Gangsa dalem gamelan Kyai Nagawilaga yasan Sultan Hamengkubowono I yang ditempatkan di pagongan utara dimainkan pada perayaan Sekaten 2009. Para penabuh gamelan yang masih muda tampak dilibatkan di sana.
Sekaten
21 April 2009 by kisahbangsa21 Maret 2009 by kisahbangsa
Sophia, Ibu Kebijaksanaan
Pemahaman Gender dalam Konteks Kristiani
“Tapi tahukah kau, lima belas ribu tahun—bahkan mungkin dua puluh lima atau tiga puluh ribu tahun sebelum Yahweh tersebut dalam Injil, Tuhan adalah seorang wanita. Sang Dewi Agung pada masa itu bukan sekadar bagian dari sekte pemuja kesuburan atau totem animistik. Ia diakui sebagai pencipta alam semesta dan pemberi napas kehidupan. Ini diakui di seluruh dunia.”
Demikianlah pendapat Thalia Yastrubinetsky, tokoh rekaan Lewis Perdue dalam novel Daughter of God yang diterbitkan oleh Dastan Books (Jakarta: 2006).
Lewis Perdue mengawali bukunya dengan sebuah epigraf yang diambilnya dari salah satu ayat dalam Kitab Mazmur. “Ajarkan kami menghitung hari-hari kami, agar kami mampu menjadikannya sebuah kebijaksanaan.” Mazmur 90:12. Tepat di bawahnya, ia menambahkan sebuah catatan. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia.
Sebagai seorang yang terbiasa dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, saya agak kurang sreg dengan terjemahan yang tercantum dalam novel itu. Rasa-rasanya ayat tersebut harusnya tidak berbunyi seperti itu. Saya merasa yakin sebab saya nyaris hafal dengan baik. Dan setelah saya mengecek kembali kepada Alkitab, buku yang terdiri atas sejumlah kitab dengan Kitab Mazmur yang turut ada juga di dalamnya, saya menemukan versi terjemahan yang seperti berikut (yang saya anggap benar): “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ternyata memang di antara keduanya ada perbedaan terjemahan. Namun, dari situlah kemudian ada hal yang bagi saya menarik. Bukan saja hal itu karena adanya tawaran fiksi Lewis Perdue yang mampu memancing orang untuk memikirkan ulang teks-teks kitab suci seiring dengan kita membaca novel ini, melainkan juga karena munculnya pemahaman baru dengan konteks pemaknaan ayat kitab suci itu sendiri.
Ahli Kitab dan Sophia
Suatu kali dalam kesempatan mencari makna kata melalui kamus bahasa Indonesia, saya menemukan suatu istilah “ahli kitab”. Istilah ini konon merujuk kepada umat Kristiani dan Yahudi yang mewarisi kitab-kitab dari para nabi. Kata “ahli” sendiri dalam makna yang umum pada masa sekarang merupakan suatu jabatan “tinggi”. Kedudukan yang sama artinya dengan “pakar”. Oleh karena itu, kalau kita kemudian iseng-iseng merangkaikan kata “ahli” dengan kata “kitab”, makna “ahli kitab” secara harfiah dapat menjadi “pakar kitab”. Sebuah arti yang istimewa. Meskipun begitu, di balik keistimewaan itu sebenarnya terdapat amanat dan tanggung jawab. Karena dengan berdalih menjabat sebagai “ahli kitab” seseorang pun bisa terpeleset menjadi “penyeleweng kitab”.
Berbekal dasar itu, saya lalu memberanikan diri untuk menerima untuk sementara waktu usulan terjemahan dari novel terbitan Dastan ini meskipun sebetulnya saya ingin mengatakan “terjemahan itu salah”. Akan tetapi, jika demikian, mungkin saya agak kesulitan dalam memahami alur kisah yang ada di dalamnya. Bukankah ada suatu sindiran mengenai suatu perbedaan antara orang bebal dengan orang bijaksana: orang bebal tidak mau menerima nasihat dari orang bijaksana; sebaliknya, orang bijaksana mau menerima nasihat sekalipun nasihat itu datangnya dari orang bebal?
Saya mengawali “penerimaan” saya dengan menduga-duga catatan di bawah epigraf itu. Kata Yunani untuk kebijaksanaan adalah Sophia. Sebetulnya, siapakah Sophia itu? Mengapa penulis atau penerjemah novel mesti mencantumkan catatan ini dan perlu menyebut kata “Sophia”?
Dalam bagian akhir novelnya, Lewis Perdue memberikan catatannya tentang Sophia. Menurutnya, “Sampai hari ini, gereja Katolik dan kepercayaan lainnya—terutama gereja Kristen Yunani dan Ortodoks Rusia—masih kontradiktif tentang dongeng Sophia. Beberapa, terutama mereka yang mengikuti aliran Gnostik, menyatakan bahwa ia adalah ciptaan utama di seluruh jagat. Yang lain percaya padanya sebagai bagian dari sisi kewanitaan Tuhan. Dan masih ada yang meyakininya sebagai penjelmaan Kebijaksanaan atau bahkan Logos dari Trinitas Kristen sebelum mengalami maskulinitas. Tidak diragukan lagi bahwa bagi sebagian besar umat manusia, Tuhan dipandang sebagai perempuan.” (hlm.625)
Penjelasan yang diajukan Lewis Perdue ini tentu terasa menegangkan. Bagaimana Tuhan bisa dipandang sebagai sosok Sophia atau bergender perempuan?
Thalia Yastrubinetsky, salah satu tokoh yang muncul dalam karangan Lewis Perdue ini —yang boleh jadi juga merupakan representasi pikiran sang pengarangnya sendiri sebagaimana saya tampilkan di awal tulisan—secara terang-terangan menyebutkan bahwa Tuhan adalah seorang wanita!
Sudah tentu kita bisa berburuk sangka dan mengatakan bahwa di sini telah terjadi pelanggaran akidah. Namun, marilah kita tenang sebentar dan memberi kesempatan kepada hati untuk merenungkan. Jika kita mau bertanya untuk menelisik lebih jauh, sebetulnya siapakah yang mampu memahami Tuhan dengan sebenarnya? Apakah manusia yang adalah ciptaan dapat memandang dengan sempurna kepada Dia yang menciptakan? Kembali, Lewis Perdue menyampaikan alasannya, “Gereja Katolik tidak sendirian di antara agama-agama modern dalam ketakutan hinanya terhadap perempuan dan penolakan mereka menempatkan perempuan dalam peran-peran spiritual atau dominan.” (hlm.625)
Surah Amsal Nabi Sulaiman
Sophia dalam novel Daughter of God memang diakui oleh penulisnya sebagai rekaan. Namun maknanya sebagai “kebijaksanaan” rasanya memang dapat kita telusuri dalam tulisan-tulisan kitab suci. Sekali lagi Lewis Perdue berkata, “Baca saja Surah Amsal Nabi Sulaiman, di mana kebijaksanaan memang diakui sebagai milik kaum wanita.” (hlm.624)
Di sinilah saya tertantang untuk mencoba memahami “penerimaan” saya sendiri. Sebagai dasar dalam menyelidiki bahan-bahan yang berasal dari teks kitab suci, makna “ahli kitab” saya rasa boleh saya pakai. Saya mengawalinya dari Kitab Amsal 3:19 yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS). Di sana tertulis, “Dengan hikmat, TUHAN menciptakan bumi; dengan akal budi-Nya Ia membentangkan langit di tempat-Nya.”
Kata “hikmat” dalam bahasa Indonesia berpadanan dengan kata “kebijaksanaan”. Sampai sejauh itu, kita belum bisa menduga apakah “hikmat” atau “kebijaksanaan” itu bergender laki-laki atau perempuan. Namun, marilah kita menyimak Alkitab berbahasa Inggris—dalam perkara ini kita mendudukkan diri kita sebagai “ahli kitab”—kita akan menjumpai bahwa kata “hikmat” atau “kebijaksanaan” yang dalam bahasa Inggrisnya wisdom, ternyata memliki gender dan gender yang dipakai adalah perempuan!
Secara lebih jelas Alkitab versi Revised Standard (RSV) memberikan terjemahan Amsal Sulaiman dalam bahasa Inggris, Proverbs 3:13-15, sebagai berikut. “Happy is the man who finds wisdom, and the man who gets understanding, for the gain from it is better than gain from silver and its profit better than gold. She is more precious than jewels, and nothing you desire can compare with her.”
Tampak dalam kutipan di atas, kata “hikmat” (wisdom) secara jelas ditunjukkan dengan kata ganti she ‘dia perempuan’. Jadi, tak heranlah jika penulis novel Daughter of God itu memandang Tuhan Sang Pencipta sebagai Sang Dewi Agung.
Wacana ini sesungguhnya menyodorkan kepada kita suatu pendapat bahwasanya Tuhan (“kebijaksanaan” yang dimiliki Tuhan) semestinya bisa juga dihayati dari sisi “keperempuanan” (femininitas). Sekalipun begitu, dalam dunia keseharian kita rasanya kita acapkali lebih sering memandang Tuhan dari sisi “kelakian” (maskulinitas). Bahasa kita bahasa Indonesia memang sulit menguraikan hal ini. Namun di sisi lain—barangkali suatu kebetulan—bahasa Indonesia justru telah menampilkan kelebihannya dengan tidak membedakan Sophia (hikmat atau kebijaksanaan atau wisdom) itu dalam sekat-sekat gender. Suatu kebetulan yang mestinya dapat pula kita hayati bahwa bangsa Indonesia tidak membeda-bedakan gender. Jika kita menggali lebih dalam, tersiratlah juga bahwa bangsa Indonesia ternyata mengakui kesetaraan antara kelakian (maskulinitas) dan keperempuanan (femininitas) dalam kedudukan yang sama.
Dalam penggambaran dunia tentang kesatuan dan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan barangkali yang paling mendekati itu adalah konsep tentang pernikahan. Seorang Pengkhotbah merenungkannya seperti berikut. “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya. Pada malam yang dingin, dua orang yang tidur berdampingan dapat saling menghangatkan, tetapi bagaimana orang bisa menjadi hangat kalau sendirian?” (Pengkhotbah 4:9-11, BIS)
Demikian juga jika kita membaca ulang Amsal 3:13-15 berdasarkan versi bahasa Inggris itu, bukankah tulisan tersebut seolah tampak sebagai metafora kehidupan yang terlihat dalam konsep pernikahan? Seorang laki-laki (the man) memang sungguh berbahagia jika mendapatkan “wisdom” (kebijaksanan ‘dia sang perempuan’). Metafora itu sepertinya juga dijelaskan lagi dalam Amsal 31:10 (lanjutan “Surah Amsal” itu) untuk menjawab suatu pertanyaan tentang siapakah yang lebih berharga daripada permata. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.”
Kitab Amsal memberi petunjuk bahwa kebijaksanaan (Sophia) tidak bisa lepas dari sosok perempuan. Sayangnya, kita juga jarang menyadari hal itu karena semakin pudarnya pemahaman tentang kebijaksanaan. Mungkin, tanpa Sophia, “Ibu” Kebijaksanaan, kita hanya akan melangkah di tengah kegelapan.
J. Widiyatmoko
Naskah ditulis dalam rangka Lomba “Amazing Moms” di milis sekolah kehidupan
Adam dan Hawa
17 September 2008 by kisahbangsa“Aku bisa menggunakan pedang, aku juga bisa memanah.”
Tapi gadis itu malah tertawa. Matanya berbinar indah.
“Apa kau bisa membaca?” tanyanya.
Ia mendekat, lalu memperlihatkan lontar yang dibawanya.
“Di sini hanya ada kita. Di bawah pohon Surga. Tidakkah kau tahu mengapa?”
Aku diam. Wajahnya mendekati wajahku. Aku bisa mendengarkan suara halus napasnya. “Kita bisa segera menuju Surga. Di sinilah letak tangga langit itu. Tempat bumi dan langit saling bertemu. Aku baru saja membacanya, tapi aku perlu dirimu.”
Engkau pun mulai melepas semua pakaianku. Aku pun mulai melihat engkau memelorotkan seluruh kain di tubuhmu. Tidakkah engkau malu? Tidak, katamu. Karena aku pun juga tidak. Aku mau, karena engkau menarik hatiku.
“Inilah Surga. Biarkan kutunjukkan itu kepadamu.”
