Catatan tentang Nyadran

Sraddha, Nyadran pada Masa Lalu

sang hyang puşpa śarīra śīghra linarut sāmpun mulih sopakāra
(Nāgara Kŗtāgama)
[1]

Nyadran konon berasal dari kata sraddha. Dalam Nāgara Kŗtāgama dikisahkan upacara penghormatan kepada Sri Raja Patni yang diselenggarakan pada bhadra masa (bulan Badra) atau sekitar Agustus–September pada tahun saka diwasamasirahwarnna (1284 Saka atau 1362 M). Sri Raja Patni atau juga dikenal dengan nama Gayatri adalah neneknda Raja Hayam Wuruk, penguasa agung Kerajaan Majapahit.

Tradisi nyadran dalam masyarakat Jawa kini diselenggarakan mengikuti kalender Bulan[2], yakni bulan Ruwah, satu bulan sebelum bulan Pasa (Puasa). Acara yang dilakukan dalam tradisi ini antara lain adalah membersihkan makam leluhur, ziarah kubur, atau juga membuat apem. Mengenai yang disebut terakhir ini, saya hanya mengingatnya samar-samar. Dahulu, menurut ingatan yang samar-samar itu, orang membuat apem untuk dikirimkan kepada saudara atau tetangga kiri-kanan.

Dalam Kamus Jawa Kuna (Kawi)–Indonesia karya L. Mardiwarsito (1985)[3], kata śrấddha, memiliki dua makna. Arti yang pertama adalah “kurban”, sedangkan arti lainnya adalah “upacara pemakaman kedua kalinya (diselenggarakan 12 tahun kemudian sesudah meninggalnya seseorang)” . Namun, ada juga kata śraddhā— masih dari kamus yang sama— yang berarti suka, ramah, senang, ikhlas/rela hati, percaya, atau juga dapat berarti kepercayaan dan iman. Perhatikan beda huruf yang digunakan.

Bagi saya, kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno ini memang terasa begitu kuno saking saya tidak tahu maknanya. Sejumlah aksara bahkan saya tidak tahu maksud pembedaan tulisannya, seperti huruf s dengan ś atau a dengan ā. Tampaknya, pemilihan aksara itu dilakukan untuk menghadirkan pengalihaksaraan yang setepat-tepatnya.

Dari kamus Mardiwarsito juga, saya menemukan kata sragdhara. Yang artinya, memakai selempang atau karangan bunga. Jika pada “sraddha” ada penghormatan pada Sang Hyang Puspa, mestinya upacara ini memang lekat dengan pemakaian bunga.

Mengenai bunga yang dijual pada bulan Ruwah untuk mengirim ke makam leluhur, ada tambahan bunga khusus yaitu telasih. Biasanya, ragam bunga tabur untuk ziarah pada hari-hari di luar bulan Ruwah hanya terdiri atas mawar merah, mawar putih, melati, kantil, dan kenanga.

Nah, jika benar tradisi nyadran berasal dari upacara sraddha, itu berarti kebesaran Majapahit sangatlah tertanam kuat dalam hati masyarakat Jawa. Meski kini agama yang dianut orang sudah berbeda dengan masa itu, tradisi masih tetap berjalan, sekalipun dengan penghayatan baru.

————


[1] “Puspa lingga (simbol roh) segera dihanyutkan setelah selesai diupacara”, Wirama 67, Puşpacāpa, Bait 266, baris ke-3 dalam “Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama: Masa Keemasan Majapahit” oleh Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, S.U. 2009:330. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


[2] Penanggalan yang didasarkan atas peredaran Bulan (revolusi Bulan).


[3] L. Mardiwarsito. 1985. Kamus Jawa Kuna (Kawi)–Indonesia. Ende: Penerbit Nusa Indah.

———-

sesudah Juli, lalu Agustus

Tag: ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: