Streaming

7 Oktober 2017

Streaming dapat diartikan sebagai mengunduh dan menyimpannya sementara ke komputer yang mengakses.

Beberapa waktu belakangan ini di sela-sela menonton siaran televisi, sebuah tayangan iklan tampil dan mewartakan berita tentang peralihan siaran televisi ke siaran digital. Sejenak saya berpikir. Apakah televisi yang kadung terbeli masih pula kurang maju teknologinya? Apakah televisi yang terbeli itu bukan suatu televisi digital? Padahal saya hampir bisa memastikan bahwa fisik televisi yang terbeli ini mirip bangunnya dengan monitor komputer yang biasa dipakai untuk menayangkan sistem operasi komputer (digital) bahkan menayangkan tayangan sambungan internet.

Televisi nyaris merupakan barang mahal pada era mendiang ayah saya. Atau, boleh jadi dalam perspektif ayah saya, televisi adalah suatu gangguan, khususnya untuk kami yang usia-usia wajib belajar. Namun, mungkin juga ibu sayalah yang lebih melihat pemenuhan sandang pangan dan papan lebih utama daripada pesawat televisi. Jadi, barangkali karena dasar pemikiran inilah pesawat televisi merupakan barang mahal. Tidak menjadi soal tidak terbeli. Sebab, televisi merupakan kebutuhan ke sekian, sehingga belum dapat disebut sebagai bagian dari kebutuhan primer (kebutuhan yang harus didahulukan).

Namun, arah prioritas atau penunjukan sesuatu menjadi sesuatu kebutuhan yang harus didahulukan, sepertinya bisa berubah. Karena ada juga pendapat, televisi pun mestinya masuk dalam kebutuhan primer. Mengapa? Karena tetangga kiri-kanan juga mempunyainya! Atau pendeknya, supaya anak-anak jangan ketinggalan zaman (merujuk kepada mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak, tentunya).

Dari sudut pandang yang lain, televisi juga bukan sekadar suatu barang yang harus, belum, atau tidak harus dimiliki. Dalam sudut pandang yang lain ini, televisi adalah tentang siaran berita, hiburan, dan isi siaran lainnya.

Konon pada 1967, hak siaran televisi pertama adalah dan satu-satunya milik pemerintah. Oleh sebab itu, pemerintah pernah mengelompokkan stasiun penyiaran televisi pemerintah sebagai suatu objek penting. “Penting” karena pendiriannya menggunakan uang negara, sehingga menjadi aset pemerintah, tetapi juga penting karena menjadi penyampai informasi ke orang banyak (tanpa khawatir kena protes).

Namun, penguasaan negara atas siaran itu tampaknya gugur di tengah-tengah protes (somasi) rakyat yang muncul belakangan. Rakyat, sebagai pemegang kedaulatan dalam suatu pemerintahan berbentuk republik, berhak untuk memperoleh informasi dengan berbagai saluran yang dimungkinkan. Kenyataan ini jelas berpengaruh kepada penguasaan dan pemaknaan objek “penting” di atas. Bagaimana mungkin, sesuatu yang dianggap oleh pemerintah berharga, boleh jadi tidak dianggap berharga oleh kelompok yang menamakan dirinya “rakyat”? Artinya, pada saat rakyat menyadari bahwa dalam suatu negara itu, kedaulatan yang ada sesungguhnya adalah kedaulatan rakyat, maka perubahan pun tidak dapat dielakkan. Kontrak-kontrak sosial yang selama ini muncul di kehidupan sehari-hari yang berada dalam interaksi keseharian rakyat dengan pemerintah pada akhirnya dibaca ulang!

Berbeda dengan siaran radio yang sekadar mengirimkan gelombang suara, siaran televisi mengirimkan materi yang lebih besar. Karena juga mengirimkan gambar (juga). Mungkin karena itu, bangun pesawat televisi ukurannya besar-besar, di saat bangun pesawat radio ukurannya sudah bisa kecil-kecil. Mengirimkan materi besar, tentu membutuhkan energi yang besar. Pokok ini memunculkan gagasan untuk mengirimkan paket-paket dan untuk dihimpun oleh penerima, menyusun ulang kembali sehingga memunculkan bentuk utuhnya.

Meski umumnya bangun pesawat televisi pada masanya besar-besar, pada 1990-an juga sudah muncul ukuran yang lebih kecil. Meski begitu, bangun pesawat tersebut kurang diminati pasar. Mungkin karena promosi yang kurang gencar atau memang kualitas gambar yang ditayangkan masih kurang menarik. Pembahasan lebih jauh tentang hal ini akan mengarahkan kepada pembahasan perkembangan monitor televisi. Baik tentang bentuk tabung, maupun evolusi dan revolusinya menjadi berbentuk layar datar, maupun yang benar-benar tampilan bangunnya nyaris tipis berbentuk persegi sehingga layarnya benar-benar datar. Perkembangan belakangan ini malah memunculkan kembali gagasan tabung dalam bentuk yang baru, yaitu layar yang melengkung.

Bangun monitor atau pesawat televisi semacam di atas, tidak lepas juga dari perkembangan digitalisasi. Pengubahan segala bentuk materi dalam kode atau sinyal digital. Digital dalam bentuk paling sederhana bisa diibaratkan sebagai kode morse, yang terdiri atas titik dan garis. Namun, imajinasi titik dan garis itu bisa juga ditangkap oleh pegiat kelistrikan sebagai sinyal listrik yang tersambung, atau sinyal listrik yang terputus. Demikianlah digital itu muncul dari suatu pengaturan kelistrikan tersebut.

Materi yang besar menjadi tidak elok dipandang dari sudut pandang sekadar titik dan garis atau listrik yang tersambung dan terputus. Materi tersebut mesti dipecah sedemikian kecil dan dikirimkan dalam bentuk paket-paket, sehingga penerima di ujung sana juga menerima dalam bentuk yang kecil-kecil itu untuk disusun sendiri menjadi materi yang besar. Itulah digitalisasi.

Proses digitalisasi gambar dan suara pada televisi perlu disampaikan ke penerima melalui metode pengaliran atau streaming. Proses pengaliran ini mengandaikan tidak ada sesuatu yang disimpan di penerima akhir. Mengalir “begitu saja”. Materi yang disampaikan diubah kembali dari paket-paket yang terhimpun menjadi materi gambar ataupun suara. Jika materi itu merupakan gambar dan suara bergerak, pengaliran itu pun diwujudkan kembali dalam bentuk gambar dan suara bergerak. Jadi, aliran itu dengan sendirinya “hilang” karena berganti kembali menjadi materi berupa gambar atau suara.

Kalau pengaliran bisa dilaksanakan, jalan apakah yang dibutuhkan untuk mengalirkannya? Pada media siaran televisi, jalur yang biasa dipakai (dengan mengandaikan tidak hendak berganti peralatan yang seluruhnya baru) adalah frekuensi siaran televisi. Frekuensi-frekuensi itulah, dengan pembatas berupa aturan pemerintah, mengizinkannya untuk dipakai untuk layanan ke masyarakat. Jalur frekuensi siaran televisi yang biasa dikenal adalah frekuensi teramat-tinggi atau ultrahigh frequency (UHF).

Ketika siaran televisi mengampanyekan untuk dilaksanakannya siaran digital, tampaknya frekuensi siaran televisi tersebut akan dipakai sebagai jalur pengaliran. Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi streaming juga dapat dilakukan pada frekuensi ultrahigh ini. Meski, untuk menangkap siaran dimaksud, memang disebutkan perlu peralatan tambahan semacam modem untuk menerjemahkan sinyal atau paket data yang diterimanya.

Apabila pengaliran mulai diwacanakan oleh lembaga penyiaran publik (pelat merah), sepertinya membawa implikasi kepada saluran-saluran siaran berbayar. Alternatif yang kemungkinan dipakai adalah modem tersebut nantinya hanya bakal menangkap satu sinyal siaran saja dari siaran televisi “berpelat merah” dimaksud. Sementara untuk dapat mengakses siaran dari televisi berbayar, kemungkinannya akan dimintai konfirmasi semacam login. Namun, di sisi lain konsep ini tampaknya bakal membuat operator telepon yang biasa berjualan “pulsa data” mencari-cari strategi pemasaran baru.

Iklan

Teknologi 4G atau 3G? (Lanjutan)

3 September 2017

Teknologi 4G atau 3G adalah tentang pemasyarakatan teknologi informasi dan komunikasi, tetapi juga tentang perebutan gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan pemanfaatannya.

 

Sejak dilepasnya pengelolaan jaringan komunikasi untuk juga dikomersialkan oleh swasta, dengan sebelumnya dikelola oleh suatu perusahaan negara, menumbuhkan sejumlah kemungkinan. Apakah swasta itu kemudian akan menggantikan posisi negara, menjadi oposisi, rival, pesaing, ataukah sekadar penyeimbang? Jaringan telepon tampaknya tidak sekadar dipegang oleh negara, dengan asumsi negara menguasai kepemilikan perusahaan negaranya atau memiliki sebagian terbesar dari saham yang ada.

Memang, telepon-telepon lawas hampir seluruhnya dipegang pelaksanaannya oleh negara, seperti dapat dilihat dari tiang-tiang telepon dengan kabel-kabelnya. Namun, jauh pula sebelum terjadi pergolakan reformasi yang menjatuhkan rezim pemerintahan Orde Baru, seperti laiknya pemerintahan sebelumnya untuk merebut hati rakyat dengan meluncurkan sejumlah gagasan paling modern, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi juga telah terpikirkan semenjak Orde Baru belum berakhir. Seperti dapat terunut dari penggunaan stasiun luar angkasa atau satelit buatan sebagai media pemancar dan penerima sinyal untuk membentuk jaringan komunikasi yang lebih luas.

Gagasan itu awalnya terbangun karena suatu kesadaran bahwa Indonesia adalah suatu negara kepulauan. Tiap-tiap pulau terpisah oleh suatu perairan. Kadang perairan itu ada yang sempit, sehingga relatif terjangkau dilalui dengan suatu kabel komunikasi, tetapi kadang ada yang terlalu panjang sehingga tidak ekonomis menghubungkannya dengan kabel komunikasi. Di samping kesadaran itu, Indonesia juga dibangun atas dasar kesadaran ideologi baru yang dibangun atas dasar kesatuan tata ruang, yakni bukan saja tanah dan air, tetapi juga udara yang ada di atasnya, yang berarti juga kesadaran tentang potensi maupun ancaman, tantangan, dan hambatan yang berasal dari angkasa luar.

Atas dasar konsep itu, pada sektor komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi, Indonesia pun turut memutakhirkan diri (dengan tidak menyebut hal itu sebagai suatu proyek mercusuar) dengan ikut meluncurkan satelit buatan ke angkasa, dengan pertama-tama dikenal sebagai satelit komunikasi siaran domestik (SKSD) Palapa. Keberadaan satelit ini diproyeksikan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, yang sebarannya meliputi tanah (daratan dan pulau-pulaunya), air (selat, laut, dan perairan di dalamnya), dan udara (sebagai perluasan dari konsep tanah-air Indonesia sebagai kesatuan pandang tentang tata ruang).

Namun, keberadaan stasiun angkasa menuntut juga kesiapsediaan stasiun bumi. Artinya, harus ada stasiun di bumi yang meneruskan pemancaran sinyal dari dan ke satelit di angkasa, serta mengelolanya. Demikian juga, akibat-akibat dari lengkungan bumi yang mencakup bentang panjang Indonesia menuntut pula keberadaan lebih dari satu stasiun bumi itu.

Kalau pada masa orde baru, stasiun bumi ini relatif terbatas dan dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan negara, kini pada masa reformasi, hampir di banyak tempat, terutama di kota-kota besar, relatif banyak stasiun bumi yang tersebar. Penguasaan atas stasiun-stasiun bumi ini juga beragam, ada yang dimiliki swasta partikelir, baik yang bergerak di sektor komunikasi, tetapi juga ada swasta perbankan, mengingat sempat muncul pemberitaan suatu bank “swasta” (pelat merah) mendukung dan membiayai peluncuran suatu satelit baru ke angkasa.

Kini model stasiun bumi pun beragam, meski intinya tetaplah suatu antena penerima/pemancar sinyal frekuensi. Mulai dari yang umum berbentuk parabola, antena panjang, hingga hanya kadang terlihat seperti tabung. Demikian pula topangan yang dibutuhkan untuk memasang antena itu juga beragam, mulai dari menara-menara besi/baja dengan ketinggian tertentu, tiang-tiang beton atau besi/baja yang berdiri menjulang, hingga sekadar atap dari suatu bangunan bertingkat.

Sifat dari jaringan komunikasi yang dibangun dari keberadaan stasiun bumi dan stasiun angkasa itu adalah transmisi dari suatu sinyal radio. Sinyal radio dapat diartikan sebagai suatu sinyal yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik pada rentang frekuensi radio. Dalam perkembangan telekomunikasi berbasis jaringan nirkabel, frekuensi yang lazim dipakai adalah gelombang elektromagnetik pada frekuensi 850, 900, 1800, 1900, dan 2400 MHz. Pada dasarnya, frekuensi yang disebut sebagai gelombang radio ini sama persis dengan gelombang elektromagnetik yang dipakai dalam pancaran sinyal radio yang umum dikenal, baik siaran radio komunikasi FM, SW1, SW2, AM. Sedikit berbeda sebutannya dengan radio komunikasi itu, sebutan teknologi dalam perangkat telekomunikasi nirkabel yang umum dipakai adalah EDGE, GPRS, GSM, dan LTE. Atau, beberapa teknologi campurannya (hasil perkawinan sejumlah standar) adalah HSUPA, HSDPA, UMTS.

Kini, teknologi mana yang dipilih? Sampai kini sejumlah siaran radio swasta masih ada yang bertahan, menyiarkan siaran melalui gelombang FM, dan mungkin di SW1, SW2, serta AM. Mengapa? Barangkali karena pertimbangan bahwa ekonomi yang diperoleh dari siaran radio di gelombang tersebut tidaklah terpengaruh oleh kemajuan teknologi EDGE, GPRS, GSM, ataupun LTE. Atau, boleh jadi juga, karena ada payung hukum yang melindungi bahwa untuk siaran lokal di sektor ini harus berupa suatu bentuk badan usaha atau usaha milik perorangan yang dikenai pajak. Lantas bagaimana dengan teknologi terbaru? Apakah teknologi itu diabaikan? Sepertinya, ada kecenderungan bahwa teknologi terbaru dipilih karena teknologi itu menawarkan pilihan yang lebih efektif atau efisien. Artinya, dengan tidak menyebut teknologi sebagai atau selalu berarti suatu investasi yang padat modal (karena bagaimanapun sejumlah teknologi komunikasi yang disebut di awal juga relatif mudah diperoleh di pasar dengan harga kompetitif atau relatif terjangkau), pilihan tersebut memungkinkan manfaat yang lebih baik daripada sekadar menggunakan teknologi yang lama.

Sayangnya, dalam era keterbukaan itu, sepertinya juga ada kecenderungan membawa-bawa pula konsumen ke dalam keharusan ikut bertanggung jawab terhadap layanan yang disediakan suatu bentuk usaha publik. Pandangan ini memang sifatnya hipotetikal (tengara) meskipun tidak ada salahnya untuk menelisik kebenaran yang sesungguhnya. Sebagai contoh, apakah memilih 3G ataukah 4G padahal substansi dasar komunikasi yang dibutuhkan adalah layanan dasar keunggulan koneksitas. Di sisi lain persoalannya mungkin bukanlah pada badan usaha publiknya, tetapi pada persoalan perusahaan raksasa yang jangkauan operasional di luar negara tempat perusahaan raksasa itu menginduk.

Teknologi 4G atau 3G?

14 Agustus 2017

Konon teknologi 4G adalah suatu teknologi terkini yang lebih unggul dari teknologi 3G.

 

Bagaimana atau apa teknologi 4G itu? Barangkali, suatu teknologi yang lebih maju, atau yang lebih unggul dari teknologi 3G. G adalah kependekan dari generasi. Kalau induk disebut 1G, maka turunannya adalah generasi kedua 2G, cucunya disebut 3G, dan cicitnya 4G. Tetapi entah apakah bisa dianalogikan demikian atau tidak.

Namun, bagaimana perkembangan telepon seluler selama ini? Berawal dari percakapan telepon yang sifatnya hanya percakapan radio. Kalau handy-talkie adalah percakapan dua arah dengan penyampaian suara secara bergantian atau bergiliran, telepon seluler menghendaki percakapan itu suatu bentuk percakapan yang bisa saling menyela. Kedua macam teknologi ini mendayagunakan frekuensi radio untuk mentransmisikan suara. Handy-talkie dan telepon seluler dua arah adalah telepon nirkabel generasi pertama dan kedua. Keduanya menjadi penanda bentuk teknologi awal telepon nirkabel yang belum seribet telepon pintar.

Tampaknya generasi pertama dan kedua melahirkan generasi baru yang memiliki jejaring yang luas yang menghendaki keterkaitan atau koneksitas. Maka pada periode menjelang berakhirnya generasi kedua, lahirlah generasi kedua setengah (2,5G). Pada generasi ini, teknologi jaringan (internet) berkembang menggunakan suatu protokol aplikasi nirkabel.

Di luar teknologi yang  nirkabel itu, sepertinya teknologi menggunakan kabel terus berjalan dengan membuat sambungan ke sana dan kemari. Sambungan-sambungan itu menghasilkan suatu jalinan jejaring yang berkaitan, sehingga lahirlah internet atau internetwork. Jika pada masa-masa awal teknologi telepon banyak melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap transmisi listrik untuk menghasilkan suara maupun sebaliknya mengubah suara menjadi listrik, maka pada jaringan internet itu, bukan saja suara, tetapi gambar, atau salinan gambar berusaha diubah menjadi sinyal-sinyal listrik.

Internet paling sederhana pada masa-masa awal masih bergabung dengan teknologi komunikasi telepon. Pada masa itu teknologi internet masih bernaung di dalam teknologi mesin faksimile. Namun, seiring dengan berkembangnya perangkat komputer sebagai kemajuan yang lain dari metamorfosis mesin tik elektronik, kalkulator, dan mesin hitung, komputer pun pada akhirnya menghendaki koneksitas. Dari situ lahirlah sistem jaringan, dengan suatu protokol yang belum tergabung dengan protokol telepon kabel, orang bisa berkirim surat, mengirim berita, mengobrol, dan dengan menambah mikrofon dan speaker, pada fase itu orang bisa bertelepon tanpa telepon. Demikian pula, ketika jaringan itu bertambah dengan kamera jaringan (web-cam), orang dapat bercakap-cakap layaknya bertatap-muka jarak jauh.

Jika fase-fase perkembangan di atas diterangkan dalam suatu urutan waktu, ada dua atau tiga macam teknologi yang berkembang sendiri-sendiri secara paralel. Pemancar radio berkembang menjadi telepon, baik telepon kabel maupun telepon nirkabel, mesin hitung berkembang menjadi komputer, serta teknologi jaringan yang menghubungkan perangkat-perangkat yang sama itu. Boleh jadi, hal itu dipandang sebagai suatu evolusi, dari fase sederhana menuju fase yang lebih kompleks.

Meski teknologi informasi dan komunikasi semacam telepon, komputer, radio, dan sistem jaringannya mengalami perkembangannya sendiri-sendiri, tetapi ada suatu saat yakni pada fase-fase tertentu juga mengalami penggabungan atau perkawinan teknologi. Sebagai penanda fase-fase perjumpaan atau penggabungan teknologi tersebut, tampaknya orang senang mengabadikannya dengan penamaan tertentu, seperti generasi pertama (1G), generasi kedua (2G), generasi ketiga (3G), generasi keempat (4G), dan seterusnya.

Secara khusus, pengetahuan terhadap suatu teknologi pada masyarakat pada dasarnya adalah suatu perikehidupan bagi masyarakat yang menguasai atau memiliki teknologi tersebut. Oleh sebab itu, pada masanya ada masyarakat yang menjajal peruntungan dalam sektor ini dengan membuka warung telepon (wartel), warung internet (warnet), dan penyedia layanan internet. Bisnis semacam ini merupakan bisnis “kecil” atau bisnis “hilir”, yakni bisnis yang peruntungannya menumpang dari keberadaan bisnis “besar” atau bisnis “hulu” yang wujudnya adalah perusahaan-perusahaan telekomunikasi utama yang menggunakan teknologi-teknologi 1G, 2G, 3G, 4G, dan seterusnya itu.

Seperti apakah peruntungannya? Atau bisnis mana yang setidaknya dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama? Wartel jika melihat dari kemunculannya berada dalam periode 1G, untuk bertahan maka yang dapat dilakukannya hanyalah dengan mempertahankan keklasikannya. Namun, periode 2G dan 3G, dengan telepon-telepon nirkabel yang bisa dikantongi anak sekolah dasar hingga orang lanjut usia, banyak mengubah perilaku bahkan tatanan sosial masyarakat. Periode ini mengubah peruntungan-peruntungan itu dalam hitung-hitungan yang lebih pelik. Bukan saja perusahaan utama menghilirkan bisnisnya, tetapi perusahaan utama pun boleh jadi juga berpikir ulang terhadap bisnisnya, termasuk tentang kepentingan untuk menghilirkannya.

Dalam situasi menunggu dan menjajagi itu, masyarakat yang ingin menjajal peruntungan kerap harus beralih teknologi atau memikirkan teknologi untuk sekadar mengikuti perkembangan jaman. Bisnis dalam pandangan ini adalah pilihan yang dijatuhkan oleh masyarakat sebagai pengguna atau pemakai. Namun, apakah untung atau dipermainkan oleh peruntungan itu, hal ini pun bergantung dengan pusaran pemilik modal yang menguasai pasar teknologi yang ada.

Jadi, apakah memilih teknologi 4G ataukah 3G? Untuk mempersempit pembahasan, contoh kasus yang diambil adalah tentang tawaran pilihan kapasitas pemakaian teknologi itu dalam bentuk belanja pulsa internet atau data. Penyedia layanan data yang terdiri atas operator pengguna frekuensi radio merupakan pemilik modal atas teknologi yang tersedia. Apabila melihat keberlangsungan bisnis utama mereka, penguasaan teknologi terbaru adalah isu penting untuk meyakinkan keberlanjutan bisnis mereka di tengah pesaing lain di sektor teknologi informasi dan komunikasi itu. Semakin efektif teknologi, bisa diharapkan semakin efisien kinerja yang diharapkan. Jika menilik segi ini, teknologi 4G atau 3G, mestinya adalah isu untuk pemodal tentang bagaimana mereka menyiapkan skema belanja untuk konsumen.

Namun, isu itu tampaknya beralih pula menjadi tanggungan masyarakat. Jika pada masa 2,5 G ke 3G, skema yang biasa ditawarkan adalah percakapan gratis untuk percakapan telepon dengan nomor operator yang sama, atau bonus penggunaan data pada periode jam-jam tertentu, kini pada masa 3G ke 4G, masyarakat sendirilah yang harus menentukan. Sebab bukannya dengan bonus data pada periode tertentu yang ditawarkan, atau penurunan laju ketika suatu kuota data telah tercapai, kini bonus itu justru diperoleh ketika masyarakatnya menggunakan teknologi yang terbaru. Atau dengan kata lain, ada perubahan pola penguasaan atau penyebaran teknologi informasi dan komunikasi, yaitu yang dahulunya ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan utama, kini ada pula yang langsung dijual atau disebarkan kepada masyarakat umum.