Jemarinya mengait dalam jemariku. Raganya bersatu dengan ragaku. Desahnya adalah desah napasku. Sukmaku terbang bersamanya naik ke Surga ke Tujuh.
“Inilah Surga. Kutunjukkan ini kepadamu. Pengetahuan baru sebagaimana janji yang kuutarakan kepadamu.”
“Tahukah engkau?” bisikmu dalam dekapku. “Dewa iri kepadamu karena aku memberimu buah pengetahuan baru.”
“Tahukah juga engkau?” bisikmu merapat menumpahkan segala hasrat. “Sebentar lagi kita akan menjadi pencipta, sama seperti Dewa.”
Aku tertidur dan bermimpi: tulang rusukku yang hilang kutemukan lagi.
17/09/08
**
Perkataan Agur bin Yake dari Masa. Tutur kata orang itu: Aku berlelah-lelah, ya Allah, aku berlelah-lelah, sampai habis tenagaku. Sebab aku ini lebih bodoh daripada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku. (Amsal 30:1, 2; TB-LAI)
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. (Kejadian 3:20, TB-LAI)
Merapi
25 Agustus 2008 by kisahbangsaRupanya lampu listrik di desa kami padam menjelang subuh tadi. Karena itu aku bermimpi. Bermimpi tentang meletusnya gunung merapi yang memuntahkan lahar dalam percikan bunga api. Suatu gedung bertingkat rontok; orang-orang berlarian; kali-kali dan jurang-jurang terisi lahar. Magelang luluh lantak laksana digelangi oleh api. Dalam suatu desa yang di seberangnya ada cekungan seperti kali, mengalirlah lahar api dengan cepat, memukul beting, dan membentuk percikan yang terus melompat ke arah kerumunan orang yang berjaga-jaga. Di situ di antaranya ada aku. Kami mundur berlari menjauh, tetapi percikan itu sempat mengenai tangan orang. Aku membayangkan panasnya tentu teramat tinggi.
Gelap gulita ketika mataku tiba-tiba terbuka. Ada nyala api di lantai bergoyang-goyang diterpa angin pagi. Ada apa ini? Rupanya listrik mati, kakakku menyalakan api, dan aku baru saja terjaga dari mimpi.
25/08/08
Poem
Benarkah Begitu Bu?
20 Agustus 2008 by kisahbangsaSuatu kali seorang ibu baru saja pulang menjemput anak-anak dari sekolah dengan mengendarai BMW. Ibu itu menjadi sopirnya, anak yang bungsu yang baru masuk TK duduk di sebelahnya, sementara sang kakak duduk di bangku belakang. Tiba-tiba ketika sampai di sebuah traffic light dan lampunya merah, anak yang paling kecil berbicara kepadanya.
“Ibu, kenapa anak-anak itu tidak sekolah?”
Dari belakang stir, si Ibu melihat kepada sekerumunan anak yang tengah meminta-minta yang ditunjukkan oleh anak di sampingnya.
“Karena mereka tidak punya uang buat sekolah, anakku.”
“Kasihan sekali. Tapi kenapa orang tuanya sampai hati?”
“Karena mereka tidak punya harta,” celutuk kakaknya dari bangku belakang. “Bukankah ada tertulis di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Karena mereka tidak punya harta, ya mereka pun tidak punya hati.”
”Benarkah begitu Ibu?”
Si Ibu tertawa. ”Nanti kita tanya kepada ayah kalian. Ayah kalian tidak punya harta waktu menikahi Ibu….”
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. (Amsal 31:25, 26; TB LAI)
Catatan 3 dan 4: 2 Juli 2007, dua paragraf terakhir ditambahkan 20 Agustus 2008
Pohon Tumbang
16 Agustus 2008 by kisahbangsaPohon itu kabarnya tumbang dan menimpa seorang anak muda hingga mati. Kabar yang segera melintas sawah-sawah dan bergaung hingga pojok-pojok desa.
Pohon itu masih tergeletak di tepi jalan, di sisi timur, dengan sebagian akarnya masih terbenam di tanah. Pohon itu memang sudah dipangkas. Sebagian batangnya sudah dipotong. Mungkin sekadar supaya tidak melintang di jalan. Padahal kalau mau dipakai sebagai persediaan kayu bakar, kayunya lumayan besar. Tapi mungkin orang tidak berani memakainya.
