatabase lengkap. Bahkan operator layanan telepon dengan bangga menerbitkan Halaman Kuning (yellow pages) sebagai database yang dipublikasikan kepada pelanggan yang memanfaatkan layanan teleponnya. Nama pemilik, alamat, dan nomor teleponnya jelas tercatat. Namun, kondisi ini sulit terpenuhi ketika nomor telepon prabayar beredar di pasar. Di sisi lain, penjualan kartu prabayar membentuk pasar tersendiri di masyarakat sebab kartu prabayar ini mentransformasikan fungsional warung telepon. Demikian pula, kemunculan kartu prabayar juga berhasil menjadikan dirinya tahapan metamorfosis penjualan pulsa kartu telepon pengganti koin.

 

Telepon

18 Maret 2017

Pada masa ‘saya’ ada suatu peralihan penggunaan teknologi di Indonesia. Dari penggunaan telepon berkabel kepada telepon nirkabel.

Teknologi komunikasi pada masa ‘saya’, saya pelajari dari bangku sekolah. Saya atau kami belajar tentang ‘etiket’ bertelepon. Seingat saya, itu kami pelajari ‘bersama-sama’ ketika kami belajar bahasa, atau berbahasa Indonesia yang baik. Tidak ada ‘telepon beneran’ pada waktu itu. Kami sekadar mensimulasikan. Seperti membuat “drama”. Dengan salah satu penggal atau fragmen ceritanya adalah tentang kami yang sedang bertelepon.

“Halo, selamat pagi,” atau “[menyebut nama suatu kantor/tempat/sekolah], selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” dan seterusnya. Kami memeragakan dalam suatu dialog, atau percakapan dalam sambungan telepon.

Di dekat tempat kami tinggal pada waktu itu ada kantor pos. Dulu, kantor pos ada kaitannya dengan telekomunikasi. Di pojok kantor pos itu kami atau khalayak mulai diperkenalkan dengan telepon umum. Sebuah perangkat komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Karena tidak ada yang jaga, penggunaannya dilakukan dengan cara memasukkan koin atau uang ke kotak telepon. Mungkin karena tidak ada yang “jaga” itu kadang penggunaannya itu “untung-untungan”. Kalau beruntung, begitu kita memasukkan koin, memencet angka-angka yang menunjukkan nomor yang kita tuju, sambungan komunikasi dapat segera diperoleh. Namun, ada kalanya, sambungan tidak diperoleh, tetapi koin tetap tertahan dalam kotak telepon. Dan suatu waktu, mungkin saking alat telepon itu adalah telepon umum (dan tidak ada yang “jaga”) suatu ketika begitu saya meletakkan gagang telepon, justru koin-koin keluar bergemerincing dari pancingan satu koin yang saya masukkan. Jika tidak ada orang yang tahu, mungkin itulah keuntungan saya.

Nah, tidak jauh berselang dari telepon umum itu, tampaknya ada juga orang yang juga punya perhatian dengan keberadaan telepon umum. Sejauh yang saya ingat, siaran radio (maksud saya pemilik stasiun radio) mulai bereksperimen menggabungkan komunikasi dua arah antara penyiar dengan pendengarnya. Caranya, ketika mereka tengah mengudara, pendengar diminta untuk menelepon sembari siaran radio tetap mereka nyalakan dari pesawat radio yang mereka punya. Meski sering atau kadang timbul bunyi berdenging, komunikasi dua arah itu “berhasil”! (Bunyi berdenging konon berasal dari resonansi frekuensi. Orang banyak menyebutnya feedback. Sementara saya menulis “berhasil” dengan tanda petik karena orang-orang lain, bukan kami, yang bertelepon yang berhasil itu.)

Telepon pada masa itu masih melekat dengan asosiasi teknologi maju. Artinya, kepemilikannya masih berpusat kepada orang-orang berpunya. Demikian pula, penggunaannya juga menempatkan penggunanya pada derajat sosial yang lebih tinggi.

Sesudah masa telepon umum itu, sejauh yang saya ingat, di tempat lain yang lokasinya berbeda dari tempat kami tinggal sebelumnya, ada orang (wirausahawan) yang membuat usaha penyewaan telepon. Pada orang atau pemilik usaha ini telepon dapat dipakai oleh umum, dijaga, meski kadang untuk percakapan lokal, kita masih dapat membayar dengan “koin”.

Untuk memberi kesan bahwa percakapan tidak didengar umum (sekalipun telepon itu dapat dipakai oleh umum), pesawat telepon tersebut ditempatkan dalam sebuah bilik, yakni ruangan kecil bersekat kaca dengan jarak bebas orang dewasa berdiri.