 

 

Pulsa

31 Juli 2017

Saya pikir, pulsa merupakan suatu terminologi baru, setidaknya buat saya. Saya selalu ingin mengartikannya sebagai suatu denyut.

 

Pada saat mengenal peranti telekomunikasi berupa telepon, sejumlah pengetahuan baru muncul. Di antaranya adalah mengenai tarif/biaya. Awam boleh jadi tidak ambil pusing mengenai apa itu pulsa. Apakah itu berarti denyut, gelombang, transmisi listrik, atau malah lama berbicara. Pengetahuan praktis yang orang ingin tahu biasanya adalah mengenai ongkos yang diperlukan untuk bertelepon. Oleh karena itu, konversi hal-hal teknis ke dalam nominal rupiah menjadi keniscayaan.

Ketika perangkat telepon seluler merebak, pulsa menjadi kebutuhan pelengkapnya. Untuk memperolehnya, orang dapat memilih berbagai varian harga, mulai dari 5 ribu, 10 ribu, hingga 300 ribu.

Dari berbagai varian harga itu, orang mulai berpikir mengenai mana yang lebih bagus, lebih jelas, dan lebih menguntungkan.

Meski begitu, keberadaan pasar menimbulkan suatu efek baru yang disebut persaingan. Karena tujuan persaingan adalah memenangkan pasar, pulsa pun dipakai sebagai salah satu komoditas dalam persaingan tersebut. Sebagai contoh, pulsa suatu nominal rupiah dapat berarti bebas biaya interlokal di seluruh kota-kota di Indonesia, percakapan gratis untuk sesama pengguna telepon yang memiliki nomor telepon dalam jaringan operator yang sama, atau percakapan dua menit memperoleh gratis pengiriman pesan singkat, dan sebagainya.

Bagaimana rumusan-rumusan promosi semacam itu dimungkinkan? Keandalan teknologi, sistem informasi, dan keberadaan jaringan memungkinkan hal tersebut.

Sekali Lagi tentang Pascabayar

8 Juni 2017

Saya tiba-tiba teringat mengenai pelayanan telepon di salah satu penyedia layanan ketika seorang petugas rumah sakit menanyai identitas saya di suatu loket pendaftaran pasien.

 

Apa hubungannya layanan rumah sakit dengan layanan operator telepon? Pada suatu kesempatan di depan loket pendaftaran pasien di sebuah rumah sakit ketika hendak mendaftar berobat, saya tidak mengantongi kartu pasien. Petugas pun menanyai identitas saya sambil mencocokkannya dengan hasil pencarian dari database yang ia (rumah sakit) miliki. Dan salah satu yang ia lakukan dalam mengkonfirmasi identitas saya adalah menanyakan nomor telepon saya.

Di rumah sakit tersebut informasi nomor telepon yang tersimpan adalah nomor telepon saya yang lawas, yang sudah “divonis” hangus oleh penyedia layanan telepon. Memang, ada perasaan kecewa atau sedih mengenang peristiwa hangusnya nomor telepon saya. Seingat saya, pernah ada pesan masuk berupa pemberitahuan bahwa kartu telepon saya berada pada masa tenggang. Namun agaknya saya luput memperkirakan batas masa tenggangnya. Hingga selang beberapa waktu setelah itu, pesawat telepon nirkabel saya tidak memperlihatkan tanda-tanda sinyal masuk.

Saya menghibur diri bahwa pasti ada harapan. Benak saya merancang-rancang kemungkinan bahwa saya akan mengadukan kepemilikan nomor itu melalui layanan konsumen di gerai operator (penyedia layanan) telepon. Setidaknya, rancangan demikian timbul mengingat dahulu saya pernah menyampaikan laporan kehilangan ponsel (termasuk kartu telepon di dalamnya). Seorang petugas yang bersimpati memberikan pelayanan dengan ramah kepada saya. Ia menyampaikan bahwa klaim saya diterima. Saya tidak dipersulit atau mengalami banyak kesulitan (apalagi harus menyertakan sepuluh nomor telepon yang terakhir saya hubungi atau menyampaikan salinan berita laporan kehilangan dari kepolisian). Kemujuran ini rupanya karena saya dapat menunjukkan bungkus yang memperlihatkan nomor telepon itu.

Dalam hubungan konsumen dengan penyedia layanan, “bungkus” kartu telepon rupanya dapat menjadi bukti tertulis mengenai perjanjian yang saya buat dengan penyedia layanan (meski sejatinya, saya tidak pernah berikhtiar mengikat perjanjian dengan penyedia layanan). Pengalaman ini melatarbelakangi saya untuk mengajukan kembali klaim serupa. Namun berbeda dengan pengalaman yang silam, kali ini saya tidak menyertakan alasan “kehilangan ponsel dan kartu telepon”. Sebab, memang bukan ponsel dan kartu telepon saya yang hilang, melainkan sinyal teleponnya yang hilang.

Sayang, kepolosan saya kali ini tidak berbuah apa-apa. Petugas yang menjumpai saya mengecek sebentar pada perangkatnya. Lalu ia menyampaikan bahwa kartu yang saya gunakan sudah melewati masa tenggang. Si petugas layanan berujar bahwa nomor tersebut tidak dapat diaktifkan (meskipun begitu, ia memberikan kesempatan kepada saya untuk mengajukan klaim kepemilikan nomor tersebut melalui cara pengalihan sistem, yakni dari sistem prabayar menjadi pascabayar). Saya menolak.

Pada waktu itu ada rasa dongkol di hati saya. Namun, penolakan itu saya sadari juga berlandaskan pertimbangan. Apa pertimbangannya? Saat saya ke layanan operator tersebut, nama dan identitas saya diminta. Artinya, database yang menghubungkan kepemilikan nomor telepon dan identitas saya mestinya sudah dipegang oleh gerai yang saya datangi. Kalaupun saya bersikukuh memilih model prabayar, bukankah itu juga hak saya?

Namun entah. Berbeda barangkali dengan listrik prabayar yang tidak berakhir dengan penyegelan jika Anda gagal membayar tiga bulan berturut-turut (?). Tidak demikian halnya dengan layanan telepon nirkabel ini. Jika Anda sudah melampaui masa tenggang, artinya Anda (baik setuju atau tidak setuju) membatalkan perjanjian penggunaan layanan. Masa tenggang ini tampaknya berbeda-beda antara satu operator dengan operator lain, dan barangkali menjadi salah satu parameter dasar yang diyakini tiap-tiap penyedia layanan dalam memperhitungkan kelayakan bisnis ini di tengah persaingan memperebutkan pangsa pasar telekomunikasi.

Demikianlah penjelasan atas kaitan layanan di rumah sakit dengan layanan di sebuah operator/penyedia layanan telepon yang saya sebut di awal.

 

 

INTEROPERABILITAS

21 Mei 2017

Akan ke manakah perkembangan teknologi sambung-menyambung (internet) ini nantinya? Apakah akan berujung kepada suatu pesawat televisi/pesawat radio dua-arah?

Ketika pertama kali pesawat radio ditemukan (meski kisah tepatnya saya tidak tahu), orang bersorak gembira menangkap sinyalnya dari suatu daratan yang dipisahkan Samudra. Suatu sinyal morse untuk pertama kalinya berhasil dikirimkan dari Eropa ke Amerika melintasi Samudra Atlantik, yang rentang panjangnya pada waktu itu hanya dapat dijembatani manusia dengan kapal-kapal Samudra.

Berapa ongkosnya? Berapa jeda berita itu bisa sampai? Orang masa kinilah yang sambung-menyambung menggunakannya: begitu saja.

Di Indonesia perkembangan radio dan pemanfaatannya terbaca dari suatu perkembangan radio amatir. Pada waktu pemancar radio mulai dijual di pasaran, orang mengambil peluang membangun suatu koneksitas (keterhubungan). Satu kelompok, dengan menggunakan suatu gelombang dalam frekuensi radio, berbalas pesan, memecah kesunyian (break), menangkap pesan suara (kopi), bergilir-bicara, dan roger: pesan diterima.

Bagi mereka yang terkesima, itu adalah suatu kehebohan. Orang dapat berkomunikasi dua-arah melalui suatu perangkat elektronik yang terpisah jarak kedudukannya. Dapatkah koneksitas, keterhubungan itu, tidak sekadar kopi-break-roger? Apakah komunikasi itu dapat lebih bernilai? Barangkali itulah awal lahirnya tema-tema komunikasi di kalangan para pecinta radio, amateur radio, mereka yang punya profesi di luar radio, tetapi punya kecintaan pada radio. Itulah cikal berdirinya radio amatir, yang menjadi sarana penyampaian pesan melalui gelombang radio, menyampaikan berita-berita dalam lingkup komunitasnya.

Pesawat telepon adalah suatu gagasan lain. Ia bersaing dengan gelombang radio sebagai manifestasi perebutan pasar komunikasi. Namun, awam juga menangkap gagasan lain, mengenai keuntungan yang dipetik dari suatu persaingan. Awam ini mungkin orang ketiga, keempat, kelima, dan ke-seterusnya. Hingga muncul pada suatu waktu satu pihak yang bercita-cita menyatukan telepon dan radio. Itu artinya, kekayaan baru atau mungkin juga suatu keserakahan baru.

Penyatuan itu perlu waktu. Waktu yang dihabiskan orang dari suatu percobaan ke percobaan lain. Spionase. Jiplak-menjiplak. Bajak-membajak. Juga keinginan atau keserakahan menguasai satu atas yang lain. Suatu nafsu, kerakusan.

Karena gelombang merambat pada suatu media, kekayaan berarti menguasai media. Karena gelombang harus bergerak dengan cara merambat, kekayaan berarti mencegah gelombang itu merambat.

Namun, awam yang lain, entah orang keenam, ketujuh, kedelapan, dan ke-seterusnya, mengambil untung dari persaingan. Mereka minta operabilitas. Media harus bebas dari intervensi. Rambatan gelombang harus dihormati: biarkan ia merambat untuk sampai ke tujuan. Sebab, itulah privasi.

Akhirnya, mereka yang menguasai atau merasa menguasai diminta mengakui, ada suatu awam, entah pihak kesembilan, kesepuluh, kesebelas, dan ke seterusnya, meminta suatu operabilitas atau bahkan inter-operabilitas.

Pesawat telepon bisa saja dibuat oleh B, tetapi diminati oleh C. Namun, D boleh jadi menyukai pesawat telepon keluaran A, dan itu menyebabkan C dan D menghendaki operabilitas atau interoperabilitas.

Silakan bersaing, jiplak-menjiplak, bajak-membajak, tetapi boleh jadi akan muncul awam keduabelas, dan ke-seterusnya, menghendaki pertimbangan lain, dengan hitung-hitungan dan keuntungan yang lain.

 

 

 

 

Prabayar

8 April 2017

Baru-baru ini layanan operator telepon ponsel saya agak gencar mengirimi pesan singkat. Kesannya sangar, meski tampil halus supaya tidak terlihat mengintimidasi, yakni permintaan untuk melakukan registrasi dengan dalih: Pemerintah mewajibkan.

 

Sebelumnya, pesan singkat yang gencar masuk adalah promosi tentang pascabayar. Saya melatih diri untuk kukuh sebagai konsumen yang resisten. Barangkali karena itu, lalu masuklah pesan lain: pengguna prabayar wajib melakukan registrasi, dengan argumen Pemerintah mewajibkan.