Pohon itu sudah lama rubuh, tetapi kini daun-daunnya bersemi lagi.
Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? (Ayub 14:7-10, TB-LAI)
Dia Sudah Punya Anak
14 Agustus 2008 by kisahbangsa“Dia sudah punya anak. Padahal baru bulan Oktober kemarin dia menikah,” katamu.
“Punya anak bagaimana?” tanyaku agak terkejut.
Oktober, November. Sekarang bulan November.
“Dokter bilang,” lanjutmu lagi, “istrinya sudah hamil.”
“Oh, kukira…,” gumamku.
“Barangkali malam itu…,” aku menatap wajahmu lekat-lekat. “Dia langsung melakukannya.”
Dan pikirku, aku pun ingin sekali melakukannya padamu.
Allah menentukan waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari,
waktu untuk bersenggama dan waktu untuk pantang senggama, waktu untuk memeluk dan waktu untuk menahan diri.
(Pengkhotbah 3:4-5, Alkitab dalam bahasa Indonesia Sehari-hari)
Khoikhoi dan San
14 Agustus 2008 by kisahbangsaTersebutlah seribu tahun silam dua suku bangsa yang mendiami wilayah barat yang kini dikenal sebagai Afrika Selatan. Dua bangsa itu adalah Khoikhoi dan San. Sekitar enam ratus tahun berselang bangkitlah Xhosa, raja dari suku Nguni dan berkuasa atas wilayah tenggara yang kemudian disebut Kerajaan Transkei. Kerajaan itu terus berkembang sementara bersamaan dengan itu orang-orang Eropa mulai merambah ke dekat wilayah mereka. Orang-orang Eropa membentuk koloni di kota yang kini dikenal sebagai Cape Town. Kelak, pada abad ke-19, kekuatan baru yang datang dari Eropa ini menghancurkan rakyat Xhosa.
Sekitar tahun 1650-an orang-orang Belanda mempekerjakan orang-orang Asia dan orang-orang bagian lain Afrika sebagai budak di Cape Colony. Saat itu rakyat Khoikhoi tidak pernah menjadi budak karena perdagangan ternak mereka sangat berharga bagi Dutch East India Company. Namun, lambat laun ternak suku Khoikhoi mulai berkurang dan tanah-tanah penggembalaan mereka semakin sempit. Akhirnya, rakyat Khoikhoi pun menjadi tenaga buruh pada majikan-majikan petani Belanda.
Ada dua peperangan meletus ketika orang-orang Belanda memperluas wilayah pendudukan mereka. Peperangan pertama terjadi dari tahun 1659 sampai 1660 yang diawali oleh suku Khoikhoi, kemudian peperangan kedua berlangsung lagi dari tahun 1673 sampai 1677 yang diawali oleh orang-orang Belanda. Dari kedua pertikaian itu, yang muncul sebagai pemenang adalah orang-orang Belanda. Kemudian, pada tahun 1713 merebaklah wabah penyakit cacar, dimulai dari Cape Town lalu menyebar ke pedalaman sekitar. Banyak suku Khoikhoi yang mati. Sebagian yang masih hidup kemudian mengungsi ke negeri-negeri Utara, sedangkan yang lain, memilih bertahan dan selanjutnya menikah dengan orang-orang Asia ataupun orang-orang kulit putih yang kelak menurunkan generasi baru yang disebut Kaum Campuran.
Sementara itu, bangsa San masih menyintas sekalipun juga mulai tersisih dalam kancah kemasyarakatan. Tidak seperti masa-masa sebelumnya, kini mereka semakin sulit dengan cara hidup berburu. Sebagai jalan pintas, mereka pun mengalihkan buruan dengan menyerang ternak piaraan. Bangsa Eropa nyaris melenyapkan semua laki-laki suku San dan mengambil perempuan dan anak-anaknya sebagai tenaga rodi. Sebagian suku San meloloskan diri dan mengungsi ke Utara ke negeri yang kini kita kenal sebagai Namibia dan Botswana.
Disadur dari: http://encarta.msn.com/encyclopedia_761560550/Cape_Province.html
Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?
Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?
Penggalan nyanyian. Mazmur Kaum Korah (Mazmur 88, TB). Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi.