Jika mengamati pengaruh dan perkembangan telepon umum dalam strata sosial, pengaruh penyediaan jasa telepon umum tidaklah sehebat pengaruh telepon genggam seperti yang saat ini. Sekalipun begitu, kepemilikan telepon genggam pada masanya juga sempat mencirikan tingkatan sosial seseorang di kemasyarakatan. Artinya, teknologi maju masih identik kepemilikannya kepada sebatas orang.

 

Pelataran

4 Maret 2017

Beberapa waktu ini kami atau lebih tepatnya saya, karena mengamati pelataran yang menjadi tempat kerja kami, jadi sering mengamati beberapa hal yang ada di pelataran. Dalam bingkai pelataran itu terdapat beberapa konsep yang di antaranya menggunakan ide “ramah”; misalnya: ramah alam, ramah manusia, dan sebagainya. Demikian pula, si perancang pelataran itu tampaknya juga mengadopsi gagasan bahwa pelataran itu hendaknya ramah di waktu hujan dan ramah di waktu kemarau.
Ramah di waktu hujan artinya pelataran harus mampu menyerap atau meneruskan air hujan yang turun dari langit. Jangan ia menjadi genangan atau membuat tanah menjadi lumpur. Kemudian, ramah di waktu kemarau artinya pelataran hendaknya cukup rindang dan menjadi tempat berteduh. Oleh karena itu, di pelataran itu dibiarkanlah sejumlah tanaman keras untuk tumbuh.

Pelataran kadang juga dikenal dengan sebutan halaman. Biasanya halaman atau pelataran merupakan tempat untuk bertemu orang. Karena sebagai tempat bertemu orang itu, konsep atau gagasan lain yang muncul adalah ramah lingkungan. Ramah lingkungan artinya orang di luar si-empunya halaman atau pelataran itu hendaknya dapat merasa nyaman bertemu di situ. Oleh sebab itu, apabila di halaman ada pohon perindang, pohon itu dipangkas sekadar untuk memperlihatkan keindahan. Demikian pula, daun-daun yang gugur dikumpulkan, atau halaman disapu, dan barangkali juga diperkeras dengan semen, batu, atau lantai batu, sekadar agar tidak terlihat becek pada waktu hujan atau berdebu pada waktu kemarau.

 

Sopan Santun

23 Januari 2017

Seberapa dalamkah teknologi informasi dan komunikasi mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda? Apakah teknologi informasi dan komunikasi pun Anda sadari mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda?

Seingat saya, sekitar dua puluh tahun lalu, menerima telepon di kendaraan umum semacam bus kota, bukanlah sesuatu yang wajar, dan dari sisi saya, juga kurang sopan. Tahu-tahu sesuatu berdering, atau di tengah “kesunyian” orang duduk berkendaraan umum, seseorang “berbicara sendiri”.

Pada sekitar dua puluh tahun lalu itu, telepon yang dibawa orang dengan memasukkannya ke dalam saku terhitung sebagai telepon “dungu” dibandingkan telepon masa-masa ini.

Lima tahun lalu –kurang lebih– seorang teman mengajak saya duduk di sebuah restoran, dan ia dan seorang yang lain mentraktir saya. Saya makan dengan rakus.

Ia atau seorang yang lain itu, memperlihatkan telepon yang “pintar”, dengan layar lebar, dan visual peta terbaru versi google-map. Saya ternganga. Saya tidaklah tertinggal amat dalam “pengetahuan” teknologi itu. Namun saya menyimpannya. Saya tidak “meneteng” sebuah telepon pintar sebagai pengganti laptop atau koneksi jaringan internet yang perlu saya bawa ke mana-mana.

Sekitar seminggu yang lalu, saya bersua dengan seorang kawan yang lain dan saya merenungkan dalam tulisan ini. Di tengah percakapan, obrolan yang ke-sana-ke-mari itu, saya terkejut, bahwa ia dan kawan yang lain menyela obrolan itu dengan suatu bentuk “percakapan teks”!

Sejauh nilai-nilai yang saya anut, saya laksana berada dalam arus zaman dan peradaban yang berseliweran di depan mata. Sengaja, saya menyimpan ponsel “pintar” saya di saku. Dan, saya benar-benar begitu goblok. Dungu. Mereka, yang mengobrol di depan saya itu, dapat juga mengobrol sekaligus dengan mungkin dua-tiga orang yang lain, yang “tidak” saya lihat!

Dahulu, sopan-santun, setidaknya jika itu yang disebut “nilai-nilai” itu adalah sopan-santun, menghendaki agar orang berkata, “maaf, permisi. ada telepon masuk, saya akan menjawab telepon dahulu.” Dan seterusnya.

Namun, entah. Karena saya pun kadang sengaja meneteng ponsel pintar saya, pura-pura menggeser-geser layar, mengklik sesuatu, karena saya memang tidak sedang ingin berbincang dengan seseorang.

 

 

Vernakular

6 Oktober 2016

Mengikuti seminar arsitektur, mengenalkan saya kepada sejumlah peristilahan baru. Satu di antaranya adalah arsitektur vernakular. Apa itu? Jika Anda menyimak pencarian google, wikipedia memberikan keterangan sebagai berikut.

Vernacular architecture is an architectural style that is designed based on local needs, availability of construction materials and reflecting local traditions. (Arsitektur vernakular adalah suatu langgam arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan setempat, ketersediaan bahan bangunan dan pencerminan tradisi lokal.)

img_20160928_102719Salah satu rumah warga di Desa Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar

 

Yang “Mahatahu”

10 September 2016

Seperti apa sebetulnya luas dan dalamnya pengetahuan Anda?
Saya terkejut. Rupa-rupanya, dalam suatu percakapan maya, dalam keterhubungan sesorang dengan jaringan Internet ini, nyaris siapa saja, orang besar orang kecil, siapa pun Anda, dapat menjadi Yang “Mahatahu”.
Betapa tidak. Jika seseorang bertanya kepada Anda tentang sesuatu, yang ia tidak tahu, dan itu ia tuliskan kepada Anda melalui sms, sementara Anda menerima sms itu melalui ponsel pintar Anda, maka Anda bisa membantu menjawab dengan mencari hasilnya melalui fasilitas mesin pencari macam Google Search.
Dan, Anda menjadi Yang Mahatahu.
Benarkah Anda menjadi Yang mahatahu? ataukah anda pun sejatinya tidak tahu, tetapi Anda mencari tahu dari Yang Mahatahu?
Ah, renungkan sendiri.

Kebebasan

11 Juni 2016

Uf.

Membayangkan jaringan di dunia maya ibarat membayangkan dunia tanpa batas. Jika kita mengandaikan sekian miliar penduduk Bumi terhubung dalam jaringan internet ini, saya ngeri membayangkan sekian miliar imajinasi.

Dari blog seorang kawan, kabarnya pernah muncul suatu tulisan, dan diimajinasi sebagai suatu bentuk ujaran. Dari situ ujaran diterjemahkan sebagai bentuk gagasan, dan gagasan itu dianggap bertentangan dari kebiasaan.

Ada pula seorang penulis di sebuah wordpress memajang sebaris pernyataan gagasan, menyiratkan keluhan dalam bentuk tulisan, seakan syok menerima beragam tanggapan karena ekspresinya di jagat jaringan. Dalam jagat jaringan orang dapat membaca, baik sekonyong-konyong mampir, menyelonong membaca, tertarik pada kata-kata, memperoleh gagasan, mengirimkan pendapat, mengajukan surat elektronik, dan berprasangka: Apakah Saudara menebar hasutan?

Kebebasan.

Sebagaimana di awal betapa ngeri saya membayangkan sekian miliar imajinasi di atas, betapa nisbi juga makna kebebasan, dengan pengandaian ketakberwatasan imajinasi. Itu setidaknya melintas dalam imajinasi, angan-angan, benak manusia.

Perangkat Elektronik

16 Mei 2016

Sekelebat saya berusaha mencerna kembali penggunaan internet dan gadget saya.

Pada waktu lalu, ketika internet bukan sesuatu yang melekat, dalam arti, gadget belum marak di mana-mana dan orang belum ngeh tentang internet dan semacamnya, tetapi perusahaan/kantor/instansi banyak beraktivitas dengan komputer dan jaringan, lalu apakah atas nama produktivitas, perusahaan/kantor/instansi akan melarang atau membatasi akses informasi dengan misal: pengambilan kebijakan “meng-off-kan” aktivitas media sosial, koneksi Wireless, Inter-net? Namun, bagaimanakah ini bisa dipraktikkan?

Jika dahulu ponsel hanya sebatas untuk pengiriman pesan singkat atau bertelepon, kini ponsel dapat untuk beraktivitas berjejaring, memainkan game, dan sebagainya.

Dalam hal ini, apakah karyawan kemudian harus mematikan ponsel-nya saat bekerja, menitipkannya di ruang penjagaan, komputer dibatasi kepada jaringan email saja, dan pengetatan-pengetatan yang lain?

Atau, adakah alternatif yang lain?

Serius, Saya Nyampah!

1 Maret 2016

Belakangan ini ternyata saya banyak membuat catatan-catatan kecil. Pokoknya, saya “nyampah”. Habis, catatan itu saya buat di sebarang kertas, kertas-kertas, yang sebagian adalah gratisan, sebab saya peroleh dari beberapa pertemuan. Biasanya, (sekarang, beda dengan dulu) kalau datang ke sebuah pertemuan, saya memperoleh buku/notes. Nah, di situ notes-notes itu saya koleksi, menumpuk kayak gudang kertas/notes. Namun belakangan saya akhirnya mengeluarkan koleksi-koleksi saya itu, saya pakai untuk membuat catatan-catatan. Sering (atau kadang) saya merasa catatan itu penting. Namun, seberapa pentingkah, toh saya hanya mengonggokkan. Maka, “dari gudang” notes koleksi itu telah saya isi dengan beragam coretan. (Apakah coretan itu sampah? Ataukah notesnya yang sampah? Kalaupun saya buang, toh isinya hanya tulisan?)

Namun, ada juga notes, yang nasibnya benar-benar saya buat jadi sampah. Pernah saya menengok, melihat lagi catatan-catatan yang saya buat di dalamnya. Namun, saya malah itu hanya mengisi lagi otak saya, mengangkat lagi kenangan dari masa lalu, dan ketika saya bandingkan dengan masa kini, ternyata kenyataan atau isinya jauh berbeda, maka akhirnya, notes-notes itu saya buang ke keranjang sampah. Isinya? Ah, nonsense! Omong kosong.

Notes, dan catatan-catatan tangan itu, sepertinya kelihatan begitu tradisional sekali ya? Mungkin Anda bakal berkata nyinyir. Ini orang, gaptek betul. Bikin catatan masih menggunakan notes. Ah, saya juga bisa sepakat, tetapi bisa juga tidak sepakat. Penggunaan notes memang amat tradisional, apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Ada banyak gawai, pilihan perangkat elektronik, yang nyaris sudah terasa sulit lepas dengan keseharian saya, atau mungkin keseharian Anda juga. Dulu, saya jarang sekali menenteng ponsel, ehm… maksud saya, saya dulu termasuk penganut paham konservatif. Dosen-dosen saya mengenalkan “istilah” ini. Konservatif.

Pertama, seingat saya dosen yang berkata itu bercerita tentang dosennya. Dosen yang bercerita ini sekolah di Inggris, sedangkan dosen yang ia gunjingkan bersekolah di Amerika, atau Kanada, entah. Ia menyebut, bahwa dosen yang ia sebutkan, konservatif, sebab, ia tidak meneteng ponsel. Waktu itu, ponsel belum menjamur seperti di sini, hanya orang tertentu saja yang memiliki.

Bagaimanakah seorang dosen, tanpa menggunakan ponsel, mengajar di depan mahasiswanya? Apakah, gengsinya tidak turun? Mungkin ini bedanya pendidikan yang ada di perguruan tinggi yang kebetelulan saya kuliah, atau berkesempatan mengenyam pendidikan di situ. Nyaris, gawai-gawai, atau perangkat lunak, pengolah data secara elektronik, perlu kami pelajari secara mandiri. Matakuliah, “teknologi ***” misalnya, tidaklah mempelajari teknologi-nya. Barang-barang seperti itu, mungkin hanya dapat diperoleh dengan mengimpor. Membeli dari vendor. Riset, atau penelitian saya, juga relatif jauh dari teknologi, atau bersentuhan dengan teknologi. Mungkin, hanya saat membuat laporan saja, saya bersinggungan dengan teknologi. Akibatnya, riset atau penelitian itu mungkin juga sekadar teronggok saja di perpustakaan, tak terlalu dilirik pabrik, vendor, atau untuk pengembangan teknologi kita sendiri.

Kalaupun saya perlu berancang-ancang melakukan penelitian, memang paling murah adalah menulis buku. Menulis, sekarang hanya membutuhkan biaya pulsa, atau kalau perlu mencetak, hanya butuh kertas, dan sekali lagi, kalau tidak laku, maka sekali lagi, saya “nyampah”.

Namun, dari menyampah itu, ada kepuasan tersendiri juga. Karena saya menyadari bahwa omong kosong, atau nonsense, dapat kita pelajari, dari hal-hal kecil, ketika saya membuat catatan, atau tulisan-tulisan pendek. Tulisan, yang barangkali tidak ada nilai ilmiahnya, dan akhirnya, kertas yang kita coret-coret itu kemudian kita robek, remas, genggam sampai jadi bola-bola kertas, dan kita lempar ke keranjang sampah.

Saya, rupanya, merasa juga bukan hanya sekadar tulisan saya, yang sampah, saya amati ada buku bacaan saya, saya pikir juga tidak terlalu berguna, karena isinya, saya timbang-timbang, juga penuh dengan sampah: omong kosong. Itu pun, saya buang saja ke keranjang sampah!

Dan ketika saya sadar, ternyata saya cukup banyak, atau terlalu banyak menulis atau bekerja dengan komputer, dan ternyata, begitu saya timbang-timbang lagi, apa yang saya lakukan, atau saya kerjakan, atau saya tulis, atau yang saya biarkan tersimpan, file-file, foto, dokumen, ataupun paparan, di perangkat keras penyimpan di komputer saya ternyata juga sekadar omong kosong, nonsense, maka betapa menyenangkannya, ketika semua file itu kita lenyapkan. Format the disk? Yes.

Saya, apakah menurut Anda sedang nyampah? Ah, salah Anda saja mengapa membaca tulisan sampah saya. Sepertinya, saya tidak lagi menjadi penganut konservatisme, sebab mungkin, seperti Anda, saya kini kerap meneteng ponsel, gawai kecil nancanggih, dan bergelut dengan gelontoran meme-meme dalam jejaring dunia maya ini.

Sampah? Ah, dasar omong kosong!

Januari

31 Januari 2016

Ada perubahan dalam tampilan wordpress. Tentu, itu buah keahlian para perancang, yang tak berhenti berinovasi.

Media sosial dengan adanya internet, memang memberikan keragaman dalam bermacam pilihan, baik itu informasi, infotainment, maupun entertainment itu sendiri.

WordPress, adalah pilihan blog, selain “blog” itu sendiri yang sempat melintas dalam kelindan perinternetan yang saya temui. Seperti halnya, perkakas-perkakas lain yang belakang muncul dijumpai di jalur maya ini, weblog relatif mudah dipergunakan di saat kemudahan diperlukan untuk memperoleh tayangan web, yang bisa: tidak saja menyajikan teks, tetapi juga gambar, bahkan video!

Mengenai wordpress ini, tempat saya mengunggah sejumlah tulisan, media ini menjadi semacam peluncuran pers, media publik, sehingga beberapa kawan, teman, sahabat, dapat turut membaca (apabila berkenan), tentu saya perlu menuliskan sesuatu yang pada hemat saya “bermutu”. Namun, pada kesempatan lain, karena seperti halnya blog, atau weblog, yang sifatnya lebih personal (apabila tidak dikatakan privat atau pribadi), maka saya mohon maaf sekiranya tidak semua muatan tulisan saya yang saya unggah bersifat umum.

Ada beberapa pergeseran, baik tema maupun frekuensi kepenulisan saya, di blog ini. Tema dengan visi ideal (atau idealis?) dengan alamat url “kisahbangsa”, semacam tutur atau kisah, dengan bangsa adalah ikatan komunal, meski dalam perjalanannya tidak sedemikian barangkali.

Sejauh ini, kawan atau teman, mungkin berbaik hati, atau sudah berbaik hati, menyimak dengan kelapangan dada, sebab toh, yang nyata di luar yang maya ini kurang lebih menjelma dalam rekaman tulisan saya. Karena dari situ, ada semacam tekad justru muncul agar saya tetap juga aktif menuliskan sesuatu, atau mengisi blog ini setiap bulannya.  Namun sekali lagi, bukanlah untuk selalu menyediakan bacaan yang selalu sejalan dengan pencarian Anda, barangkali, karena toh, ini adalah blog, dengan segala konsekuensi opini, dan mungkin bersifat pribadi.

(Melanjutkan kepenulisan dalam blog semacam ini, memang dapat membawa kita kepada kesadaran tentang “waktu”. Seorang teman, pernah berujar “ia menyukai model pengarsipannya”, tempat ia bisa mengecek, apakah bulan ini atau suatu waktu ia mengunggah tulisannya. Namun, bagi saya, kesadaran waktu juga menggelisahkan saya, umur, tua, kehidupan sosial, … , dan kadang itu menyedihkan, membawa kemurungan, iri hati, dan semacamnya.

Meski begitu, menulis juga menghibur diri. Menghibur dalam arti bahwa saya menyemangati diri, sambil kadang merasa bangga menyimak statistik wordpress: pencari yang kesasar ke blog saya atau sengaja menyisir mesin pencari, sengaja hendak mencari seluk-beluk tentang saya atau tulisan saya.

Ah, sudahlah. 😉

Salam.