Memang sejenak saya berdecak kagum ada operator telepon swasta yang giat dengan layanan kemasyarakatan itu. Betapa loyal sepertinya operator layanan seluler ini menyampaikan kampanye Pemerintah. Meski begitu, saya juga harus menerangkan bahwa ongkos prabayar saya, lunas di muka!

Jika Anda mau membaca tulisan saya sebelumnya berjudul Telepon, saya sempat menyinggung sedikit tentang telepon umum. Konsep prabayar sebetulnya secara praktik telah muncul pada telepon umum. Pada saat Anda memasukkan koin-koin sebelum mengengkol nomor tujuan, atau memencet angka-angka yang menunjuk nomor yang hendak Anda hubungi, Anda membayar di muka. Jika sambungan Anda lama sehingga tidak sebanding dengan koin yang Anda sisipkan, sambungan terputus. Sebaliknya, jika koin berlebih sementara sambungan semestinya masih panjang, tetapi Anda mencukupkan percakapan telepon, koin Anda tidaklah selalu kembali. Meski pada kasuistik lain, boleh jadi koin-koin bergemerincing jatuh dari boks telepon saat gagang telepon diletakkan. Namun toh, itu juga bukan disebut kembalian atas sisa kuota percakapan telepon itu.

Ketika warung telepon marak, sebagai alternatif layanan telepon umum, pada dasarnya “warung telepon” itu mengambil selisih prabayar untuk pengelolaan wartelnya. Artinya, saya atau Anda pada saat membayar sesudah melakukan sambungan percakapan melalui telepon, itu pun prabayar. Anda membayarkan di muka kepada pengelola atau pemilik wartel atas pengelolaan telepon yang dimiliki si pemilik usaha. Memang, dari sisi si pemilik ia membayarkan paska atau pasca. Namun, ia mensiasati abonemen dengan menyewakan perangkat dan sambungannya untuk mempertahankan pesawat telepon dan sambungan teleponnya.

Dalam pandangan saya, pasca atau paska-bayar diperlukan oleh operator telepon untuk memastikan jumlah nyata pelanggannya. Sebelum ada sejumlah operator telepon di luar telkom seperti sekarang, sambungan tetap dengan nomor-nomor tercatat dan pembagian nomor tertentu mengikuti area tertentu itu berdatabase lengkap. Bahkan operator layanan telepon dengan bangga menerbitkan Halaman Kuning (yellow pages) sebagai database yang dipublikasikan kepada pelanggan yang memanfaatkan layanan teleponnya. Nama pemilik, alamat, dan nomor teleponnya jelas tercatat. Namun, kondisi ini sulit terpenuhi ketika nomor telepon prabayar beredar di pasar. Di sisi lain, penjualan kartu prabayar membentuk pasar tersendiri di masyarakat sebab kartu prabayar ini mentransformasikan fungsional warung telepon. Demikian pula, kemunculan kartu prabayar juga berhasil menjadikan dirinya tahapan metamorfosis penjualan pulsa kartu telepon pengganti koin.

 

Telepon

18 Maret 2017

Pada masa ‘saya’ ada suatu peralihan penggunaan teknologi di Indonesia. Dari penggunaan telepon berkabel kepada telepon nirkabel.

Teknologi komunikasi pada masa ‘saya’, saya pelajari dari bangku sekolah. Saya atau kami belajar tentang ‘etiket’ bertelepon. Seingat saya, itu kami pelajari ‘bersama-sama’ ketika kami belajar bahasa, atau berbahasa Indonesia yang baik. Tidak ada ‘telepon beneran’ pada waktu itu. Kami sekadar mensimulasikan. Seperti membuat “drama”. Dengan salah satu penggal atau fragmen ceritanya adalah tentang kami yang sedang bertelepon.

“Halo, selamat pagi,” atau “[menyebut nama suatu kantor/tempat/sekolah], selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” dan seterusnya. Kami memeragakan dalam suatu dialog, atau percakapan dalam sambungan telepon.

Di dekat tempat kami tinggal pada waktu itu ada kantor pos. Dulu, kantor pos ada kaitannya dengan telekomunikasi. Di pojok kantor pos itu kami atau khalayak mulai diperkenalkan dengan telepon umum. Sebuah perangkat komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Karena tidak ada yang jaga, penggunaannya dilakukan dengan cara memasukkan koin atau uang ke kotak telepon. Mungkin karena tidak ada yang “jaga” itu kadang penggunaannya itu “untung-untungan”. Kalau beruntung, begitu kita memasukkan koin, memencet angka-angka yang menunjukkan nomor yang kita tuju, sambungan komunikasi dapat segera diperoleh. Namun, ada kalanya, sambungan tidak diperoleh, tetapi koin tetap tertahan dalam kotak telepon. Dan suatu waktu, mungkin saking alat telepon itu adalah telepon umum (dan tidak ada yang “jaga”) suatu ketika begitu saya meletakkan gagang telepon, justru koin-koin keluar bergemerincing dari pancingan satu koin yang saya masukkan. Jika tidak ada orang yang tahu, mungkin itulah keuntungan saya.

Nah, tidak jauh berselang dari telepon umum itu, tampaknya ada juga orang yang juga punya perhatian dengan keberadaan telepon umum. Sejauh yang saya ingat, siaran radio (maksud saya pemilik stasiun radio) mulai bereksperimen menggabungkan komunikasi dua arah antara penyiar dengan pendengarnya. Caranya, ketika mereka tengah mengudara, pendengar diminta untuk menelepon sembari siaran radio tetap mereka nyalakan dari pesawat radio yang mereka punya. Meski sering atau kadang timbul bunyi berdenging, komunikasi dua arah itu “berhasil”! (Bunyi berdenging konon berasal dari resonansi frekuensi. Orang banyak menyebutnya feedback. Sementara saya menulis “berhasil” dengan tanda petik karena orang-orang lain, bukan kami, yang bertelepon yang berhasil itu.)

