Arsip untuk ‘Salinan’ Kategori

Madah Pujian

3 September 2009

Terpujilah Dikau, yang pada permulaan telah menciptakan alam semesta, yang selanjutnya memelihara alam semesta, dan yang akan menampung alam semesta. Terpujilah Dikau yang berhakikat rangkap tiga.

Sama seperti air dari langit, yang memiliki cita rasa tunggal, lalu mengambil cita rasa lain dalam aneka jenis tanah, Engkau menerima berbagai penampakan berbeda dalam sifat-sifat dasar segala sesuatu, sementara itu Engkau sendiri tetap tidak berubah.

Engkau sendiri tidak dapat diukur, namun Engkau telah mengukur dunia. Engkau sendiri bebas dari segala keinginan, namun Engkau adalah pemenuh segala kebutuhan. Tak terkalahkan, Engkau adalah sang pemenang tanpa kecuali. Engkau sendiri tak tersingkapkan, namun Engkau adalah asal mula dari segala sesuatu yang disingkapkan.

Engkau sungguh-sungguh berdiam di dalam hati manusia namun jauh tak terjangkau. Engkau tak memiliki hasrat apa pun, namun sungguh-sungguh menyilih dosa-dosa. Penuh bela rasa, namun Engkau tak tersentuh oleh dukacita. Berada sejak dahulu kala, namun Engkau tak pernah tua.

Engkau mengetahui segala sesuatu, namun tidak diketahui. Engkau adalah asal mula segala sesuatu namun sungguh-sungguh berada dalam kesendirian. Engkau adalah penguasa segala sesuatu namun tidak diperintah oleh siapa pun. Engkau adalah esa namun sungguh-sungguh menjelma dalam semua bentuk.

##Madah pujian kepada Wisnu yang dikutip oleh J. PH. Vogel lewat tulisannya yang berjudul “Relief Rama Prambanan yang Pertama” dalam buku Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang, suntingan Roy Jordaan dan dialihbahasakan oleh Yosef Maria Florisan. 2009. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.

Orde Baru

4 Februari 2009

Orde Baru, kata Sri Sultan dalam pidato pelantikan, bercita-cita menegakkan keadilan sesuai dengan ketentuan negara hukum: kekuasaan tunduk kepada hukum dan keadilan, golongan yang lemah dilindungi oleh hukum, setiap lembaga dan pejabat pemerintahan bekerja dengan jujur dan tertib, tunduk pada ketentuan yang berlaku dengan sah.

Sumber: Atmakusumah (Penyunting). 1982. Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX. Hlm. 3. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Orde Lama – A.A. Navis

17 Juli 2008

Presiden telah memerintahkan pada Hari Proklamasi yang akan datang, Negara Republik Indonesia harus dinyatakan sebagai Negara yang bebas buta huruf.

“Jangan bikin malu aku,” kata Gubernur pada Bupati.

Dan Bupati meneruskan pesan itu kepada camat. “Jangan sampai aku dimarahi Gubernur.”

Dan Camat memerintahkan kepada Kepala Desa, “Kalau masih kedapatan yang buta huruf, Kepala Desanya akan kumasukkan dalam tahanan.”

Dan Kepala Desa memerintahkan pada orang ronda. “Bunyikan canang. Suruh semua orang buta huruf masuk hutan.”

 

Orde Lama, A.A. Navis

(dikutip dari suatu buku kumpulan soal bahasa Indonesia)