Arsip untuk Agustus, 2008

Merapi

25 Agustus 2008

Rupanya lampu listrik di desa kami padam menjelang subuh tadi. Karena itu aku bermimpi. Bermimpi tentang meletusnya gunung merapi yang memuntahkan lahar dalam percikan bunga api. Suatu gedung bertingkat rontok; orang-orang berlarian; kali-kali dan jurang-jurang terisi lahar. Magelang luluh lantak laksana digelangi oleh api. Dalam suatu desa yang di seberangnya ada cekungan seperti kali, mengalirlah lahar api dengan cepat, memukul beting, dan membentuk percikan yang terus melompat ke arah kerumunan orang yang berjaga-jaga. Di situ di antaranya ada aku. Kami mundur berlari menjauh, tetapi percikan itu sempat mengenai tangan orang. Aku membayangkan panasnya tentu teramat tinggi.

Gelap gulita ketika mataku tiba-tiba terbuka. Ada nyala api di lantai bergoyang-goyang diterpa angin pagi. Ada apa ini? Rupanya listrik mati, kakakku menyalakan api, dan aku baru saja terjaga dari mimpi.

25/08/08

Poem

Benarkah Begitu Bu?

20 Agustus 2008

Suatu kali seorang ibu baru saja pulang menjemput anak-anak dari sekolah dengan mengendarai BMW. Ibu itu menjadi sopirnya, anak yang bungsu yang baru masuk TK duduk di sebelahnya, sementara sang kakak duduk di bangku belakang. Tiba-tiba ketika sampai di sebuah traffic light dan lampunya merah, anak yang paling kecil berbicara kepadanya.
“Ibu, kenapa anak-anak itu tidak sekolah?”
Dari belakang stir, si Ibu melihat kepada sekerumunan anak yang tengah meminta-minta yang ditunjukkan oleh anak di sampingnya.
“Karena mereka tidak punya uang buat sekolah, anakku.”
“Kasihan sekali. Tapi kenapa orang tuanya sampai hati?”
“Karena mereka tidak punya harta,” celutuk kakaknya dari bangku belakang. “Bukankah ada tertulis di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Karena mereka tidak punya harta, ya mereka pun tidak punya hati.”

”Benarkah begitu Ibu?”

Si Ibu tertawa. ”Nanti kita tanya kepada ayah kalian. Ayah kalian tidak punya harta waktu menikahi Ibu….”

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. (Amsal 31:25, 26; TB LAI)
Catatan 3 dan 4: 2 Juli 2007, dua paragraf terakhir ditambahkan 20 Agustus 2008

Pohon Tumbang

16 Agustus 2008

Pohon itu kabarnya tumbang dan menimpa seorang anak muda hingga mati. Kabar yang segera melintas sawah-sawah dan bergaung hingga pojok-pojok desa.

Pohon itu masih tergeletak di tepi jalan, di sisi timur, dengan sebagian akarnya masih terbenam di tanah. Pohon itu memang sudah dipangkas. Sebagian batangnya sudah dipotong. Mungkin sekadar supaya tidak melintang di jalan. Padahal kalau mau dipakai sebagai persediaan kayu bakar, kayunya lumayan besar. Tapi mungkin orang tidak berani memakainya.

Pohon itu sudah lama rubuh, tetapi kini daun-daunnya bersemi lagi.

Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? (Ayub 14:7-10, TB-LAI)

Dia Sudah Punya Anak

14 Agustus 2008

“Dia sudah punya anak. Padahal baru bulan Oktober kemarin dia menikah,” katamu.

“Punya anak bagaimana?” tanyaku agak terkejut.

Oktober, November. Sekarang bulan November.

“Dokter bilang,” lanjutmu lagi, “istrinya sudah hamil.”

“Oh, kukira…,” gumamku.

“Barangkali malam itu…,” aku menatap wajahmu lekat-lekat. “Dia langsung melakukannya.”

Dan pikirku, aku pun ingin sekali melakukannya padamu.

Allah menentukan waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari,

waktu untuk bersenggama dan waktu untuk pantang senggama, waktu untuk memeluk dan waktu untuk menahan diri.

(Pengkhotbah 3:4-5, Alkitab dalam bahasa Indonesia Sehari-hari)

Khoikhoi dan San

14 Agustus 2008

Tersebutlah seribu tahun silam dua suku bangsa yang mendiami wilayah barat yang kini dikenal sebagai Afrika Selatan. Dua bangsa itu adalah Khoikhoi dan San. Sekitar enam ratus tahun berselang bangkitlah Xhosa, raja dari suku Nguni dan berkuasa atas wilayah tenggara yang kemudian disebut Kerajaan Transkei. Kerajaan itu terus berkembang sementara bersamaan dengan itu orang-orang Eropa mulai merambah ke dekat wilayah mereka. Orang-orang Eropa membentuk koloni di kota yang kini dikenal sebagai Cape Town. Kelak, pada abad ke-19, kekuatan baru yang datang dari Eropa ini menghancurkan rakyat Xhosa.

Sekitar tahun 1650-an orang-orang Belanda mempekerjakan orang-orang Asia dan orang-orang bagian lain Afrika sebagai budak di Cape Colony. Saat itu rakyat Khoikhoi tidak pernah menjadi budak karena perdagangan ternak mereka sangat berharga bagi Dutch East India Company. Namun, lambat laun ternak suku Khoikhoi mulai berkurang dan tanah-tanah penggembalaan mereka semakin sempit. Akhirnya, rakyat Khoikhoi pun menjadi tenaga buruh pada majikan-majikan petani Belanda.

Ada dua peperangan meletus ketika orang-orang Belanda memperluas wilayah pendudukan mereka. Peperangan pertama terjadi dari tahun 1659 sampai 1660 yang diawali oleh suku Khoikhoi, kemudian peperangan kedua berlangsung lagi dari tahun 1673 sampai 1677 yang diawali oleh orang-orang Belanda. Dari kedua pertikaian itu, yang muncul sebagai pemenang adalah orang-orang Belanda. Kemudian, pada tahun 1713 merebaklah wabah penyakit cacar, dimulai dari Cape Town lalu menyebar ke pedalaman sekitar. Banyak suku Khoikhoi yang mati. Sebagian yang masih hidup kemudian mengungsi ke negeri-negeri Utara, sedangkan yang lain, memilih bertahan dan selanjutnya menikah dengan orang-orang Asia ataupun orang-orang kulit putih yang kelak menurunkan generasi baru yang disebut Kaum Campuran.

Sementara itu, bangsa San masih menyintas sekalipun juga mulai tersisih dalam kancah kemasyarakatan. Tidak seperti masa-masa sebelumnya, kini mereka semakin sulit dengan cara hidup berburu. Sebagai jalan pintas, mereka pun mengalihkan buruan dengan menyerang ternak piaraan. Bangsa Eropa nyaris melenyapkan semua laki-laki suku San dan mengambil perempuan dan anak-anaknya sebagai tenaga rodi. Sebagian suku San meloloskan diri dan mengungsi ke Utara ke negeri yang kini kita kenal sebagai Namibia dan Botswana.

Disadur dari: http://encarta.msn.com/encyclopedia_761560550/Cape_Province.html

Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?

Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?

Penggalan nyanyian. Mazmur Kaum Korah (Mazmur 88, TB). Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi.