Dara Pêthak dan Dara Jingga

20 Januari 2012

Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu.

(Yohanes 3:29, TB-LAI)

Dara dalam bahasa Indonesia memiliki sejumlah makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia sampai menyajikannya dalam tiga lema karena tulisan dan ucapannya yang sama. Lema yang pertama, dara berarti anak perempuan yang belum kawin atau gadis atau perawan. Lema yang kedua, merujuk kepada istilah peternakan, dara berarti ternak betina yang berumur lebih dari satu tahun dan belum beranak. Sedangkan lema yang ketiga, dara berarti merpati–Columba domestica.

Dari kisah pada masa lalu, ternyata ada juga orang yang menyandang “nama” dengan kata dara, yakni Dara Pêthak dan Dara Jingga. Sebutan ini muncul barangkali karena orang yang memanggilnya belum sempat berkenalan dengan mereka. Sudah tahu wajahnya, sosoknya, tetapi tidak berani menyapa untuk mengetahui namanya. Mungkin orang-orang juga hanya bisa melihatnya dari kejauhan karena mereka yang empunya nama duduk di dekat orang-orang berkuasa. Rakyat lalu berbisik dari yang satu kepada yang lain, “Itu dara pêthak duduk dekat dara jingga.”

“Maaf, yang mana dara pêthak?”

“Itu…, yang duduk dekat dara jingga.”

Namun bisa jadi juga tidak begitu. Bisa saja, sudah ada orang yang menyapanya dan bertanya-tanya tentang nama kedua gadis muda. Lalu si gadis tampak menjawab sesuatu dan si gadis lainnya juga mengungkapkan sesuatu. Sayang, gara-gara bahasa si penanya tidak sama dengan bahasa yang ditanya, tidak berhasillah jalannya kata-kata. Maka untuk mudahnya, si penanya mengakukan saja nama kedua gadis muda itu (jika suatu saat dirinya ditanya) bahwa mereka, para gadis muda itu, masing-masing menyandang nama: dara pêthak dan dara jingga.

Pêthak dan jingga adalah nama-nama warna. Akan tetapi, apakah ini dimaksudkan untuk menunjukkan warna-warna rambut mereka?  Tampaknya tidak. Karena rambut dara kedua gadis muda, sepertinya tidak pêthak ataupun jingga.

Konon, dara pethak itu kemudian bersanding dengan nrêpa krêta rājasa jaya warddhana nrêpati. Sosoknya disebut-sebut sama dengan Sri Indreswari.

Segaran

3 Januari 2012

Langit menceritakan kemuliaan Allah,

cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya.

(Mazmur Daud, Mzm 19:1, LAI)

Matahari Sudah Melewati Puncaknya

31 Desember 2011

Berada di kerumunan manusia. Mereka tengah mengantre apa? Mencari hiburan di tengah kota. Mendengarkan alunan musik? Menikmati suara merdu Agnes? Aku dan manusia lain itu berada di lorong sebuah gedung bioskop. Duduk di lantai. Menunggu. Film diputar sejam lagi. Tempat sempurna untuk melihat cowok-cowok keren dan cewek-cewek cantik.

***

Aku tiba ketika matahari sudah melewati puncaknya. Kira-kira pukul setengah dua. Awan kelihatan gelap karena cuaca berubah mendung. Angin menderu-deru. Menerbangkan dedaunan hingga berserak-serak di halaman.

Aku tidak jadi melepas sepatu. Bangkit, lalu berjalan, menyeberangi Jalan Besar itu. Di sana ada warung sederhana. Aku mendatanginya.

“Di sini jualan apa?” tanyaku ingin tahu. Aku pikir mereka tidak sedang buka, atau mengira jualannya sudah ludes, laku semua.

“Bakso,” katanya.

Ah, aku mampir saja. Tidak mengapa.

Sambil menunggu, aku kemudian memberanikan diri bertanya, “Kalau hendak ke Tempat Penyimpanan Benda-Benda Lama, ke manakah arahnya?”

Si penjual menyebutkan arah. Di sana, di Perempatan Jalan itu, ambillah Jalan ke Selatan.

Apakah dari sini jauh jaraknya? Dan dia menjawab tidak. Bagaimana dengan transportasi ke sana? Aku membayangkan jaraknya. Tadi aku sudah melewatinya. Kalau dekat, mestinya aku berjalan kaki.

Penjual itu mengiyakan. Dari wajahnya dia seperti tersipu-sipu malu. Lalu mengajukan pertanyaan padaku.

Menthulnya mau yang mana? Yang besar atau yang kecil?”

Aku jadi rikuh. Menthul besar atau menthul kecil apa?

“Apa itu menthul?”

“Oh, menthul …. Itu adalah ini, Mas.”

Tangannya bergerak sigap, meraih tutup soblok besar di depanku. Lalu membukanya.

Asap putih tipis menyeruak.

Bakso seukuran bola tenis, itulah menthul besar, sedangkan bakso seukuran bola golf, itulah menthul kecil.

Aku duduk menunggu bakso dan teh panas pesananku. Hujan mulai turun.

Aku sampai di Trowulan. Tulisku dalam pesan pendek di Lontar.

(Bhumi Mataram berada jauh di Barat.)

Candi Sukuh

4 November 2011

Kalau Borobudur punya kemegahan, Candi Sukuh punya
keindahan.

Candi Sukuh adalah candi yang berada di lereng Gunung Lawu. Ia berdiri di halaman teras yang bersusun berundak-undak. Pada ujung bagian paling belakang kompleks, terletak bangunan utama. Bentuknya mirip piramida di Amerika. Yang menarik, candi ini memiliki banyak relief dan arca yang menonjolkan lingga.

Jika kita berjalan dari halaman depan, mestinya kita masuk melalui Gapura Muka. Di atasnya, menggantung kepala Buta. Mungkin sosok itu adalah gambaran Kala. Sang Waktu yang menjadi saksi atas segala kejadian yang berlangsung di jagad raya.

Kalau kita perhatikan, di lantai bawah Gapura Muka ada relief naturalis. Tampilannya indah, yang tak perlu diterka itu yoni atau lingga. Keduanya saling berhadapan, seolah mewartakan awal kelahiran. Manusia yang tiada harus malu, mau disaksikan Kala, bersiap dalam sanggama. Fase yang amat jarang ditampilkan dalam bangunan candi pada umumnya. Ini jelas. Bukan stiliran.

Penulis Suluk Tambangraras (Serat Centhini) mungkin pernah berkunjung ke sini. Merenunginya. Entah, mungkin juga melakoninya. Atau, malah membandingkan panjang miliknya. Satu genggaman atau dua genggaman.

Bangunan candi utama pada Candi Sukuh memang terlihat berbeda dari candi-candi di Jawa. Bangunan ini mungkin terinspirasi dari piramida terpancung pada bangunan suku pedalaman di Benua Amerika. Dalam pelayaran Samudra, beberapa pelaut boleh jadi ada yang singgah di nusantara karena tertarik oleh perdagangan di Wilwatikta (Majapahit). Oleh karena itu, ketika mereka berjumpa dengan para arsitek candi, mereka bersama-sama mewujudkan bangunan yang seperti ini. Arca-arca penyu di sana barangkali menggambarkan mereka-mereka yang pernah mengarungi Samudra.

Relief pada Candi Sukuh kabarnya mengisahkan cerita Sudamala dan Garudeya. Dalam bahasa Jawa masa kini sudamala bisa dimaknai menghilangkan keburukan. Kisah Sudamala bertutur tentang Sadewa yang meruwat Durga. Sementara Garudeya bercerita tentang pencarian Garuda dalam rangka menemukan amerta.

Lalu apa kaitan kisah-kisah di atas dengan penonjolan lingga? Adakah kisah-kisah Kamajaya mengajarkan sastra kepada Ratih atau keduanya bergelut mencipta kama-sastra. Namun, sastra bisa jadi sulit dipahami oleh mereka yang buta aksara. Karena itu, Candi Sukuh bisa juga untuk jujugan bagi mereka yang ingin tahu “rahasia” tanpa harus belajar sastra. Bisa jadi cocok untuk muda-mudi yang sedang kasmaran, meski bukan ajang untuk kemesuman, melainkan pendidikan yang berkait dengan asmaragama dan cinta.

Pada bulan-bulan ini konon para kawi mulai mempersiapkan kakawin. Sementara kini, masa orang melangsungkan pernikahan. Jadi, bolehlah mampir ke sana sambil berbulan madu. Menghayati cinta, mempelajari asmaragama.

Tehnya Enak Sekali

25 Oktober 2011

Suatu kali saya menulis di buku tamu yang ditaruh di tempat makan dekat asrama, “Tehnya enak sekali.” Rekan saya ternyata mengamati. Ketika saya mengambil teh di lain hari, ia menimpali.

Di mana sebetulnya letak enaknya teh? Apakah pada tehnya atau justru pada yang menikmatinya? Atau mungkin suasana yang kemudian membuat tehnya menjadi enak?

Menikmati Senja di Kraton Boko

2 September 2011

Jika Anda berkunjung di sekitar Prambanan, Yogyakarta, sempatkanlah untuk naik ke situs Kraton Boko [1];. Dari puncak perbukitan tempat situs ini berada, Anda dapat memandang ke utara melihat gugusan Candi Jonggrang yang indah dan Gunung Merapi yang megah.

Saya menyukai arealnya yang luas. Untuk tiba di gapura utama, dari tempat penjualan tiket, kita akan berjalan naik meniti sejumlah anak tangga. Dalam perjalanan itu, kita akan berjumpa dengan taman kecil di sisi kanan dan kolam buatan. Di sana kita bisa berhenti untuk sementara. Menikmati pemandangan sembari melepas kepenatan. Kalau Anda mau, namailah tempat ini Taman Rusa. Karena di dekat situ, ada kandang terbuka tempat beberapa ekor kijang yang jinak.

Menanti di depan adalah Gapura Utama. Gapura Utama yang pertama terdiri atas tiga pintu, sedangkan gapura di belakangnya lima pintu. Saya tidak mengerti mengapa jumlah pintunya demikian. Situs Ratu Boko sendiri konon pertama-tama dibangun sebagai wihara Buddha dengan nama Abhayagiri (Bukit Damai) sekitar 792 M. Puluhan tahun kemudian, sekitar 856 M tempat ini berganti menjadi kediaman Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu.

Dari papan keterangan yang dipasang oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, kita dapat memperoleh informasi bahwa situs Ratu Boko ditemukan kembali oleh Boeckholtz pada tahun 1790. Sementara itu, pencatatan atas peninggalan-peninggalannya dilakukan oleh Makenzic, Junghun, dan Brumund pada 1814.

Jika kebetulan Anda datang ke sana pada sore yang cerah, Anda dapat berjalan-jalan terus melalui gapura, menyeberang tanah lapang ke arah Paseban, menuju ke arah tenggara untuk melihat Pendapa. Dari sana Anda masih dapat melangkahkan kaki ke selatan, menengok miniatur candi. Di sebelah timurnya terhampar kolam-kolam bundar dan persegi. Anda dapat turun untuk sekadar menengoknya. Setelah itu, berjalanlah ke utara, lalu memutar turun ke timur menuju kompleks batur-batur bangunan keputren. Dari sini Anda bisa menikmati matahari senja yang turun di balik bangunan-bangunan di sebelah barat.

Puas berjalan-jalan, Anda dapat mengambil jalan pulang lewat sisi utara pendapa, terus ke barat. Sekarang, lewatlah di sisi bawah talud tinggi yang tadi kita lalui. Nanti, di ujung jalan kembali, Anda dapat mampir di Plaza Andrawina. Di sini Anda dapat duduk-duduk sebentar. Menikmati suguhan senja yang berganti malam. Sejauh mata memandang, saujana mata lampu-lampu dinyalakan. Candi Prambanan terlihat samar.

Apabila Anda singgah pada bulan puasa, minuman koktail dingin barangkali akan Anda jumpai di Plaza Andrawina. Tegukan jamuan ini niscaya amat menyegarkan.#


[1] Situs Ratu Boko tercatat dalam tentative list di http://whc.unesco.org/en/tentativelists/287/.


Menyimak Kembali Kebhinekaan dalam Sutasoma

23 Agustus 2011

Kita hafal bahwa kata-kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari buku Sutasoma karya Mpu Tantular. Meski begitu, sedikit yang tahu atau pernah membaca buah karya pujangga itu, yang darinya dilahirkan semboyan negara: berbeda-beda, tetapi tetap satu juga.

Mpu Tantular, penyair yang menuliskan kisah Sutasoma, menghadirkan karyanya sebagai persembahan kepada raja Wilwatikta (Majapahit), Sri Rajasa. Judul resmi yang dibubuhkannya adalah Purusadhasanta. Artinya, penaklukan Raja Purusadha.

Syahdan, demikian kata Sang Empunya cerita, Negara Hastina diperintah seorang raja bernama Sri Mahaketu. Sudah lama ia menantikan kelahiran seorang putra untuk mengatasi huru-hara yang tengah melanda dunia. Para perwira perang sudah berlaga dan para yogi juga telah berusaha, tetapi belum ada yang berhasil memadamkan huru-hara yang merembet bagaikan api Dewa Kala.

“Hanya Sang Putra,” nujum Munindra, kepala kaum bijak-cendekia, “yang akan mampu mengatasi lara itu semua.”

Masa itu digambarkan sebagai zaman Kali, zaman kegelapan. Tetapi pada masa itulah, Sutasoma, Sang Putra yang dinubuatkan sebagai pembebas dunia, lahir di marcapada. Para pemuka di bawah pimpinan Batara Sakra beserta para kinara menyambut kelahirannya. Semua bersorak, “Dialah Jina yang mengambil rupa sebagai manusia.”

Menurut naskah Kakawin Sutasoma [1] keonaran timbul di mana-mana lantaran banyaknya makhluk jahat dan raksasa. Mereka menyebar ke segala wilayah, memenuhi hutan-hutan Negara Ratnakandha.

Dengan beringas, para raksasa itu menyerang penduduk desa, merampas harta, bahkan melantakkan tempat tinggal. Kejadian ini begitu menghantui rakyat Hastina dan membuat khawatir para petapa.

Apakah demikian parah zaman Kali itu, sehingga hanya Hastina yang diharapkan bisa meluruskannya? Bagaimana sebetulnya gambaran Negara Ratnakandha, sampai-sampai rajanya diam saja kalau tahu negerinya didiami para raksasa? Cok Sawitri (2009) [2] membantu kita untuk memahaminya.

Ratnakandha, negara tetangga Hastina, sebetulnya dipimpin seorang raja bernama Jayantaka. Ia adalah pemuja Syiwa. Setelah naik takhta menggantikan ayahandanya yang mangkat, ia menetapkan dharma agama dan dharma negara. Ia bercita-cita menerapkan ketertiban dunia dan memulihkan kewibawaan negara. Guna mewujudkan hal itu, ia berkaul mempersembahkan 100 kepala raja kepada Kala.

Namun desas-desus menyebar cepat dan menggegerkan dunia. Orang hanya tahu Jayantaka berubah menjadi Purusadha, pelahap kepala raja.

Mpu Tantular membentangkan akhir kisahnya. Pertempuran tak terelakkan antara Ratnakandha dan Hastina. Jayantaka yang mendapat anugerah Dewa Rudra, beralih menjelma menjadi Kalagnirudra. Wajahnya demikian menakutkan hendak meleburkan buana. Mulutnya menganga siap melahap tiga dunia. Kegemparan menghinggapi para dewa. Brahma, Wisnu, Sakra, Baruna, Yama, Dhanendra, Kuwera, Gana, dan Kumara, mereka datang bersujud, memohon agar niat diurungkan. Para resi memanjatkan doa, melantunkan Weda.

Dan inilah bagian kata-kata yang kini termasyhur itu, rwaneka dhatu winuwus wara buddha wiswa, bhineki rakwa ring apan kena parwanosen, mangkang jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa. (Konon wujud Buddha dan Syiwa berbeda dan memang berbeda, tetapi bagaimana mengenali keduanya berbeda kalau hanya dalam selintas pandang? Karena kebenaran pada ajaran Buddha dan Syiwa sesungguhnya satu. Mereka memang berbeda, tetapi hakikatnya sama karena tidak ada kebenaran yang mendua.)

Kisah Sutasoma pada dasarnya mengajar kita untuk menghayati keragaman. Usaha Purusadha dalam Kalagnirudra dapat berdampak kehancuran. Sang Kala adalah Waktu. Ia adalah saksi seluruh kejadian di dunia. Tugasnya adalah melahap segalanya, tetapi juga menjaga segalanya sesuai masanya. Kemarahan yang berdaya rusak dan memusnahkan, semestinya juga dapat disalurkan dalam wujud cinta kasih yang memelihara ciptaan. Lewat pembacaan lagi kisah Sutasoma, semoga kita tercerahkan dan dapat memetik hikmah untuk menghargai keanekaan sebagai anugerah yang patut dirayakan.

Dirghayuh sira sang rumengsa tuwi sang mamaca manulisa (Semoga panjang umur semua yang mendengarkan, membaca, dan menyalinnya.)

Joko Widiyatmoko

Daftar Pustaka:

[1] Mastuti, Dwi Woro Retno dan Hastho Bramantyo. 2009. Kakawin Sutasoma Mpu Tantular. Jakarta: Komunitas Bambu.

[2] Sawitri, Cok. 2009. Sutasoma (Novel). Jakarta: Kaki Langit Kencana.

Jeda

11 Agustus 2011

Tempo hari saya berhenti di dekat sebuah warung kelontong kecil. Warung itu mengambil salah satu bilik di sisi rumah. Rumahnya bagus. Bertembok, bercat, berkeramik; baru selesai dibangun. Beberapa kemasan ukuran saset tampak bergelantungan di atas kotak etalase, menyemarakkan ruangan dengan beragam barang dagangan.

Seorang pembeli datang. Warga setempat. Datang dengan berjalan, beralas kaki sandal.

Ia berkata kepada penjaga warung. Mau membeli ini-itu. Penjaga warung keluar, membawakan gunting, lalu memotongkan satu dua kemasan saset yang bergelantungan.

“Adakah lagi yang kaupinta?”

“Cukuplah ini-itu dahulu. Kurasa aku sudah membeli apa-apa yang perlu.”

Pembeli itu menerima benda yang dipesannya. Berbincang sebentar dengan si penjual, mengulurkan uang, dan mungkin mengingatkan. “Kemarin aku masih punya sisa uang di tempatmu,” atau mungkin, “aku habis ini mau mencuci baju”.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mzm 90:12, LAI, TB)

Teknologi Pembuatan Hidroksiapatit

14 Februari 2011

Seorang pembaca memberikan komentar berikut dalam tulisan saya tentang hidroksiapatit. “Terima kasih info yang diberikan. Ada yang ingin saya ketahui, adakah cara dengan teknologi sederhana dapat membentuk hidroksiapatit untuk implan ortopedi?”

Pada dasarnya, dalam prarancangan pabrik, kita tentu perlu mencari proses yang paling sederhana. Namun berhubung produk yang dikehendaki ditujukan sebagai bahan implan, maka pengolahan dengan teknologi yang mungkin dipandang tidak sederhana akan perlu juga dilakukan. Proses dengan teknologi yang demikian utamanya dilakukan untuk memenuhi spesifikasi produk yang diinginkan. Menurut salah satu sumber, hidroksiapatit yang dipakai untuk kepentingan medis mengikuti standar ASTM F1185-03, sedangkan beta-trikalsium fosfat mengikuti standar ASTM F1088-04a.

Dalam penerapan medis, diketahui bahwa respons tubuh terhadap bahan implan yang berupa kelompok senyawa kalsium fosfat berhubungan dengan nisbah (rasio) Ca-P dan kristalinitas senyawanya. Oleh karena itu, pemilihan teknologi pembuatan hidroksiapatit perlu mempertimbangkan apakah produk yang dihasilkan dari teknologi itu paling mendekati spesifikasi yang dibutuhkan. Untuk bahan implan, spesifikasi hidroksiapatit yang dikehendaki adalah yang memiliki nisbah Ca-P sebesar 1,67 dan memiliki susunan kristal yang sama dengan yang hidroksiapatit pada tulang hewan/manusia.

George D. Winter (1982) dalam bukunya Biomaterials 1980 mengklasifikasikan bahan implan dan biomaterial berdasarkan interaksi bahan tersebut terhadap lingkungan biologisnya. Ia membaginya menjadi tiga golongan, yaitu biotoleran, bioinert, dan bioaktif. Bahan yang digolongkan bioaktif adalah bahan yang paling memiliki kecocokan dengan sifat-sifat biologis hewan/manusia, sedangkan bahan bioinert dan biotoleran berturut-turut adalah bahan yang semakin menunjukkan kekurangcocokkan. Namun yang menarik, jika yang menjadi pertimbangan pemilihan bahan adalah sifat-sifat mekaniknya, maka keunggulan pertama akan diduduki oleh bahan-bahan yang berada dalam kelompok biotoleran, kemudian diikuti berturut-turut oleh bahan-bahan yang berada dalam kelompok bioinert dan bioaktif.

Contoh bahan yang termasuk biotoleran antara lain adalah baja stainless dan paduan logam Cr-Co, bahan bioinert contohnya titanium dan keramik oksid (CaO·Al2O3, CaO·TiO2, dan CaO·ZrO2), sedangkan bahan bioaktif contohnya adalah hidroksiapatit, tetrakalsium fosfat, dan trikalsium fosfat.

Kandungan tulang pada vertebrata yang telah tumbuh dewasa sebagian besar memang tersusun atas hidroksiapatit. Senyawa ini memiliki susunan molekul teratur (kristal) dan menempati fibril-fibril kolagen. Keberadaan kolagen dapat diseumpamakan dengan cetakan yang menjadi wadah atau tempat tumbuhnya kristal hidroksiapatit. Menurut hasil difraksi sinar-x, teramati bahwa kandungan terbesar tulang vertebrata muda dan vertebrata dewasa ternyata berbeda. Pada tulang muda struktur kristal hidroksiapatit itu belum dijumpai. Artinya, tulang vertebrata yang masih belia sebagian besar terdiri atas bahan amorf (bahan yang molekulnya tidak dalam susunan kristal). Perubahan kemudian terjadi seiring dengan pertumbuhan vertebrata itu. Kandungan tulangnya berubah dari yang sebagian besar berupa bahan amorf ketika muda, menjadi sebagian besar berupa kristal hidroksiapatit ketika dewasa.

Dalam hal pembuatan hidroksiapatit sintetis, J. Czernuszka dari University of Oxford menyebutkan sejumlah cara. Metode-metode yang disampaikannya pada dasarnya dapat memperoleh hidroksiapatit dalam bentuk padat, kristalin, atau senyawa lain dengan nisbah Ca-P tertentu. Cara-cara itu dikenal sebagai metode basah (yakni reaksi kimia untuk mengendapkan padatan dari larutannya), metode kering (yakni dengan memanfaatkan perubahan fase senyawa padatan), dan reaksi hidrotermal untuk memperoleh kristal-kristal tunggal. Namun, dari berbagai metode itu, yang paling umum adalah pemerolehan padatan hidroksiapatit melalui pengendapan larutan bersuasana basa menurut reaksi kimia 10Ca2++6H2PO4-+14OH-→Ca10(PO4)6(OH)2.

Dalam proses basah, seperti diperlihatkan dengan persamaan reaksi kimia di atas, ion kalsium dapat diperoleh dari senyawa garam klorida atau nitrat, sedangkan ion fosfatnya dari garam potasium fosfat atau amonium fosfat. Secara umum, hidroksiapatit biasanya tidak serta merta langsung terbentuk, melainkan akan diawali dengan terbentuk serangkaian senyawa pendahulu seperti dikalsium fosfat dihidrat dan oktakalsium fosfat, atau mungkin senyawa kalsium fosfat amorf. Perubahan senyawa-senyawa itu untuk bisa menjadi hidroksiapatit “disetel” berdasarkan jumlah total konsentrasi ion kalsium dan ion fosfat, pH, dan suhu.

Sebagai contoh, pada konsentrasi ion kalsium dan fosfat sebesar 2,4 mM dan pH 7,4, fase awal yang terbentuk adalah dikalsium fosfat dihidrat (DKFD), kemudian menjadi oktakalsium fosfat (OKF), dan akhirnya hidroksiapatit. Perubahan DKFD ke OKF berlangsung selama 60 detik, sedangkan OKF ke hidroksiapatit dapat menghabiskan waktu 100 jam!

Contoh di atas memang tidak dipakai untuk skala komersial karena waktu tinggal (waktu pemeraman) yang cukup lama (hingga 100 jam). Czernuszka hanya ingin menunjukkan bahwa waktu pemeraman itu sebetulnya dapat diminimalkan. Caranya adalah dengan meningkatkan konsentrasi total ion kalsium dan fosfat serta meningkatkan pH-nya. Ia menyarankan pembuatan hidroksiapatit pada proses basah ini  menggunakan pH larutan pada kisaran 11-12 (bersifat basa) dan konsentrasi awal yang tinggi (0,1 M atau lebih besar). Dalam melakukan pengontakan bahan baku, proses pencampuran bahan baku diatur dengan menaruh larutan garam kalsium dalam bejana reaktor berpengaduk, sedangkan larutan garam fosfat ditambahkan sedikit demi sedikit. Selama penambahan tersebut, pengadukan perlu dijalankan untuk membantu meratakan konsentrasi di semua titik. Proses yang demikian dapat dikatakan semacam sistem reaktor semikontinu.

Nah, dari kontak kedua bahan baku itu terjadilah reaksi kimia yang membentuk hasil semacam gelatin atau slurry. Oleh karena itu, untuk memperoleh fase padat yang dikehendaki, maka setelah tahap reaksi kimia selesai, pengolahan produk biasanya masih harus dilakukan. Proses pengolahan lanjutan itu misalnya mengeringkan produk yang keluar dari reaktor, menyaring, mencuci ulang, dan mengeringkannya lagi. Mungkin bisa juga ada tambahan proses lanjutan lainnya jika produk hidroksiapatit harus memenuhi spesifikasi tertentu.

(Pada proses basah, keluaran produknya masih berupa bubuk. Oleh karena itu, jika ingin memanfaatkan produknya sebagai implan, partikel-partikel bubuk tersebut masih harus “disatukan” sehingga menjadi solid melalui proses sintering, yaitu pembakaran dengan suhu 1000-1300 derajat celsius. Sayangnya, proses sintering ini bisa menyebabkan tingkat kristalinitas hidroksiapatit menjadi semakin tinggi dan pori-pori yang terbentuk juga dapat semakin kecil. Dua hal ini kadang tidak diharapkan karena pertimbangan pentingnya biodegradasi implan di dalam tulang. Oleh karena itu, dalam teknik pembakaran ada yang mencampurkan batu kapur CaCO3 ke dalam hidroksiapatit dengan tujuan  memperoleh solid hidroksiapatit yang lebih berpori.)

Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan Anda.

 

Joko Widiyatmoko

Carica

21 September 2010

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?[1]

Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.[2]

Tempo hari pergi ke Wonosobo. Beli oleh-oleh Carica. Saya ingin tahu, apa itu. Teman seperjalanan berkata, itu makanan khas dari Wonosobo. Setahu saya, yang namanya berkaitan dengan makanan ya rica-rica bukan carica atau karika. Hanya kalau dia memang pernah beli carica, apa tidak aneh menyamakannya dengan rica-rica? Rasanya saya yang salah mengira itu rica-rica. Karena makanan yang dibicarakan itu pasti juga bukan rica-rica apalagi rica-rica babi.

Dan inilah carica yang dimaksud itu. Makanan khas berupa manisan, dikemas dalam sebuah stoples selai. Kata si penjual (ketika saya tanya), daging buahnya ya memang dari buah carica. Hanya saja saya lupa untuk mengejarnya dengan bertanya, “Pohonnya seperti apa?”

Warna daging buah dalam kemasan manisan ini adalah kuning. Kira-kira seperti warna daging buah nangka, tetapi tidak terlalu jingga saya rasa. Juga bisa saya katakan, warna daging buah dalam manisan ini seperti warna daging buah mangga, tetapi tidak juga terlalu jingga saya rasa.

Teksturnya…. Ini dari yang saya lihat pada sisi dalam daging buah manisan itu. Tampak pada daging buah tersebut ada seperti guratan ringan, mungkin seperti guratan serat pada buah waluh. Terlihat seperti guratan tembus pandang yang ada pada sisi dalam daging buahnya. Mengenai tebalnya, ketebalan daging ini hampir mirip dengan daging buah nangka.

Nah, sekarang tentang rasanya. Jika saya boleh menyamakan, maka rasa keseluruhan manisan carica ini serupa dengan rasa cocktail, yaitu minuman manis dengan daging buah-buahan. Namun secara khusus, kalau boleh saya menambahkan, saya juga merasakan ada semacam rasa menggelitik di lidah yang serupa dengan rasa yang kita dapatkan ketika kita memakan buah nenas. Akan tetapi secara umum, rasanya manis menyegarkan, tepat juga jika Anda memilihnya sebagai oleh-oleh makanan untuk handai tolan.


[1] Matius 7:16, LAI

[2] Lukas 6:44, LAI


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.