Misteri Prambanan, Benarkah Ia Dibangun sebagai Kuil Air Suci?

29 September 2009 oleh kisahbangsa

Berdiri megah di seberang Sungai Opak, Candi Prambanan menjadi saksi bisu jejak kemasyhuran masa lalu. Siapa pendirinya dan kapan mulai didirikan, jawaban pastinya masih berupa dugaan. Ibarat mau menambah-nambah berbagai wacana, Roy Jordaan menyodorkan “persoalan” baru. Katanya, candi yang tanggal berdirinya belum diketahui secara pasti akibat tidak adanya bukti prasasti ini, boleh jadi awalnya dirancang sebagai kuil air suci.

bukuPemaparan Crawfurd (1820) awalnya memberikan penanggalan untuk Candi Prambanan “tidak berasal dari zaman kuno yang sangat jauh”; perkiraannya sekitar abad ke-12 atau 13. Namun para pakar selanjutnya berpendapat bahwa candi yang terkenal juga dengan sebutan Candi Loro Jonggrang ini mulai dibangun sekitar paruh kedua abad ke-9 atau permulaan abad ke-10, yakni pada masa-masa berakhirnya kekuasaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Belakangan, berdasarkan terjemahan atas prasasti Jawa Kuno yang menyinggung tentang peresmian Sivagrha ‘Kediaman Siwa’, De Casparis (1956), seorang pakar epigrafi, mempertegas penanggalan pendirian menjadi 856 Masehi.

Saingan Borobudur?

Pemunduran penanggalan tentu saja membawa konsekuensi berupa gugatan atas teori yang menekankan pembangunan Loro Jonggrang sebagai saingan Candi Borobudur. Keberadaan Prambanan yang tidak jauh dengan kompleks candi-candi Buddhis semacam Sewu, Plaosan, dan Sojiwan, serta prasasti yang menyebutkan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang menikah dengan putri dari Wangsa Syailendra, tampaknya memperkuat sanggahan atas adanya pertikaian agama di antara kedua keluarga itu. Lewat buku yang disuntingnya, Memuji Prambanan, Roy Jordaan menawarkan gagasan dan pandangan mengenai kemungkinan lain.

Buku Memuji Prambanan pertama-tama hadir dalam edisi bahasa Inggris dengan judul In Praise of Prambanan: Dutch Essays on The Loro Jonggrang Temple Complex pada tahun 1996 di Leiden oleh KITLV Press. Roy Joordan yang bertindak sebagai editornya, membagi buku tersebut menjadi dua bagian. Pertama, ia menyajikan uraian panjang tentang Prambanan dalam suatu ulasan yang cukup terperinci. Dan kedua, ia memuatkan sejumlah tulisan para cendekiawan Belanda yang konon menjadi tertutup gara-gara publikasi tersebut masih dalam bahasa Belanda.

Mitos Lautan Susu

Sudah jamak bahwa banyak cendekiawan yang membahas dan menghubungkan arsitektur candi Prambanan dengan Gunung Meru, tempat tinggal para dewata. Stutterheim (1929) mengungkapkan bahwa gagasan Meru terungkap sangat jelas dalam Candi Loro Jonggrang. Di candi itu kita dapat menemukan relief tentang pohon surga dan singa di alas candi, para penyanyi, penari, dan pemusik kayangan di susuran tangga, para penjaga mata angin utama pada kaki bangunan candi, serta arca-arca para dewata yang ditempatkan pada relung-relung dan pada bagian dalam candi. Keseluruhan komposisi itu menyiratkan sebuah gunung para dewata.

GarudaWisnuBasReliefPenelitian terhadap karya sastra seperti Kakawin Ramayana secara nyata juga memperteguh pendapat tentang simbolisasi candi dengan Gunung Meru. Roy Jordaan menyebutkan bahwa terjemahan Poerbatjaraka (1932) atas teks Ramayana, menyediakan kisah tentang pembandingan candi dengan Gunung Mandara—gunung yang dalam banyak hal serupa dengan Gunung Meru—melalui laporan pandangan mata Hanuman.

Namun satu hal yang sangat menarik bagi Jordaan. Ketika mencermati karya sastra kuno tersebut, ia begitu tercengang dengan paparan cerita yang menekankan mitos Pengadukan Lautan Susu: Hanuman melihat, “Candi kristal itu sepadan dengan Gunung Mandara, halamannya seumpama Lautan Susu. Permata dan mutiara bagaikan buihnya; air dingin yang bening bak minuman para dewata (yang menyembul dari Lautan Susu yang diaduk).”

Roy Jordaan bertanya-tanya, apakah Candi Prambanan dirancang sebagai kuil air suci (holy water sanctuary)? Sejumlah bukti pemugaran yang berkaitan dengan halaman candi selama ini dalam sejarahnya sering mempersoalkan genangan air yang sulit mengering.

Roh Jagat

Deskripsi Krom (1923) menerangkan bahwa pagar-dalam yang memagari halaman candi-candi besar di Prambanan memang terlihat memiliki rancangan dinding yang kuat dan kokoh. Dinding itu oleh Jordaan dijadikannya bukti sebagai dinding tamwak (bendungan atau dam) yang mendukung hipotesisnya tentang Prambanan sebagai kuil air suci. Jordaan juga melihat bahwa prasasti Loro Jonggrang secara samar-samar menyinggung tentang perpindahan burung-burung dan lalu lintas para pedagang maupun pejabat desa yang datang untuk mandi karena meyakini perlindungan ajaib (siddhayatra) dan berkat (mahatisa) dari air di sana.

Sedikitnya jaladwara (talang air) sepertinya juga mempertontonkan bukti yang tidak menghendaki cepat berlalunya air dari halaman candi. Roy Jordaan pun membayangkan. Andai Loro Jonggrang dan Candi Sewu sungguh dirancang sebagai bagian dari suatu kompleks peribadatan berskala besar, niscaya seluruh kawasan itu merupakan “Tanah Suci” yang dipersembahkan kepada “Roh Jagat” (“Dia Yang Mutlak”) atau Parambrahma(n)—kata yang kelak di kemudian hari menjadi Prambanan.

Agaknya tidak berlebihan jika bukan hanya Prambanan yang perlu mendapat pujian. Kita pun patut memuji kegigihan penyunting yang sudah bersusah payah mengorek-ngorek tumpukan informasi yang nyaris tercampakkan. Roy Jordaan dengan kepiawaiannya telah berhasil mengangkat dan merangkaikan kembali sejumlah sumber menarik yang pernah ditulis para pakar tempo dulu yang pernah bergulat dengan batu-batu candi di perbatasan DIY-Jateng itu. Tidak menutup kemungkinan, riset-riset baru akan bermunculan untuk menguak lagi misteri Prambanan.

Joko Widiyatmoko

#Naskah pernah dikirimkan ke salah satu redaksi koran sebagai resensi buku, tetapi ditolak karena alasan redaksional. Namun begitu, terima kasih kepada mereka yang mengerjakan buku itu, terima kasih atas terjemahannya yang indah. Saya menyukainya.

Mungkin suatu kebetulan karena saat itu saya menemukannya di salah satu rak di perpustakaan.

Keris dalam Kebudayaan Indonesia dan Kekristenan

3 September 2009 oleh kisahbangsa

Judul di atas mungkin terlalu luas dan wah. Namun, itulah beberapa kata kunci yang ingin saya kemukakan dalam uraian tulisan saya ini. Pertama, persoalan keris sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Kedua, pergunjingan yang belakangan marak menyangkut klaim budaya oleh bangsa lain. Ketiga, peran kekristenan dalam pekabaran Injil yang bersangkut paut dengan kebudayaan dan hasil-hasilnya, semisal atas keris.

Keris bagi orang Jawa tentu bukanlah sesuatu yang asing. Benda ini biasanya menjadi pelengkap dalam pakaian adat dan turut dikenakan dalam upacara-upacara tertentu. Mungkin karena perannya dalam masa-masa dahulu, kisah-kisah berbau magis sering mengikuti kisah di belakang beberapa keris tertentu. Barangkali kisah yang paling terkenal adalah kisah tentang keris Mpu Gandring yang direbut oleh Ken Arok.

Kisah keris yang sempat mewarnai sejarah Kerajaan Singosari itu, barangkali bisa kita sepadankan sedikit dengan salah satu tongkat sihir paling hebat yang tampil dalam kisah Harry Potter[1]. Konon Albus Dumbledore, kepala sekolah di Hogwarts, adalah salah satu pemilik tongkat sihir paling masyhur, yang dalam “sejarah sihir” rekaan J.K. Rowling itu adalah tongkat sihir yang paling kondang yang tak terkalahkan. Karena hasrat orang untuk memilikinya supaya menjadi yang paling berkuasa, tongkat itu sering berpindah tangan meski kadang untuk bisa mendapatkannya harus melalui pertempuran.

Kisah-kisah buruk dan gelap jelas merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Meski begitu, Albus Dumbledore tampaknya tidak ingin melanjutkan bahwa tongkat sihirnya itu harus tampil lagi lewat suatu pertikaian. Dia berusaha “memperbaharuinya” dengan memberikan suatu konsep yang baru. Cara yang ditempuhnya ternyata tidaklah dengan menghancurkan tongkat itu, tetapi dengan menghadirkan ke dalamnya suatu “kebijaksanaan”.

Pembaharuan Konsep

Pembaharuan konsep atas karya-karya masa lalu dan memaknainya menurut kebijaksanaan masa kini mungkin adalah jalan keluar yang terbaik untuk menjembatani hilangnya mata rantai masa lalu dengan masa sekarang.

Pembaharuan konsep yang dilakukan oleh Dumbledore dan yang kemudian pelajarannya dipetik oleh Harry Potter perihal tongkat sihir yang hebat itu—yakni dengan tidak menghancurkannya—mungkin dapat disebut sebagai suatu jalan tengah atau toleransi atas kebudayaan masa lalu, semacam penghormatan atas karya agung para pendahulu. Namun, bagaimana jika hal-hal semacam ini kita bayangkan dalam dunia nyata kita dalam, misalnya, pekabaran Injil, pewartaan kabar sukacita?

Alkitab demikian luas berisi uraian kisah para nabi, raja, rasul, ataupun gembala yang dapat menjadi rujukan kita dalam kita bersikap atas kebudayaan dan hasil-hasilnya. Ada bagian di mana kita bisa melihat patung berhala dihancurkan, sebagaimana tampak pada kisah terkenal bangsa Israel dengan patung lembu emasnya. Patung itu adalah hasil budaya manusia, tetapi kemudian dihancurkan karena menyebabkan bangsa Israel berdosa (Kel 32:21).

Elia dan Elisa

Dalam kisah lain pada masa raja-raja Israel, Nabi Elisa yang merupakan penerus pelayanan Nabi Elia, tampaknya memiliki suatu “kebijaksanaan” yang berbeda dari pendahulunya itu. Nabi ini terkesan sebagai nabi yang lebih toleran dan tidak memperlihatkan suatu tindakan yang sekeras Nabi Elia. Kita bisa mengamatinya dengan menyimak percakapan Naaman dan Elisa sebagaimana tercatat dalam II Raja-Raja 5: 17–19. Berikut adalah petikan pembicaraan di antara keduanya.

[Naaman berkata:] “Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN. Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku [junjungan Naaman-red] masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu.”

Maka berkatalah Elisa kepadanya: “Pergilah dengan selamat!”

Jika kita mengingat sedikit urutan sejarah peristiwa di atas, maka semestinya pada masa itu kitab Taurat Musa menjadi dasar hukum bagi hidup beragama bangsa Israel atau setidaknya merupakan hukum yang diperjuangkan Nabi Elia. Oleh karena itu, jika kita menyimak isi pembicaraan yang tertulis di atas, Elisa tampaknya memang menunjukkan langkah-langkah pelayanan yang lebih moderat. Coba saja kita bandingkan dengan perintah dalam Keluaran 20:5 jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya yang besar kemungkinan menjadi dasar hukum yang diperjuangkan Elia kala sebelumnya.

Injil Yesus Kristus

Berabad-abad kemudian sesudah Elisa, pekabaran Injil sebagai warta sukacita di tanah yang sama, yakni Israel, dilakukan oleh Yesus Kristus. Dia yang disebut Imanuel memberikan corak pengajaran yang berbeda lagi. Orang-orang pada masa itu menduga-duga tentang diri-Nya. Ada yang mengatakan Dia adalah Elia, Yohanes Pembaptis, Yeremia[2], atau salah seorang dari para nabi[3]. Namun, manakala Yesus yang menanyakan hal itu kepada murid-murid-Nya, Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Dan Yesus menanggapi, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17)

Pertama-tama penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu di sini tentang jati diri Yesus. Dia adalah Mesias. Kitab Matius menceritakan bahwa Elia dan Musa terlihat bercakap-cakap dengan Yesus dalam suatu penampakan yang dilihat oleh Petrus (Matius 17:3-4). Oleh karena itu, rasanya tepat pula jika dalam konteks ini, kita pun tidak menempatkan atau menyamakan sosok Yesus itu sebagai sosok yang menurut kabar atau kata orang yang mengatakan bahwa Dia itu adalah Elia ataupun Musa. Dasar inilah yang hendak kita pakai untuk melihat bagaimanakah sikap atau tindakan Yesus terhadap kebudayaan dan hasil-hasil budaya manusia pada masa pelayanan-Nya.

Saya tertarik dengan mengawalinya melalui pembahasan atas pertanyaan murid-murid orang Farisi dan Herodian yang tertera dalam Matius 22:15-22. Orang Farisi, menurut kamus kecil Alkitab, adalah suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada Taurat Musa dan pada “adat istiadat nenek moyang”. Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak. Sementara itu, kaum Herodian adalah anggota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki keturunan Herodes Agung memerintah atas mereka dan bukan gubernur Romawi.

Pertanyaan yang diajukan kepada Yesus saat itu sangatlah sederhana, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Sebuah pertanyaan yang saya rasa sangat sepele, tetapi sebetulnya membawa konsekuensi yang sangat besar. Pertanyaan itu kelihatannya bisa diajukan oleh seorang murid secara begitu saja. Namun demikian, saya pikir pertanyaan itu maupun jawaban Yesus selanjutnya pastilah sangat termasyhur dan mengagumkan kita yang sering mendengar kisahnya.

“Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.”

Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?”

Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

(Matius 22:19-21)

Yesus dan Kebudayaan

Menyimak penggalan dialog di atas, tersirat bahwa Yesus juga memperlihatkan sikap-Nya atas kebudayaan. Dia, Sang Mesias, bersedia bertukar pikiran dengan masyarakat banyak. Dia tidak hanya mengungkapkan soal gagasan yang bersifat nalar, tetapi juga menyingkapkan suatu pemahaman. Bila kita berandai-andai Nabi Elia hadir pada waktu itu, mungkinkah nabi agung yang diangkat ke surga dalam kereta berapi itu akan memerintahkan untuk menghancurkan mata uang yang bergambar kaisar tersebut?

Orang Jawa dan kekristenan dengan keris yang jadi agemannya mungkin memiliki sejarah dan kisah yang tidak kalah pelik dengan masa pewartaan Injil dalam masa pelayanan Kristus di Israel. Pertanyaannya, apakah pewartaan kabar sukacita yang kita lakukan (atau oleh para penginjil) sepadan dengan yang dilakukan Kristus ataukah dengan Elia?

Ada sebuah tulisan karya Padmono Sk[4] yang sangat menggelitik. Dia menyebutkan di salah satu bagian tulisannya bahwa “Para penginjil yang berasal dari Barat [pada masa kolonialisme -red] menunjukkan sosoknya dengan berbagai perasaan yang penuh keunggulan (superioritas). Karena sifat penginjilan yang dipahami sebagai proses pengajaran seperti itu, maka tentu saja “yang mengajar” merasa lebih unggul dari “yang diajar”. Dalam penginjilan, konsep yang terkandung di dalamnya adalah penaklukan. Konsep itu memang tidak jauh berbeda dengan kolonialisme. Kalau dalam kolonialisme yang dilakukan adalah penaklukan secara politik, kalau dalam penginjilan yang dilakukan adalah penaklukan jiwa.

Dalam catatan kakinya Padmono juga menambahkan “Konsep penaklukan seperti itu juga masih merasuki sebagian besar umat Kristen bahkan yang terinstitusi dalam jaringan doa. Baca buku jaringan doa nasional yang berisi peta Indonesia lengkap dengan tuduhannya seperti “dalam kegelapan” dst.

Kekristenan dan Kebudayaan Jawa

Menurut Drs. Bambang Subandrijo, M.Th., M.A. dalam makalahnya berjudul Mengembangkan Kesenian Jawa dalam Institusi Kristiani (2006)[5], pada masa yang lalu—disadari atau tidak—para misionaris Barat telah menorehkan luka sejarah atas kehidupan jemaat dengan latar belakang kebudayaan Jawa. Mereka telah mengasingkan jemaat dari kebudayaannya sendiri.

Bagi Emde (pekabar Injil dari Jerman pada 1842), tulis Bambang Subandrijo (2006), baptisan berarti meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam “peradaban Kristen”. Dalam hal ini keberadaan jemaat sebagai orang Jawa dianggapnya sebagai kekafiran, sedangkan yang dimaksud dengan “peradaban Kristen” tidak lain adalah peradabannya sendiri sebagai orang Barat. Setelah dibaptiskan, anggota jemaat haruslah melepaskan dhesthar dan menggantikannya dengan topi; menggantikan bebed dan surjan dengan pantalon putih dan jas hitam; mengenakan sepatu sebagai alas kaki, yang sesungguhnya asing bagi orang Jawa waktu itu.

Bambang Subandrijo (2006) dalam makalahnya itu juga menyebutkan bahwa pekabaran Injil pada masa lalu di Jawa bahkan ada juga yang sampai dengan melengkapi peraturan yang nyaris mirip dengan Dasatitah ‘Sepuluh Perintah’. Peraturan itu tiga di antaranya menyebutkan bahwa orang Kristen Jawa tidak boleh mendengarkan gamelan, tidak boleh melihat pertunjukan wayang kulit, serta ketika dalam gedung gereja harus melepaskan ikat kepala.

Mulat Sarira

Nah, bagaimana dengan kita sekarang? Di awal makalahnya Bambang Subandrijo memang sudah lebih dahulu mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan Jawa dan kebudayaan. Salah satunya pertanyaan itu berbunyi, “Bolehkah umat Kristen menjalankan adat-istiadat dan berbagai bentuk kesenian yang mengiringinya?” Pertanyaan seperti ini barangkali gampang sekali diajukan bahkan mungkin segampang pertanyaan yang dilontarkan murid orang Farisi dan Kaum Herodian dalam Matius 22:19-21. Sekalipun begitu, saya kira kita akan sepakat bahwa jawaban untuk pertanyaan itu tentu membutuhkan pemahaman.