Telepon pada masa itu masih melekat dengan asosiasi teknologi maju. Artinya, kepemilikannya masih berpusat kepada orang-orang berpunya. Demikian pula, penggunaannya juga menempatkan penggunanya pada derajat sosial yang lebih tinggi.

Sesudah masa telepon umum itu, sejauh yang saya ingat, di tempat lain yang lokasinya berbeda dari tempat kami tinggal sebelumnya, ada orang (wirausahawan) yang membuat usaha penyewaan telepon. Pada orang atau pemilik usaha ini telepon dapat dipakai oleh umum, dijaga, meski kadang untuk percakapan lokal, kita masih dapat membayar dengan “koin”.

Untuk memberi kesan bahwa percakapan tidak didengar umum (sekalipun telepon itu dapat dipakai oleh umum), pesawat telepon tersebut ditempatkan dalam sebuah bilik, yakni ruangan kecil bersekat kaca dengan jarak bebas orang dewasa berdiri.

Jika mengamati pengaruh dan perkembangan telepon umum dalam strata sosial, pengaruh penyediaan jasa telepon umum tidaklah sehebat pengaruh telepon genggam seperti yang saat ini. Sekalipun begitu, kepemilikan telepon genggam pada masanya juga sempat mencirikan tingkatan sosial seseorang di kemasyarakatan. Artinya, teknologi maju masih identik kepemilikannya kepada sebatas orang.

 

Pelataran

4 Maret 2017

Beberapa waktu ini kami atau lebih tepatnya saya, karena mengamati pelataran yang menjadi tempat kerja kami, jadi sering mengamati beberapa hal yang ada di pelataran. Dalam bingkai pelataran itu terdapat beberapa konsep yang di antaranya menggunakan ide “ramah”; misalnya: ramah alam, ramah manusia, dan sebagainya. Demikian pula, si perancang pelataran itu tampaknya juga mengadopsi gagasan bahwa pelataran itu hendaknya ramah di waktu hujan dan ramah di waktu kemarau.
Ramah di waktu hujan artinya pelataran harus mampu menyerap atau meneruskan air hujan yang turun dari langit. Jangan ia menjadi genangan atau membuat tanah menjadi lumpur. Kemudian, ramah di waktu kemarau artinya pelataran hendaknya cukup rindang dan menjadi tempat berteduh. Oleh karena itu, di pelataran itu dibiarkanlah sejumlah tanaman keras untuk tumbuh.

Pelataran kadang juga dikenal dengan sebutan halaman. Biasanya halaman atau pelataran merupakan tempat untuk bertemu orang. Karena sebagai tempat bertemu orang itu, konsep atau gagasan lain yang muncul adalah ramah lingkungan. Ramah lingkungan artinya orang di luar si-empunya halaman atau pelataran itu hendaknya dapat merasa nyaman bertemu di situ. Oleh sebab itu, apabila di halaman ada pohon perindang, pohon itu dipangkas sekadar untuk memperlihatkan keindahan. Demikian pula, daun-daun yang gugur dikumpulkan, atau halaman disapu, dan barangkali juga diperkeras dengan semen, batu, atau lantai batu, sekadar agar tidak terlihat becek pada waktu hujan atau berdebu pada waktu kemarau.

 

Sopan Santun

23 Januari 2017

Seberapa dalamkah teknologi informasi dan komunikasi mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda? Apakah teknologi informasi dan komunikasi pun Anda sadari mengubah budaya Anda, oh maaf, “kebiasaan” Anda?

Seingat saya, sekitar dua puluh tahun lalu, menerima telepon di kendaraan umum semacam bus kota, bukanlah sesuatu yang wajar, dan dari sisi saya, juga kurang sopan. Tahu-tahu sesuatu berdering, atau di tengah “kesunyian” orang duduk berkendaraan umum, seseorang “berbicara sendiri”.

Pada sekitar dua puluh tahun lalu itu, telepon yang dibawa orang dengan memasukkannya ke dalam saku terhitung sebagai telepon “dungu” dibandingkan telepon masa-masa ini.

Lima tahun lalu –kurang lebih– seorang teman mengajak saya duduk di sebuah restoran, dan ia dan seorang yang lain mentraktir saya. Saya makan dengan rakus.

Ia atau seorang yang lain itu, memperlihatkan telepon yang “pintar”, dengan layar lebar, dan visual peta terbaru versi google-map. Saya ternganga. Saya tidaklah tertinggal amat dalam “pengetahuan” teknologi itu. Namun saya menyimpannya. Saya tidak “meneteng” sebuah telepon pintar sebagai pengganti laptop atau koneksi jaringan internet yang perlu saya bawa ke mana-mana.

Sekitar seminggu yang lalu, saya bersua dengan seorang kawan yang lain dan saya merenungkan dalam tulisan ini. Di tengah percakapan, obrolan yang ke-sana-ke-mari itu, saya terkejut, bahwa ia dan kawan yang lain menyela obrolan itu dengan suatu bentuk “percakapan teks”!

Sejauh nilai-nilai yang saya anut, saya laksana berada dalam arus zaman dan peradaban yang berseliweran di depan mata. Sengaja, saya menyimpan ponsel “pintar” saya di saku. Dan, saya benar-benar begitu goblok. Dungu. Mereka, yang mengobrol di depan saya itu, dapat juga mengobrol sekaligus dengan mungkin dua-tiga orang yang lain, yang “tidak” saya lihat!

Dahulu, sopan-santun, setidaknya jika itu yang disebut “nilai-nilai” itu adalah sopan-santun, menghendaki agar orang berkata, “maaf, permisi. ada telepon masuk, saya akan menjawab telepon dahulu.” Dan seterusnya.

Namun, entah. Karena saya pun kadang sengaja meneteng ponsel pintar saya, pura-pura menggeser-geser layar, mengklik sesuatu, karena saya memang tidak sedang ingin berbincang dengan seseorang.