Lalu bagaimana jika kita berandai-andai lagi, yaitu misalkan dalam pewartaan Injil itu suatu “dogma” penginjilan semacam dasatitah di atas berhasil disebarkan bahwa hidup Kristen dalam masyarakat Jawa berarti tidak mendengarkan gamelan, tidak boleh menonton wayang kulit, dan menolak adanya keris, kira-kira apa jadinya?

Saya kira cukuplah itu sebagai berandai-andai saja. Sebab jika demikian halnya, mungkin itu artinya kita tidak harus peduli terhadap wayang, gamelan, dan keris yang menjadi buah karya para leluhur kita. Jika pada saat belakangan ini atau mungkin kelak di kemudian hari, hasil-hasil budaya itu diaku-aku oleh bangsa lain, mungkin orang Kristen dengan dogma penginjilan yang digambarkan seperti di ataslah yang pertama-tama terbebaskan dari perlu-tidaknya berkomentar soal kebudayaan. Namun, apakah itu adalah benar-benar langkah yang benar? Apakah tidak sebaliknya, kitalah yang justru harus mengoreksi diri (mulat sarira) dalam hal pekabaran Injil, kabar sukacita yang kita lakukan selama ini?


[1] Harry Potter Seri Ketujuh

[2] Lihat Lihat Matius 16:14

[3] Lihat Markus 8:27–28

[4] Dikutip dari salah satu tulisan dalam makalah berjudul “Mengembangkan Seni (Budaya–Jawa) dalam Peribadatan” oleh Padmono Sk. Disampaikan pada seminar budaya Jawa dalam rangka HUT GKJ ke 75 di Purworejo, 12 Mei 2006

[5] Makalah Drs. Bambang Subandrijo, M.Th., M.A. berjudul Mengembangkan Kesenian Jawa dalam Institusi Kristiani. Disampaikan dalam Seminar “Geliat Budaya Jawa antara yang Dipilah dan Dipilih”, diselenggarakan oleh Sinode GKJ dalam rangka Ulang Tahun ke-75 Sinode GKJ, Purworejo 12 Mei 2006

Madah Pujian

3 September 2009 oleh kisahbangsa

Terpujilah Dikau, yang pada permulaan telah menciptakan alam semesta, yang selanjutnya memelihara alam semesta, dan yang akan menampung alam semesta. Terpujilah Dikau yang berhakikat rangkap tiga.

Sama seperti air dari langit, yang memiliki cita rasa tunggal, lalu mengambil cita rasa lain dalam aneka jenis tanah, Engkau menerima berbagai penampakan berbeda dalam sifat-sifat dasar segala sesuatu, sementara itu Engkau sendiri tetap tidak berubah.

Engkau sendiri tidak dapat diukur, namun Engkau telah mengukur dunia. Engkau sendiri bebas dari segala keinginan, namun Engkau adalah pemenuh segala kebutuhan. Tak terkalahkan, Engkau adalah sang pemenang tanpa kecuali. Engkau sendiri tak tersingkapkan, namun Engkau adalah asal mula dari segala sesuatu yang disingkapkan.

Engkau sungguh-sungguh berdiam di dalam hati manusia namun jauh tak terjangkau. Engkau tak memiliki hasrat apa pun, namun sungguh-sungguh menyilih dosa-dosa. Penuh bela rasa, namun Engkau tak tersentuh oleh dukacita. Berada sejak dahulu kala, namun Engkau tak pernah tua.

Engkau mengetahui segala sesuatu, namun tidak diketahui. Engkau adalah asal mula segala sesuatu namun sungguh-sungguh berada dalam kesendirian. Engkau adalah penguasa segala sesuatu namun tidak diperintah oleh siapa pun. Engkau adalah esa namun sungguh-sungguh menjelma dalam semua bentuk.

##Madah pujian kepada Wisnu yang dikutip oleh J. PH. Vogel lewat tulisannya yang berjudul “Relief Rama Prambanan yang Pertama” dalam buku Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang, suntingan Roy Jordaan dan dialihbahasakan oleh Yosef Maria Florisan. 2009. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.

Serat Darmawirayat

18 Agustus 2009 oleh kisahbangsa

Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh seorang sahabat saya, “Apakah perlu kita berpuasa?” Bulan itu kalau tidak salah sudah masuk bulan Ruwah. Dalam kalender Jawa, terutama dalam masyarakat yang menganut agama Islam, bulan itu menjadi istimewa karena mengawali bulan puasa, bulan Ramadan yang sungguh dinantikan. Saya sebetulnya tidak bisa menjawab. Saya tidak memiliki pemahaman yang bisa saya utarakan. Dalam beberapa waktu berselang ini tampaknya saya tidak sedang dalam kondisi baik.

Sayangnya kemudian saya menjawab. Menjawab yang menurut saya menjawab dengan asal-asalan. Saya tidak menjawab ya atau tidak. Saya rasa itu sungguh memalukan.

Beberapa hari kemudian, masih dalam bulan Ruwah, saya membuka-buka sejumlah file yang ternyata file tersebut memuat suatu naskah penelitian dari suatu karya sastra pada masa lampau. Karya yang berasal dari sebuah kraton termuda di Yogyakarta, Pakualaman. Karya itu bernama Serat Darmawirayat.

Ada bagian yang menarik yang perlu saya sampaikan berkait dengan karya sastra tersebut Dalam hal ini sang peneliti, Dr. Alex Sudewa, membuat abstraksi yang salah satu bagiannya berisi kalimat-kalimat berikut. “Bertapa pada zaman sekarang berbeda dengan bertapa pada zaman dahulu. Dahulu hanya sekadar berbakti kepada dewa, sekarang bertapa melalui kerajinan bersekolah, membaca buku, dan melatih budi nurani.”

Kalimat-kalimat itu dengan inti yang sama pernah saya dengar dari Bapak saya. Saya kira, saya setuju dan melakoni itu. Di abstraksi penelitian oleh Alex Sudewa itu, saya menjumpai istilah dalam bahasa Jawa yang terdengar begitu indah untuk menggambarkan gaya bertapa dengan adanya perubahan zaman: tapa sajroning praja (bertapa di alam masyarakat ramai).

Demikianlah saya berusaha untuk merenungkan semuanya itu. Saya kagum bagaimana sahabat saya masih mengingat bulan Desember dan turunnya hujan kala saya selesai membuka sebuah karya dari negeri seberang yang disodorkannya, Jepang.

Pertanyaan itu seakan mengingatkan saya bagaimana saya telah berjalan menyimpang dan karena itu saya paham mengapa saya saat itu menjawab asal-asalan. Selama itu, terutama sebelum dan pada saat saya dihadapkan oleh pertanyaan di atas, juga beberapa waktu lalu sesudahnya yaitu sebelum saya menuliskan ini, saya sadari bahwa saya memang tengah bermain-main di tepi jurang.

Bacaan Serat Darmawirayat menghibur saya, lebih tepatnya mengingatkan saya. Kalau boleh, karya itu dapat saya maknai sebagai wejangan tentang darma. Paku Alam III yang adalah penciptanya, sebagaimana tertera dalam abstraksi Alex Sudewa, menuturkan lagi wejangan itu dan saya membaca terjemahan dalam bahasa Indonesianya dan saya merasakan sebagai terang yang bersinar.

Saya terharu. Saya tahu bahwa sekarang saya sendirian untuk melakukan berbagai pertimbangan. Menuruti hati nurani itulah panduan yang mengasah, yang menyodorkan pertimbangan dalam memberikan keputusan. Dahulu saya biasa bertanya kepada Bapak saya, tetapi sekarang tidak bisa lagi dalam bahasa yang terucapkan. Meskipun sejatinya saya sangat rindu ditemani. Saya tahu betapa menakutkan jurang itu karena menyadari berdiri di tepiannya pun sungguh sudah mengerikan.

Saya kira perlu di sini saya kutipkan, salah satu bait yang tertoreh dalam Serat Darmawirayat itu, bait 56. Saya berusaha memakai “terjemahan” sendiri (meski transliterasi tetap dari Pak Alex).

Nadyan tholé sira bisa nulis (Sekalipun engkau dapat menulis, Ananda)

Jawa Arab Mlayu sasaminya (Bahasa Jawa, Arab, Melayu, dan sebagainya)

gambar ngukur étung êntèk (Menguasai ilmu menggambar, teknik, dan berhitung)

lamun nalarmu cubluk (Namun, pemahamanmu sempit)

jalaran wit kurang nastiti (karena kurangnya perhatian)

nitèni layang-layang (mencermati tulisan-tulisan)

sadalêming buku (yang terdapat dalam buku)

êndi srat kang wus dipacak (tentang tulisan yang sudah dicetak)

wus tartamtu surasané maédahi (sudah tentu isinya mengandung manfaat)

tur gampang sinaonan (bahkan gampang dipelajari)

Dua bait Serat Darmawirayat selanjutnya berhubungan dalam pemilihan, mana yang baik dan mana yang buruk. Jika baik, dipakai; jika tidak baik, tak usahlah dipakai.

Akhirnya, apa hubungannya dengan pertanyaan sahabat saya itu? Perlukah kita berpuasa? Saya sekarang mantap menjawab, “Ya.”

The Lord of The Ring

3 Agustus 2009 oleh kisahbangsa

Ia berjalan kembali melalui jalan yang sama. Mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap bibirnya yang merah darah. Sekilas, suatu pantulan cahaya kuning keemasan memantul dari sela-sela jarinya. Cincin, pastilah logam itu yang telah memantulkan kembali cahaya dari luar. Ya, memang benar. Ia mengenakan cincin itu. Dia, Sang Penguasa Cincin, hendak berjalan lewat.

Menuju Awal Musim Semi 2008

Masa PraPaskah, 11 Maret 2008

Rute 2

24 Juli 2009 oleh kisahbangsa

Sebetulnya sudah beberapa waktu lamanya saya ingin menulis tentang cerita ini. Sebuah cerita perjalanan ke wilayah timur negeri kami. Wilayah “timur-dekat”. Maafkan saya jika saya menyebut daerah tempat tinggal saya sebagai suatu “negeri”. Namun, sepertinya saya menyukai bentukan kata itu. Rasa di telinga sepertinya juga menyenangkan. Dan yang tentu, saya jauh merasa bersemangat dengan menyebutnya sebagai suatu “negeri” karena kisah ini jadi terkesan sebagai suatu kisah kuno, kisah tentang dongeng-dongeng dan legenda-legenda: tentang masa-masa ketika semua bangsa masih merdeka.
**
Saya merenungkan kembali suatu tuturan mengenai kisah perjalanan PandanArang. Bupati Semarang, yang melepaskan kedudukannya dari jabatan tingginya karena ingin mengundurkan diri dari jabatan duniawi. Mereka, yakni PandanArang beserta istri, berjalan ke selatan dan timur melalui kota-kota (atau mungkin lebih tepat disebut desa) dan memaknai perjalanan itu sebagai suatu peziarahan hidup. Betul, gemanya samar-samar memang masih hidup karena saya merenungkannya pada masa ini. Puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun sesudah itu.
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan dirimu sekembaliku dari Ungaran. Aku tahu bahwa aku sedang turun di sebuah persimpangan. Dari utara aku baru saja pulang dari sebuah hajatan. Menyelesaikan tugasku menghadiri sebuah pesta pernikahan. Kini aku hendak pulang ke negeriku di selatan.”
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan istrimu yang sedikit-sedikit menoleh ke belakang. Dia menggandeng dirimu, tetapi dia juga menatap ke arahku. Ah, mungkin aku tampak gagah di atas kuda tungganganku.”
“Duh, PandanArang. Rupanya istrimu tidak sedang mengagumi diriku. Aku membaca rasa cemas terbayang di sorot matanya. Kedua bola mata itu seakan berkata, ‘Haruskah aku mengikut kakanda dan menjadi petapa meninggalkan gemerlapnya harta yang menyediakan kesukaan tiada tara?’”
“Pergilah Yunda.”
Aku turun dari kudaku, memungut sebuah kerikil emas yang aku yakin tercecer dari bekal yang dibawa Nyai PandanArang.
Matahari menggelincir di barat. Aku masih berdiri di samping kudaku. Sosok-sosok yang tadi kulihat itu sudah menghilang. Awan-awan naik ke gunung menyimpan gulungan mendung.
“Duh, PandanArang. Aku membayangkan dirimu sekembaliku dari Ungaran. Aku tahu bahwa aku sedang turun di sebuah persimpangan. Dari utara aku baru saja pulang dari sebuah hajatan, kini aku hendak pulang ke negeriku di selatan.”
Tiba-tiba emas di tanganku bercahaya.
Aku tersenyum.
Aku naik kembali ke atas kudaku dan berkata lantang kepadanya, “Ayo kita ikuti jejak mereka.”
**
Cerita tentang perjalanan Kyai PandanArang memang melegenda. Penunjukan nama-nama tempat yang menjadi persinggahan mereka memberikan arah kepada para pengelana tentang tujuan yang ingin dilewati, bergerak dari Semarang ke daerah selatan. Gema cerita itu memang samar-samar pada masa kini. Namun, jika orang mengingat kisah itu, nama-nama tempat yang muncul dapat memberi petunjuk ke mana harus melangkah melanjutkan perjalanan. Ungaran, Salatiga, Boyolali, Jatinom, Klaten. Legenda itu membantu orang dan bekerja seumpama peta yang membentangkan nama-nama kota.

Sekaten

21 April 2009 oleh kisahbangsa

Gangsa dalem gamelan Kyai Nagawilaga yasan Sultan Hamengkubowono I yang ditempatkan di pagongan utara dimainkan pada perayaan Sekaten 2009. Para penabuh gamelan yang masih muda tampak dilibatkan di sana.

Sophia

21 Maret 2009 oleh kisahbangsa

Sophia, Ibu Kebijaksanaan
Pemahaman Gender dalam Konteks Kristiani

Noveldastan“Tapi tahukah kau, lima belas ribu tahun—bahkan mungkin dua puluh lima atau tiga puluh ribu tahun sebelum Yahweh tersebut dalam Injil, Tuhan adalah seorang wanita. Sang Dewi Agung pada masa itu bukan sekadar bagian dari sekte pemuja kesuburan atau totem animistik. Ia diakui sebagai pencipta alam semesta dan pemberi napas kehidupan. Ini diakui di seluruh dunia.”
Demikianlah pendapat Thalia Yastrubinetsky, tokoh rekaan Lewis Perdue dalam novel Daughter of God yang diterbitkan oleh Dastan Books (Jakarta: 2006).

Lewis Perdue mengawali bukunya dengan sebuah epigraf yang diambilnya dari salah satu ayat dalam Kitab Mazmur. “Ajarkan kami menghitung hari-hari kami, agar kami mampu menjadikannya sebuah kebijaksanaan.” Mazmur 90:12. Tepat di bawahnya, ia menambahkan sebuah catatan. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia.

Sebagai seorang yang terbiasa dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, saya agak kurang sreg dengan terjemahan yang tercantum dalam novel itu. Rasa-rasanya ayat tersebut harusnya tidak berbunyi seperti itu. Saya merasa yakin sebab saya nyaris hafal dengan baik. Dan setelah saya mengecek kembali kepada Alkitab, buku yang terdiri atas sejumlah kitab dengan Kitab Mazmur yang turut ada juga di dalamnya, saya menemukan versi terjemahan yang seperti berikut (yang saya anggap benar): “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ternyata memang di antara keduanya ada perbedaan terjemahan. Namun, dari situlah kemudian ada hal yang bagi saya menarik. Bukan saja hal itu karena adanya tawaran fiksi Lewis Perdue yang mampu memancing orang untuk memikirkan ulang teks-teks kitab suci seiring dengan kita membaca novel ini, melainkan juga karena munculnya pemahaman baru dengan konteks pemaknaan ayat kitab suci itu sendiri.

Ahli Kitab dan Sophia
Suatu kali dalam kesempatan mencari makna kata melalui kamus bahasa Indonesia, saya menemukan suatu istilah “ahli kitab”. Istilah ini konon merujuk kepada umat Kristiani dan Yahudi yang mewarisi kitab-kitab dari para nabi. Kata “ahli” sendiri dalam makna yang umum pada masa sekarang merupakan suatu jabatan “tinggi”. Kedudukan yang sama artinya dengan “pakar”. Oleh karena itu, kalau kita kemudian iseng-iseng merangkaikan kata “ahli” dengan kata “kitab”, makna “ahli kitab” secara harfiah dapat menjadi “pakar kitab”. Sebuah arti yang istimewa. Meskipun begitu, di balik keistimewaan itu sebenarnya terdapat amanat dan tanggung jawab. Karena dengan berdalih menjabat sebagai “ahli kitab” seseorang pun bisa terpeleset menjadi “penyeleweng kitab”.

Berbekal dasar itu, saya lalu memberanikan diri untuk menerima untuk sementara waktu usulan terjemahan dari novel terbitan Dastan ini meskipun sebetulnya saya ingin mengatakan “terjemahan itu salah”. Akan tetapi, jika demikian, mungkin saya agak kesulitan dalam memahami alur kisah yang ada di dalamnya. Bukankah ada suatu sindiran mengenai suatu perbedaan antara orang bebal dengan orang bijaksana: orang bebal tidak mau menerima nasihat dari orang bijaksana; sebaliknya, orang bijaksana mau menerima nasihat sekalipun nasihat itu datangnya dari orang bebal?

Saya mengawali “penerimaan” saya dengan menduga-duga catatan di bawah epigraf itu. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia. Sebetulnya, siapakah Sophia itu? Mengapa penulis atau penerjemah novel mesti mencantumkan catatan ini dan perlu menyebut kata “Sophia”?

Dalam bagian akhir novelnya, Lewis Perdue memberikan catatannya tentang Sophia. Menurutnya, “Sampai hari ini, gereja Katolik dan kepercayaan lainnya—terutama gereja Kristen Yunani dan Ortodoks Rusia—masih kontradiktif tentang dongeng Sophia. Beberapa, terutama mereka yang mengikuti aliran Gnostik, menyatakan bahwa ia adalah ciptaan utama di seluruh jagat. Yang lain percaya padanya sebagai bagian dari sisi kewanitaan Tuhan. Dan masih ada yang meyakininya sebagai penjelmaan Kebijaksanaan atau bahkan Logos dari Trinitas Kristen sebelum mengalami maskulinitas. Tidak diragukan lagi bahwa bagi sebagian besar umat manusia, Tuhan dipandang sebagai perempuan.” (hlm.625)

Penjelasan yang diajukan Lewis Perdue ini tentu terasa menegangkan. Bagaimana Tuhan bisa dipandang sebagai sosok Sophia atau bergender perempuan?

Thalia Yastrubinetsky, salah satu tokoh yang muncul dalam karangan Lewis Perdue ini —yang boleh jadi juga merupakan representasi pikiran sang pengarangnya sendiri sebagaimana saya tampilkan di awal tulisan—secara terang-terangan menyebutkan bahwa Tuhan adalah seorang wanita!

Sudah tentu kita bisa berburuk sangka dan mengatakan bahwa di sini telah terjadi pelanggaran akidah. Namun, marilah kita tenang sebentar dan memberi kesempatan kepada hati untuk merenungkan. Jika kita mau bertanya untuk menelisik lebih jauh, sebetulnya siapakah yang mampu memahami Tuhan dengan sebenarnya? Apakah manusia yang adalah ciptaan dapat memandang dengan sempurna kepada Dia yang menciptakan? Kembali, Lewis Perdue menyampaikan alasannya, “Gereja Katolik tidak sendirian di antara agama-agama modern dalam ketakutan hinanya terhadap perempuan dan penolakan mereka menempatkan perempuan dalam peran-peran spiritual atau dominan.” (hlm.625)

Surah Amsal Nabi Sulaiman
Sophia dalam novel Daughter of God memang diakui oleh penulisnya sebagai rekaan. Namun maknanya sebagai “kebijaksanaan” rasanya memang dapat kita telusuri dalam tulisan-tulisan kitab suci. Sekali lagi Lewis Perdue berkata, “Baca saja Surah Amsal Nabi Sulaiman, di mana kebijaksanaan memang diakui sebagai milik kaum wanita.” (hlm.624)

Di sinilah saya tertantang untuk mencoba memahami “penerimaan” saya sendiri. Sebagai dasar dalam menyelidiki bahan-bahan yang berasal dari teks kitab suci, makna “ahli kitab” saya rasa boleh saya pakai. Saya mengawalinya dari Kitab Amsal 3:19 yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS). Di sana tertulis, “Dengan hikmat, TUHAN menciptakan bumi; dengan akal budi-Nya Ia membentangkan langit di tempat-Nya.”

Kata “hikmat” dalam bahasa Indonesia berpadanan dengan kata “kebijaksanaan”. Sampai sejauh itu, kita belum bisa menduga apakah “hikmat” atau “kebijaksanaan” itu bergender laki-laki atau perempuan. Namun, marilah kita menyimak Alkitab berbahasa Inggris—dalam perkara ini kita mendudukkan diri kita sebagai “ahli kitab”—kita akan menjumpai bahwa kata “hikmat” atau “kebijaksanaan” yang dalam bahasa Inggrisnya wisdom, ternyata memliki gender dan gender yang dipakai adalah perempuan!

Secara lebih jelas Alkitab versi Revised Standard (RSV) memberikan terjemahan Amsal Sulaiman dalam bahasa Inggris, Proverbs 3:13-15, sebagai berikut. “Happy is the man who finds wisdom, and the man who gets understanding, for the gain from it is better than gain from silver and its profit better than gold. She is more precious than jewels, and nothing you desire can compare with her.”

Tampak dalam kutipan di atas, kata “hikmat” (wisdom) secara jelas ditunjukkan dengan kata ganti she ‘dia perempuan’. Jadi, tak heranlah jika penulis novel Daughter of God itu memandang Tuhan Sang Pencipta sebagai Sang Dewi Agung.

Wacana ini sesungguhnya menyodorkan kepada kita suatu pendapat bahwasanya Tuhan (“kebijaksanaan” yang dimiliki Tuhan) semestinya bisa juga dihayati dari sisi “keperempuanan” (femininitas). Sekalipun begitu, dalam dunia keseharian kita rasanya kita acapkali lebih sering memandang Tuhan dari sisi “kelakian” (maskulinitas). Bahasa kita bahasa Indonesia memang sulit menguraikan hal ini. Namun di sisi lain—barangkali suatu kebetulan—bahasa Indonesia justru telah menampilkan kelebihannya dengan tidak membedakan Sophia (hikmat atau kebijaksanaan atau wisdom) itu dalam sekat-sekat gender. Suatu kebetulan yang mestinya dapat pula kita hayati bahwa bangsa Indonesia tidak membeda-bedakan gender. Jika kita menggali lebih dalam, tersiratlah juga bahwa bangsa Indonesia ternyata mengakui kesetaraan antara kelakian (maskulinitas) dan keperempuanan (femininitas) dalam kedudukan yang sama.

Dalam penggambaran dunia tentang kesatuan dan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan barangkali yang paling mendekati itu adalah konsep tentang pernikahan. Seorang Pengkhotbah merenungkannya seperti berikut. “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya. Pada malam yang dingin, dua orang yang tidur berdampingan dapat saling menghangatkan, tetapi bagaimana orang bisa menjadi hangat kalau sendirian?” (Pengkhotbah 4:9-11, BIS)

Demikian juga jika kita membaca ulang Amsal 3:13-15 berdasarkan versi bahasa Inggris itu, bukankah tulisan tersebut seolah tampak sebagai metafora kehidupan yang terlihat dalam konsep pernikahan? Seorang laki-laki (the man) memang sungguh berbahagia jika mendapatkan “wisdom” (kebijaksanan ‘dia sang perempuan’). Metafora itu sepertinya juga dijelaskan lagi dalam Amsal 31:10 (lanjutan “Surah Amsal” itu) untuk menjawab suatu pertanyaan tentang siapakah yang lebih berharga daripada permata. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.”

Kitab Amsal memberi petunjuk bahwa kebijaksanaan (Sophia) tidak bisa lepas dari sosok perempuan. Sayangnya, kita juga jarang menyadari hal itu karena semakin pudarnya pemahaman tentang kebijaksanaan. Mungkin, tanpa Sophia, “Ibu” Kebijaksanaan, kita hanya akan melangkah di tengah kegelapan.

J. Widiyatmoko

Naskah ditulis dalam rangka Lomba “Amazing Moms” di milis sekolah kehidupan

Orde Baru

4 Februari 2009 oleh kisahbangsa

Orde Baru, kata Sri Sultan dalam pidato pelantikan, bercita-cita menegakkan keadilan sesuai dengan ketentuan negara hukum: kekuasaan tunduk kepada hukum dan keadilan, golongan yang lemah dilindungi oleh hukum, setiap lembaga dan pejabat pemerintahan bekerja dengan jujur dan tertib, tunduk pada ketentuan yang berlaku dengan sah.

Sumber: Atmakusumah (Penyunting). 1982. Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX. Hlm. 3. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Rute 1

27 Oktober 2008 oleh kisahbangsa

Prapanca dalam buku Negarakertagama meliput perjalanan Hayam Wuruk di Jawa Timur. Sebuah kenangan tentang perjalanan raja di wilayahnya.

Perjalanan kemarin bagi saya mungkin merupakan perjalanan yang terpanjang dengan berkendara kuda. Dan mungkin adalah suatu kebetulan, perjalanan itu juga menjadi perjalanan mengelilingi Gunung Merapi. Gunung yang menjadi pusat perhatian raja yang duduk di singgasana di istana Jogja.

Saya berangkat dari rumah untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan di sebuah kota bernama Ungaran. Beberapa waktu silam, saya sudah pernah mencapai Muntilan. Dan Minggu itu mungkin saya akan meneruskannya, melampaui Magelang, dan naik ke arah Secang.

Namun, satu hari sebelumnya, sore-sore saya ragu. Mungkinkah saya akan tetap berangkat ke tujuan? Ada banyak pikiran yang kemudian melintas, tentang beberapa hal.

Tapi kemudian, saya pun membulatkan hati untuk tetap berangkat.

Pagi itu Bethara Surya sudah naik sepenggalah. Kira-kira pada pukul itulah saya kemudian melaju ke barat. Melewati jalan-jalan kampung yang masih wilayah Kalasan, lalu berbelok ke utara ke arah Bromonilan, lewat pohon beringin, terus ke utara dan sampai ke Ngemplak (?). Saya mencari-cari jalan ke barat ke arah Besi, tapi persimpangan itu sempat saya lewati karena saya keterusan memacu tunggangan ke utara.

Sepanjang perjalanan ke utara Bumi Utara Jogja itu, di sebelah kiri jalan tampak ada proyek pembuatan selokan. Sebagaimana jalan utama dekat kampung saya sebelah barat, proyek yang sama, sepertinya baru akan dimulai di daerah tersebut. Saluran irigasi memang diperlukan untuk mengairi sawah-sawah petani. Tetapi selain itu, proyek pembangunan ini setidaknya juga dapat membantu penduduk memperoleh pekerjaan. Para tukang-tukang batu dan mereka yang pekerjaannya di sektor ini.

Ujung jalan di Besi adalah jalan menuju Kaliurang. Jalan ini mungkin adalah jalan dahulu yang pernah saya lalui dengan berjalan kaki. Mungkin dahulu belum seramai ini, belum banyak toko-toko, tempat jualan di kiri kanan jalan.

Saya terus naik ke utara, melewati sebuah Pawiyatan Luhur di sisi kiri saya. Di sisi kanan ada Yakkum, dan ketika mendekati pasar di wilayah Pakem, sebuah rumah sakit bernama Panti Nugroho berdiri.

Saya akhirnya mencapai ujung jalan, persimpangan tempat saya ingin berbelok ke barat. Saya agak bingung dengan rambu di sekitar sini. Lampu lalu lintas ada di sisi kanan, tetapi kalau terus tidak memakai lampu itu.

Saya berbelok ke kiri, ke arah Turi. Di sisi selatan jalan di sana ada tempat makanan kuda. Di situlah saya berhenti, membeli cadangan asupan kuda dengan petugas mengucapkan, “Saking nol njih Pak. Sedasa.” Dan saya tersenyum dalam hati.

Di daerah Turi banyak tanaman salak. Yang terkenal di Sleman adalah salak pondoh. Salak ini konon memiliki rasa yang berbeda dengan salak bali.

Jalan alternatif ke Magelang melewati Turi berbelok-belok. Kadang saya merasa berada terlalu di sisi utara, atau malah terlalu ke selatan untuk bisa segera masuk daerah Tempel. Meskipun begitu, jalan di daerah ini terbilang bagus dan halus. Hanya tatkala mendekati ujung, ketika hendak memasuki Tempel, ada rambu lalu lintas yang meminta perhatian untuk mengambil jalan ke selatan, karena di jalan utama kabarnya tidak bisa dilalui karena ada proyek jembatan.

Tempel menjadi perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Ada jembatan raksasa di sana. Tempatnya begitu tinggi, demikianlah gambaran saya, mungkin laksana bangunan pada masa Raja-Raja Persia dan Media. Melewati jembatan itu, saya masuk ke wilayah Magelang.

Kota kecil di wilayah Magelang yang cukup terkenal adalah Muntilan. Dari sisi timur kota ini tampak sepi-sepi saja. Satu dua toko mulai terlihat. Tetapi ketika masuk terus, mulailah terasa keramaiannya sebagai pusat kota: ada pasar di sana, dan ada terminal bus di dekat ujung sebelah barat. Ada suatu kesan yang aneh, tentang manusia. Dari sepi yang seperti tidak ada kehidupan, berubah menjadi ramai dengan segala keragaman.

Magelang dari selatan juga mulai menampakkan perubahan. Meski ada beberapa yang perubahan tidak terlalu tampak, sebagaimana keramaian di dekat pabrik kertas. Kalau tidak salah, saya menyangka sudah sampai di tujuan dan turun di sekitar daerah ini pada masa yang sudah silam. Pasar hewan Minggu itu yang ada di sisi timur tampak ramai. Namun, saya tidak terlalu memperhatikan. Dahulu, ketika saya lewat, pasar sapi itu biasa sepi, mungkin tutup karena memang bukan hari pasarnya.

Saat tahun lalu saya melintas ke arah Magelang, saya agak terkejut dengan bangunan besar dekat seminari menengah. Bangunan baru yang terasa begitu asing. Dahulu sepertinya belum ada bangunan itu. Tahun lalu saya turun di depan New Armada. Masih pagi, sekitar jam 6. Jalan sudah cukup ramai. Saya mampir di sebuah warung di sekitar depannya, dan beli soto. Saya lapar, belum makan.

Magelang memang indah. Saya menyukainya.

Magelang ke utara, keramaiannya juga mirip Muntilan. Namun sebagai kota, Magelang memang terasa lebih besar daripada Muntilan. Kota yang menjadi tempat penangkapan Diponegoro ini, masih terasa sejuk meski terbatas pada daerah-daerah tertentu yang memiliki pepohonan seperti Bukit Tidar, atau daerah Magelang ke utara yang ke arah Secang.

**

Dengan revisi seperlunya tulisan ini dipublikasikan guna menyambung ke Rute 2. (3 Agustus 2009)